Sebuah hal menarik yang mampu disajikan dalam pesta demokrasi lima tahunan di AS. Pihak yang kalah mampu berjiwa besar walaupun hasil resminya belum menetapkan kekalahannya. Sehingga, dalam konteks ini pidato Obama yang mengatakan bahwa "yang masih bertanya tentang kekuatan demokrasi kita, malam ini adalah jawabannya", mendapatkan konteksnya yang tepat.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh McCain dengan mengucapkan selamat kemenangan kepada Obama secara langsung di depan pendukungnya itu, jika ditarik lebih jauh,
sudah merupakan tradisi dalam setiap pemilu di AS. Baik itu pemilu eksekutif maupun pemilu legislatif. Bahkan, dalam setiap pemilihan di level distrik pun, tradisi ini kerap dijalankan. Sebagaimana yang pernah dilakukan pula oleh Judy Baar Topinka kepada Rod Blagojevich atas kemenangannya dalam pemilihan Gubernur Negara Bagian Illionis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sikap yang seperti ini telah melalui ruang tradisi politik yang sangat panjang dalam sejarah politik Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, sikap seperti ini telah menjadi karakter khas budaya politik Amerika Serikat yang secara tidak langsung wajib dilakukan oleh setiap kandidat yang bertarung. Walaupun saling keras dalam bertarung di masa masa kampanye, namun jiwa besar wajib diketengahkan dalam melihat hasil yang ada. Sebab, dengan demikian kepentingan negara yang jauh lebih penting tidak akan pernah terabaikan.
Inspirasi Bagi Indonesia
Dengan tingginya tingkat penyelenggaraan election di Indonesia, sikap saling memberikan ucapan selamat ini dapat menjadi faktor yang mampu menetralkan kondisi yang sebelumnya syarat kompetisi. Sehingga, konflik yang sering terjadi di daerah daerah pasca penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada), mampu tereleminasi.
Pada sisi yang lain, dengan adanya sikap tersebut, hal itu akan mampu memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat luas. Bahwa untuk berpartisipasi dalam pembangunan tidak hanya bisa dilakukan oleh pihak yang menang. Namun, juga bisa dilakukan oleh pihak yang kalah sekali pun. Sehingga, pesan bahwa politik adalah untuk kesejahteraan masyarakat bisa tersampaikan secara jelas kepada publik.
Dan, ini sangat pentingย dalam membangun budaya politik yang sehat dan bermartabat di Indonesia. Sebab, demokrasi tidak akan pernah tegak secara sempurna tanpa adanya etika yang sehat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Almond dan Verba, bahwa budaya politik bangsa adalah bukan hanya perwujudan sikap individu terhadap sistem politik dan komponen komponennya, namun juga sikap individu terhadap peranan yang dapat dimainkan dalam sistem politik.
Mungkin adalah hal yang tidak mudah untuk melakukan hal ini bagi setiap kandidat yang bertarung. Sebab, sikap yang seperti ini memang menuntut jiwa besar dan pengorbanan yang luar biasa dari setiap politisi negeri ini. Namun, di sisi lain, efek yang akan muncul terhadap karakter dan budaya politik bangsa akan luar biasa. Jika sikap ini mampu diwujudkan secara kolektif oleh setiap politisi di negeri ini.
Dengan demikian rakyat akan melihat bahwa para politisi yang bertarung di area pemilu atau pun pilkada, benar-benar memiliki niatan tulus untuk membangun masyarakat. Sebab, baik pihak yang menang maupun yang kalah, tetap bisa mengabdikan dirinya untuk membangun masyarakat.
Kiranya walaupun sederhana, alangkah indah jika pengalaman kecil ini bisa terwujud dalam setiap prosesi election di Indonesia. Baik itu di level pusat atau pun daerah, maupun dalam pemilihan legislatif atau pun eksekutif.
Bahkan, bisa jadi langkah ini akan semakin efektif jika secara sistematik hal ini pun juga diatur dalam regulasi yang formal. Sehingga, budaya lama kebanyakan manusia Indonesia yang oleh Muchtar Lubis disebut sebagai manusia hipokrit, yang hanya menjadikan politik sebagai sarana memperkaya dirinya dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, mampu tereduksi secara bertahap dalam budaya politik Indonesia.
Dan, pemilihan presiden Indonesia tahun depan, adalah waktu yang tepat untuk menggaungkan budaya politik yang relatif baru di Indonesia ini.
Muhammad Tri Andika
Kamitachiuritori 6028439, Omiyani shi,
Hairusuzuri cho 296 Haimusuzuria 103
Kyoto, Japan
gr039085@ir.ritsumei.ac.jp
+81 8038041747
Penulis adalah Mahasiswa International Relations Faculty Ritsumeikan University, Kyoto Japan. (msh/msh)










































