Pemimpin itu Sendirian

Pemimpin itu Sendirian

- detikNews
Jumat, 31 Okt 2008 17:27 WIB
Pemimpin itu Sendirian
Jakarta - Ibarat gunung pemimpin itu tegak sendirian tak berteman. Meski hujan, angin, dan awan panas menyapunya. Sesekali kilat guntur menjilat-jilat tidak gentar sedikit pun. Tak mundur sejengkal pun.

Derit nyanyian pepohonan serta merdu kicau burung-burung tak membuatnya bergeming. Apalagi tersenyum. Ia tetap sendirian. Sendirian dan seribu kali sendirian.

Sendiri adalah sunyi. Sendirian itu sepi. Sendiri ialah senyap. Tetapi, senyap, sepi, dan sunyi bukan bermakna mati. Ada gaduh dalam kesenyapan. Terdapat riuh di kesepian. Terjumpa gemuruh dalam kesunyian pemimpin. Sepi ing pamrih rame ing gawe.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tatkala pemimpin sendirian sesungguhnya ia tidak sendiri. Sebab, di keseharian berkawan kebenaran. Tanpa kebenaran maka kesendiriannya tak punya makna apa-apa. Tanpa kebenaran kesepian itu benar-benar menjerat hati. Kesenyapannya yang sangat menikam nurani. Lalu kesunyian berubah menjadi wajah yang menakutkan nyali. Itulah kesendirian yang sia-sia.

Siapa dan di manakah, o engkau kebenaran hakiki?

Sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Tuhannya, yakni Dia yang disebut orang dengan berbagai nama dan digambar dalam aneka lambang beragam ungkapan. Maka kebenaran logika mengatasnamakan ilmu pengetahuan dan teknologi sesungguhnya hanya nisbi. Semu. Tidak lestari. Seperti manik maya ia menipu, suka bersumpah palsu mengobral manis janji-janji. Ibarat permata khayalan sang nisbi pun bergerak sesuai hasrat, sifat, dan tuntutan zaman.

Manakala dipertuhankan maka sang nisbi pun berlagak seperti tuan yang tersenyum manis namun menyimpan pisau di punggung. Suatu saat ketika terlena ia bakal menusukmu dari arah tak terduga. Secepat pisau menancap di jantungmu lalu sekilat ia menyembunyikannya dan kembali tersenyum hormat laksana tuan besar yang baik budi.

Seperti halnya gunung dan pemimpin kebenaran itu tegak sendirian. Tak punya sifat. Tak ada nafsu, hasrat, atau tuntutan. Ibarat zat ia tanpa warna tetapi bisa beragam rupa mengikuti rongga tenggorok siapa yang mereguk. Menjelma menjadi delapan mata air memancar namun berbeda format, wujud, dan bentuk. Kebenaran itu manunggal rasa cuma beda rupa beda warna.

Ketika pemimpin itu terlihat sendiri sesungguhnya ia tidak sendirian. Karena, kebenaran mengelilingi dalam ragam tampilan. Tanpa kebenaran pemimpin itu seperti makhluk tanpa wajah tanpa nurani. Kalau suatu ketika punya wajah maka hanya topeng belaka bisa berubah seribu muka seribu nama. Atau sewaktu nanti ia punya hati maka cuma sekedar cangkok rekayasa akal pikirnya.

Tahukah, o, saudara bahwa pemimpin dan kebenaran itu dua muka yang menyatu pada satu wajah. Adalah dua kata dalam satu tarikan nafas.

Hamid Ghozali
Warung Contong Timur 1 Cimahi
hamidghozali@hotmail.com
0817437171

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads