Harga Minyak Turun atau Naik Tetap Saja Susah

Harga Minyak Turun atau Naik Tetap Saja Susah

- detikNews
Kamis, 30 Okt 2008 17:15 WIB
Harga Minyak Turun atau Naik Tetap Saja Susah
Jakarta - Dahulu sewaktu harga minyak dunia naik tanpa pikir panjang pemerintah memberikan statemen bahwa BBM (Bahan Bakar Minyak) kita harus naik. Kalau tidak naik dikhawatirkan BBM kita yang disubsidi oleh pemerintah akan banyak diselundupkan ke luar negeri.

Ada juga alasan lain yaitu subsidi untuk BBM terlalu besar. Tidak sesuai dengan APBN. Dan, entah alasan apalagi yang digunakan saat itu, yang intinya BBM harus naik tidak harus lewat hitung hitungan yang bikin otak menjadi tambah botak.

Kondisi saat ini harga minyak dunia turun sangat drastis di bawah 60 dollar US per
barel. Bandingkan dengan harga yang dulu mencapai angka 120 dollar per barel. Jauh bukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi harga minyak turun sudah dirasakan paling tidak pertengahan Agustus 2008. Tetapi, baru sekarang diramaikan dan pemerintah mengeluarkan statement bahwa untuk menurunkan harga minyak banyak faktor yang harus dipikirkan dan semua harus dihitung dengan cermat. Jangan asal turun.

Yang menjadi pikiran saya mungkin juga masyarakat pada umumnya kenapa hal ini bisa terjadi? Harga minyak naik kita susah. Harga minyak turun kita juga susah. Kapan kita bisa menikmati hasil akibat harga minyak naik atau turun?

Kalau secara logika seharusnya sewaktu harga minyak naik kita susah. Mestinya sewaktu harga minyak turun kita bahagia. Atau sebaliknya. Harga minyak naik kita bahagia. Harga minyak turun kita susah. Tetapi, kenyataanya harga minyak turun atau naik kita tetap saja susah.

Mungkinkah karena kita rakyat jelata yang tahunya hidup itu harus susah? Berbeda dengan para birokrat yang bingung mengartikan apa itu hidup susah? Saya mengkritik iniย  bukan karena benci. Tapi, karena sayang. Kenapa hal ini harus berulangkali terjadi.

Seharusnya jauh hari sewaktu minyak naik kita juga sudah mengantisipasi kalau minyak turun. Apa gunanya ada Bapak Menteri yang notabene adalah orang pinter dengan didukung para pegawainya.

Menurut pemikiran saya, ini hanya saran saja, kalau hasil migas sangat berpengaruh buat penghasilan bangsa ini, alangkah bagusnya kita olah sedemikian rupa agar migas baik dari hulu sampai hilir bahkan kalau bisa kanan kiri dari proses hulu hilir itu kita pegang sendiri. Jangan semua diberikan ke orang asing dan kita hanya dapat beberapa persen.

Mungkin nama perusahaan bisa atas licensi mereka biar alat mereka bisa dipakai di sini. Tetapi, semua pegawainya haruslah orang Indonesia. Kalau orang Indonesia tersebut belum bisa harus di training dulu. Saya yakin orang kita mampu melakukannya hanya belum diberi kesempatan. ย 

Mungkin itu saran saya. Kemungkinan hal ini sudah dipikirkan oleh Bapak-bapak yang di "atas". Cuma belum dilaksanakan. Saya bukan cuma mengritik tetapi juga berusaha ikut memikirkan nasib bangsa ini. Semoga semakin cepat kita perbaiki sistem Negara kita semakin cepat Negara kita menjadi makmur. Amin.

Nur Hanifiyyah SE
Website http://evahanura.wordpress.com
Caleg salah satu partai di Kudus
Jl. HOS Cokroaminoto GG 6 No 58 Kudus

(msh/msh)


Berita Terkait