Apakah Pemerintah Peka

Apakah Pemerintah Peka

- detikNews
Selasa, 11 Nov 2008 08:51 WIB
Apakah Pemerintah Peka
Jakarta - Kalau melihat sisi kehidupan masyarakat kita sekarang ini rupanya hidup enak bagi sebagian rakyat hanya sebatas mimpi yang hanya ada dalam angan-angan. Betapa tidak? Uang hasil jerih payah banting tulang rakyat seolah-olah hanya untuk mengganjal perut ketika lapar. Itu sudah syukur alhamdulillah begitu.

Kehidupan rakyat hari semakin hari semakin susah saja. Ini bisa dilihat pemberitaan-pemberitaan di media yang menunjukkan bahwa masyarakat semakin sulit kehidupannya. Salah satu indikasinya adalah dengan banyak orang yang bunuh diri gara-gara tidak bisa menghidupi keluarganya. Antre minyak di mana-mana.

Bahkan, yang saya tahu di desa saya banyak penduduk yang kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak. Tidak hanya orang miskin saja. Tetapi, orang yang kelihatannya kaya juga sudah beralih ke kayu bakar karena minyak tanah susah. Atau kalau ada pun harganya mahal dan masyarakat sudah tidak mampu membelinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalau menurut data Jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini versi pemerintah adalah 39,05 juta jiwa (17,75%). Tetapi, jika dihitung menurut garis kemiskinan versi Bank Dunia, yaitu orang yang berpenghasilan di bawah Rp 18 ribu per kapita per hari, maka jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini mencapai 109 juta jiwa (49,5%).

Di dalamnya terdapat sekitar 12 juta jiwa pengangguran terbuka dan 30 juta jiwa setengah pengangguran (kerja enggak ngangur juga enggak). Dua indikator tersebut, tingkat kemiskinan dan pengangguran, sudah cukup menggambarkan tingkat ekonomi yang rendah. Atau bisa dikatakan parah dari bangsa kita sekarang ini.

Dari dua data tersebut di atas, maaf kalau saya lebih percaya dengan data versi Bank dunia, karena versi Bank Dunia lebih aman karena tidak dipengaruhi politik, tetapi biasanya versi pemerintah (bukan bermaksud buruk sangka) lebih banyak dipengaruhi oleh politik. Agar supaya dikatakan berhasil dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sehingga, diharapkan akan terpilih kembali nantinya. Angka 109 juta jiwa bukanlah angka yang sedikit. Itu artinya hampir setengah dari penduduk Indonesia.

Kembali lagi ke permasalahan ekonomi rakyat tidak bisa dipungkiri naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) yang baru-baru ini semakin memperburuk kondisi 109 juta rakyat miskin di Indonesia. Sebelum naik kondisinya saja sudah susah. Apalagi naik?

Nah, pertanyaannya apakah pemerintah peka dengan kehidupan rakyatnya saat ini?Kalau alasan menaikkan BBM karena Subsidi BBM untuk rakyat membebani pemerintah terus untuk apa ada pemerintah kalau tidak mau dibebani oleh rakyatnya?

Toh Subsidi juga dari uang pajak rakyat. Bukankah Subsidi adalah hak rakyat? Gunanya rakyat milih penguasa ya untuk membantu rakyat. Biar kehidupannya semakin baik. Bukan memilih penguasa malah membebani dan menyusahkan rakyat. Jadi kalau nantinya banyak yang golput jangan salahkan rakyat.

Kalau rakyat disuruh sabar mungkin rakyat sudah terlalu sabar. Tapi, yang jadi pertanyaan adakah niat dari para penguasa negeri ini dengan tulus ikhlas ingin membahagiakan rakyatnya? Ini menjadi PR yang harus dilakukan oleh Pemerintah. Kalau masih mau diakui pemerintah oleh rakyat. Kita tunggu hasil pemilu (pemilihan umum) 2009.

Muhammad Ghufron
Pondok Labu Klompangan Ajung Jember
cakfron@gmail.com
087838211671

(msh/msh)



Berita Terkait