Antara AS, Iran, dan Indonesia

Antara AS, Iran, dan Indonesia

- detikNews
Senin, 10 Nov 2008 17:04 WIB
Antara AS, Iran, dan Indonesia
Jakarta - Sejak munculnya Barack Obama, Presiden Amerika Serikat (AS) yang baru terpilih untuk periode 2009 - 2013 dari Partai Demokrat membuat pamor George W Bush semakin redup. Bahkan, klimaksnya saat menjelang detik akhir pemungutan suara (4/11/2008). Kandidat Presiden dari Partai Republik John McCain secara lugas menyebut dirinya Maverick, orang yang lain dari partainya sendiri dan berbeda dengan Bush.

Kebijakan dan perangai Bush telah benar-benar membuat publik AS kecewa dan ditinggalkan publik. Keadaan ekonomi yang buruk, krisis Irak yang mengecewakan warga AS, kroniisme yang dilakukan Bush di Gedung Putih, serta serangkaian invansi ke berbagai negara dengan dalih menumpas terorisme menjadi bumerang dirinya. "Bush tidak lagi menjadi Lameduck, Bush adalah orang yang paling loyo sekarang ini," ujar Profesor Carole Simpson.

Namun, tak banyak pemimpin belahan dunia yang berani menyanggah Bush, meski secara teori melanggar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) yang dicetuskan sejak 10 Desember 1948.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mohmoud Ahmadinejaad, Presiden Iran, adalah sosok penentang utama Bush (selain Presiden Venezuela, Hugo Chavez, dan penentang hingga akhir hayat Presiden Irak, Saddam Husein). Pernyataan, ungkapan, dan sindirannya di media kerap membuat telinga Bush panas. Bahkan, rakyat dan negaranya tak takut menerima sanksi embargo ekonomi dari AS dan United Nation (UN) karena disinyalir mengembangkan program nuklir.

Meskipun hasil investigasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tak menemukan bukti kuat bahwa Iran melakukan pengayaan uranium pada level cukup membuat senjata nuklir untuk pemusnah massal. Lalu mengapa AS terus menjatuhkan sanksi?

Pentingnya Iran
Secara Geografi, Iran berada di barat daya benua Asia, arah selatan berbatas Turkmenistan, Azerbeijan, dan Armenistan. Di sebelah utara bertetangga Afghanistan dan Pakistan, barat dengan Irak dan Turki. Pesisir Teluk Arab serta laut Oman juga menjadi tapal batas sebelah selatan Iran. Posisi yang strategis. Republik Islam Iran memiliki wilayah seluas 1.648.000 km2, beribukota Teheran.  

Letaknya di jantung benua Asia membentang di wilayah Timur Tengah menjadikan Iran sebagai titik pertemuan Timur dan Barat. Hal ini tentu saja beralasan karena secara natural Iran merupakan jembatan penghubung Teluk Arab dan Laut Mazendran. Oleh sebab itu beragam kebudayaan dan peradaban kombinasi (Barat dan Timur) berkembang pesat di negeri ini membentuk corak baru.

Berdasarkan populasi, angka pertumbuhan penduduk di Iran mencapai 0,72% dari populasi jumlah keseluruhan sebanyak 66.128.965 jiwa. Jumlah tersebut didominasi suku Persia 51%, menyusul urutan kedua Azerbeijan 25%, Jaelani dan Mazandarani 8%, Kurdi 7%, Arab 3%, Lor, Baluchistan, Turkmen 2%, sisanya suku lain 1%.

Sebagian besar mendiami wilayah perkotaan (61%) sementara 39% yang tak menghuni kota dan memilih tinggal di daerah perkampungan. Data tersebut mengindikasi bahwa penduduk Iran telah mentas dari kemelut ekonomi. Beranjak menjadi sebuah negara yang maju di semua sektor.  
        
Dari sudut religi, agama resmi yang dianut rakyat Iran adalah Islam berdasarkan peraturan negara pada poin ke-12. Mazhab Syiah Ja'fari merupakan mazhab mayoritas yang dipeluk masyarakat Iran. Terhitung prosentase penganut Islam sebesar 99% terdiri dari 89% bermazhab Syiah, 10% bermazhab Sunni, dengan masing-masing tendensi mazhabnya.

Pemerintah Iran berlandas poin ke-12 regulasi itu meratifikasi mazhab resmi (mayoritas) agar dihormati sesuai haknya dalam melaksanakan upacara ritual. Mazhab tersebut juga dijadikan standar pola pendidikan, pengajaran, dan urusan yang menyangkut problem individu.

Regulasi ke-13 menyatakan bahwa negara mengakui penganut agama lain seperti Zorowaster, Yahudi, Masehi, yang mencapai 1% dari jumlah rakyat Iran. Mereka diberi kebebasan menjalankan aktivitas keagamaan. Bahai pernah diakui oleh pemerintah Iran pra revolusi Iran, namun kini telah ditetapkan sebagai agama terlarang. Bahkan pemeluknya dideportasi dari Iran. Keputusan tersebut menimbang karena pusat Bahai berada di Heifa Palestina yang telah diklaim Israel sebagai wilayahnya.

Sistem Ekonomi yang Mementingkan Rakyat
Iran menganut sistem ekonomi terpusat dan ekonomi bebas. Pola penerapan ekonomi terpusat menjadikan seluruh proyek yang terkategori vital seperti penambangan minyak, dan beberapa perusahaan besar lainnya dalam pengawasan dan pengelolaan pemerintah. Rakyat diberikan kebebasan memberdayakan usaha mandiri, mengelola berbagai sektor kecuali sektor di bawah badan usaha milik negara.

Sektor pertanian merupakan komoditi unggulan. Hampir sepertiga penduduk Iran menekuni profesi ini. Saat berlangsungnya perang Iran - Irak dari sektor inilah pemerintah menyuplai bahan makanan sehingga stok kebutuhan prajurit dan rakyat terpenuhi. Sektor pertanian dipusatkan di kawasan pedesaan.

Menurut perhitungan pada tahun 1999, sektor ini memberi saham 20,97% dari total pendapatan nasional. Dengan demikian dari sektor ini saja telah berhasil membuka lapangan kerja dan mempekerjakan 23% penduduk Iran.

Sementara untuk sektor industri, pada tahun 1997 telah menyumbang saham 31,2% dari total pendapatan negara. Atau berhasil menampung 31% pekerja. Sektor industri mencakup minyak bumi, petrokimia, tekstil, semen, bahan bangunan, produksi logam dan senjata.

Selain minyak bumi, Iran juga memiliki kekayaan alam lain berupa gas. Gas alam Iran ini menempati angka 15% dari total cadangan gas dunia. Bahkan, Iran adalah negara terbesar kedua cadangan gas alam dunia setelah Uni Soviet (Rusia).

Pada sektor pelayanan dan jasa memberikan saham 47,9% untuk total pendapatan nasional pada tahun 1999, sekaligus berhasil mempekerjakan 45% dari jumlah rakyat Iran.

Bagaimana Negeri Kita
Beberapa pengamat memprediksi Obama yang terpilih menjadi Presiden AS tak banyak berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Justru krisis subprime makin memperlemah posisi ekspor. Meski secara perhitungan riil belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Tak ada salahnya, jika para pimpinan negeri ini mulai mengalihkan pandangan dan mereduksi ketergantungan dari ekonomi AS dengan melirik potensi Iran. Ketika harga minyak dunia jatuh pada kisaran US$ 62,37 dolar per barel. Mestinya pemerintah sudah menurunkan harga BBM domestik.

Tapi, lagi-lagi kebijakan menurunkan bahan bakar minyak (BBM) begitu sensitif karena menyangkut banyak kepentingan. Apalagi nilai impor BBM kita lebih besar ketimbang produksi minyak dalam negeri karenanya Indonesia keluar dari OPEC.

Dwi Eka A
Jl Batam Raya Lebak Bulus Jakarta Selatan
ymku21@yahoo.com
02192114002

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads