Masyarakat tak perlu mencemaskan perekonomian Indonesia akan kembali ke tahun 1997, saat kita dilanda krisis moneter. Sekali lagi, itu situasi yang berbeda sama sekali.
Saat ini ekonomi kita dalam keadaan baik dan terkelola. Walau gejolak global sedikit banyak membawa dampak terhadap perekonomian nasional. Namun, kita semua harus tenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
agar bisa tenang? Inilah yang belakangan ini menjadi tarik ulur meresahkan karena pada kenyataannya di level bawah saja perekonomian tengah ambruk.
Secara kasat mata kita bisa tahu daya beli anjlok drastis. Rakyat tengah didera persoalan ekonomi bertubi-tubi. Misalnya, saat urusan biaya sekolah melambung, tiba-tiba ditimpa kenaikan harga BBM, elpiji, dan berlanjut kepada harga komoditas.
Rakyat kian susah dan kebutuhan sekunder mulai ditinggalkan. Boro-boro yang sekunder. Faktanya kebutuhan primer pun acapkali tak terjangkau.
Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan ketenangan ekonomi adalah rasional dalam mengelola keuangan rumah tangga. Imbauan untuk mengencangkan ikat pinggang layak diperhatikan. Kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu sebaiknya ditinggalkan jauh-jauh. Hidup ala kadarnya. Tak perlu berlebihan.
Kita cukup memaknai hidup ini secara sederhana. Bukan untuk saling memamerkan keberhasilan semu pada orang lain. Tak perlu jor-joran menunjukkan sikap konsumtif. Kemuliaan diri bukan pada ukuran harta benda. Jadilah orang yang mandiri. Jangan merepotkan orang lain. Bahkan kalau bisa berilah lapangan kerja pada orang lain.
Sekali lagi, krisis global masih sulit diprediksi kapan berakhir. Pemerintah boleh saja menyatakan kita tak akan terpuruk dalam krisis seperti tahun 1997. Namun, situasi dunia belum menentu. Maka, kita lebih baik mengencangkan ikat pinggang itu dan bersikap sederhana.
Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Mijen Jatisari Semarang
rosi.sugiarto@pajak.go.id
085641765201
(msh/msh)











































