Kemenangan Obama bagai epidemi yang cepat menjalar. Tak terkecuali di Indonesia. Obama yang saat kecilnya pernah mengecap kehidupan di Indonesia selama 5 tahun kerap digembar-gemborkan oleh media di tanah air.
Bahkan, tidak sedikit tokoh nasional yang mengharapkan pemerintahan Obama nanti berdampak positif bagi Indonesia. Namun, setidaknya ada tiga hal penting dari awal kemenangan Obama yang perlu mendapat catatan penting bagi politik di Indonesia:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, kemenangan minoritas kaum kulit hitam di Negeri Paman Sam. Sudah menjadi rahasia umum bahwa syarat dasar menjadi Presiden AS adalah WASP yaitu, White, Anglo Saxon, dan Protestan. Dalam sejarah AS, presiden selalu diisi oleh orang kulit putih. Sejarah baru telah ditorehkan oleh Obama yang menjadi Prsiden kulit hitam pertama di AS.
Bagi Indonesia, konteksnya dapat dikonstruksi menjadi Jawa dan Non Jawa. Inilah inspirasi Obama yang sulit diwujudkan di Indonesia. Di masyarakat sudah lama terbentuk opini umum. Bahkan, sudah menjadi mitos.
Orang Jawalah yang pantas menjadi Presiden di Indonesia. Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, Megawati, dan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), menjadi bukti figur orang Jawa yang berhasil mencapai posisi sebagai orang nomor satu di negeri ini. Hanya Habibie, orang luar Jawa yang dapat menjadi Presiden RI. Itu pun lantaran kecelakaan politik saat reformasi 1998.
Memang, bagi masyarakat Indonesia orang Jawa paling piawai dalam berpolitik. Dalam berpolitik orang Jawa cukup licin dan pandai memanfaatkan kesempatan. Sikapnya yang sabar dan perilakunya yang santun mudah memikat hati. Simpati publik pun mudah diraih.
Perilaku politik orang Jawa yang oportunis dikupas cukup dalam oleh Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Arok Dedes". Di bawah alam sadar masyarakat Jawa selalu terkenang kejayaan Majapahit di abad 13 hingga abad 15 Masehi. Saat itu Majapahit menguasai Nusantara bahkan hingga Thailand dan Filipina. Kejayaan Majapahit selalu menginspirasi orang Jawa untuk memiliki peran cukup kuat di negeri ini. Tak heran terbentuk mitos presiden Jawa.
Mitos dapat diartikan sebagai konotasi yang mengental mengenai suatu simbol. Proses pengentalan ini memakan waktu cukup lama (Benny Hoed, wawancara Kompas 2 November 2008). Mitos presiden Jawa di Indonesia sudah mengakar. Bahkan, menjadi dasar kalkulasi politik.
Dalam satu kesempatan Yusril Ihza Mahendra mengaku pernah diingatkan Yusuf Kalla agar tidak maju sebagai calon presiden. Kalla berkeyakinan hanya orang Jawa yang bisa menjadi presiden di Indonesia. Tak heran, Rapimnas Golkar IV Oktober kemarin tidak menyodorkan Capres. Padahal banyak kantong-kantong suara Golkar di daerah yang menginginkan Kalla maju sebagai Capres di 2009. Hingga kini, Kalla belum menyatakan keberaniannya untuk menjadi Capres.
Dari beberapa polling hanya dua figur yang muncul sebagai calon kuat Presiden RI yaitu Mega dan SBY. Sementara itu, UU Pilres yang baru disahkan DPR membatasi banyaknya Capres dengan mensyaratkan calon yang maju harus didukung 20% anggota parlemen.
Alhasil, tidak banyak calon yang akan bertarung di Pilpres 2009. Diprediksi calon ketiga akan muncul yang akan diperebutkan oleh Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subianto, dan Wiranto. Presiden tahun depan kemungkinan besar adalah orang Jawa lagi. Sepertinya mitos presiden Jawa masih berlaku di Indonesia untuk beberapa tahun ke depan.
Ketiga, perubahan. Obama selalu menjanjikan ke rakyat AS untuk mewujudkan perubahan. Change. Itulah mottonya setiap berpidato di depan publik.
Bagi Indonesia, entah Jawa atau non-Jawa, yang terpenting adalah presiden baru harus dapat membuat perubahan yang membawa bangsa ini jauh lebih baik. Terutama di sektor ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dapatkah Presiden RI hasil Pemilu 2009 membawa angin perubahan?
Change
We can believe in
Beta Perkasa
Kavling Rambutan No 46 RT 2/3
Kecamatan Ciracas Jakarta
b_perkasaugm@yahoo.com
081905872524
(msh/msh)











































