Hal ini memang tidak untuk semua film yang telah diproduksi oleh Hollywood. Dengan adanya krisis moneter yang melanda Amerika sebenarnya menambah kekhawatiran mereka dengan invasi film-film mereka di Asia.
Dengan pangsa pasar film yang sudah harus menunggu alias antri di jajaran film Bollywood yang berkembang di negerinya sendiri, India, sampai beberapa negara Asia lainnya yang juga menggemari film ini. Dari cara mereka yang menarik dengan melempar stir ke film drama percintaan, dari film-film action, membawa mereka menjadi pasar film yang juga diperhitungan.
Awal kesuksesan yang manis. Ketika film Kuch Kuch Hota Hai yang mengharu biru berhasil membuat image film Bollywood berubah dan berhasil juga menjadi tontonan wajib bagi Inggris yang menjadi sasaran film-film Bollywood untuk lokasi film mereka.
Hollywood kembali harus menggigit jari ketika film-film mereka pun harus antri di jajaran bioskop film indonesia. Selain harganya yang relatif mahal perfilman Indonesia yang semakin menggeliat membuat film-film Hollywood hanya bisa dinikmati beberapa saja dalam satu bulan. Berbeda di tempat produksinya.
Saat ini kita juga bisa melihat film-film mereka sudah mulai me-remark dari film-film Asia. Lebih tepatnya untuk jenis film horor yang sudah terkenal menyeramkan dan berhasil menyedot penonton film horor dibandingkan dengan produksi film horor mereka yang "Tidak Nyata". Tetapi, walaupun telah dikemas dengan baik film-film daur ulang ini pun tak bisa menyaingi film pertamanya yang telah nyangkut di hati penikmat film.
Kita ambil contoh Shutter, The Eye, film remark ini merupakan kegagalan mereka yang kembali terulang. Tapi, bersyukur mereka menempatkan Jessica Alba pada film tersebut. Setelah film mereka pun harus bisa mengalah dengan Sinetron Indonesia yang kini lebih banyak memenuhi layar televisi dibandingkan dengan serial televisi mereka. Atau pun opera sabun yang biasanya menghiasi tayangan mesin kotak empat tersebut.
Lain Indonesia lain juga Korea. Setelah sukses menghasilkan julukan "Korean Drama" ini dia pun berhasil membuat pasarnya sendiri di Asia. Dan, kini merambah lebih luas. Kesuksesan drama seri Princess Hour (Goong) pun memicu produksi mereka mendunia.
Hollywood semakin khawatir dengan invasi besar-besaran produksi drama seri Korea ini yang diproduksi massal, dan juga berkualitas. Kita bisa lihat bagaimana drama Korea ini diadaptasi ke dalam sinetron-sinetron kita. Mereka pun dengan mudah mendepak invasi drama seri Taiwan yang dulu pernah merajai Indonesia dengan drama yang paling disukai oleh kawula muda, yaitu Meteor Garden.
Sebuah keberhasilan dari sebuah kerja sama dan berusaha terus untuk menjadi yang terbaik merupakan hal paling diinginkan. Bagaimana film-film Asia menjadi raja di regionalnya sendiri? Ini merupakan sebuah keberhasilan buat kita semua. Nilai-nilai budaya Asia bisa ditampilkan dalam film, menciptakan kecintaan kepada produksi film sendiri, dan semakin memacu perfilman itu sendiri.
Biarkan Amerika terus meradang dan film-film kita tetap berjaya. Biarkan Hollywood itu meriang dan Asia berjaya.
Nofriza Nindiyasari
Depok Jaya Agung
Jalan Apel III Blok C 11 No 5 RT 03/10 Depok
nofriza@gmail.com
081808108881
(msh/msh)











































