Golkar Pasca Rapimnas

Golkar Pasca Rapimnas

- detikNews
Jumat, 24 Okt 2008 09:05 WIB
Golkar Pasca Rapimnas
Jakarta - Di tengah-tengah Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) IV Partai Golkar ada sebuah hal yang menarik. Sesuatu yang tidak diagendakan namun tiba-tiba muncul dan menjadi isu yang hangat. Masing-masing Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengusulkan kader-kader Partai Golkar yang terbaik menurut versi mereka untuk menjadi calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilu 2009.

Bila usulan itu ditindaklanjuti dengan model konvensi atau pemilihan dengan cara lainnya maka kemungkinan akan terjadi pertarungan perseteruan lama elit Golkar, Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung. Atau dengan dengan kader-kader terbaik Golkar lainnya. Seperti Agung Laksono, Surya Paloh, Sultan Hamengku Buwono X, Muladi, Fadel Muhammad, dan Aburizal Bakrie.

Panitia Pengarah Rapimnas IV mengatakan sebenarnya soal capres atau cawapres merupakan hal yang tidak diagendakan. Namun, karena DPD sudah merasa tidak kuat dikekang oleh pernyataan DPP yang mengatakan bahwa tidak ada konvensi untuk memilih capres atau cawapres maka rapimnas kali ini dijadikan 'pemberontakan' DPD kepada DPP.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usulan DPD ini bisa jadi akan menjadi bola salju untuk diadakan konvensi kembali sebagai sarana untuk memilih dan menetapkan capres dan cawapres seperti yang terjadi pada tahun lalu.

Selama ini Partai Golkar di bawah Ketua Umum Jusuf Kalla cenderung menutup diri dan menghindar dari tuntutan diadakan kembali konvensi. Tertutupnya konvensi dilakukan agar secara otomatis ketua umum partai atau Jusuf Kalla-lah yang maju dalam pemilihan capres atau cawapres.

Kalla tidak menyukai konvensi. Sebab, dalam konvensi yang digelar tahun lalu Kalla tidak terlibat dan secara dukungan dari pengurus di bawahnya belum sekuat ketika Munas di Bali digelar.

Dalam evaluasi ketika rapimnas kemarin, DPD Lampung, Maluku Utara, dan Gorontalo menyampaikan kritik keras kepada DPP. Lampung dan Maluku Utara merasa kecewa dengan DPP karena tidak total mengawal pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Adapun Gorontalo merasa kecewa karena menolak pencalonan Fadel sebagai anggota DPR.

Namun, ketika DPD-DPD berani mengusulkan capres atau cawapres maka Jusuf Kalla dan pendukungnya mungkin tidak bisa membendung keinginan itu. Dan bisa-bisa saja konvensi akan digelar kembali. Bila itu terjadi maka bagi Kalla Rapimnas kali ini merupakan sesuatu yang pahit.

Sesuatu yang mungkin membuatnya tidak nyaman lagi. Sebab, keinginan dirinya untuk menjadi capres atau cawapres jalannya tidak lapang lagi. Sebab, dalam konvensi nantinya dia akan bertarung dengan kader-kader terbaik dari Partai Golkar. Seperti dengan Akbar Tanjung, Surya Paloh, Sultan, Aburizal Bakrie, Fadel Muhammad, Muladi, Agung Laksono.

Meski semua calon capres dan cawapres dari Partai Golkar cukup banyak dan berkualitas namun semua kader partai itu masih realistis. Semuanya masih tergantung dari hasil pemilu legislatif 2009. Sehingga, dalam rapimnas kali ini seluruh peserta sepakat belum menetapkan capres atau cawapres yang akan diusung pada Pemilu 2009.

Sebagai ketua umum dan orang yang paling mempunyai kepentingan tentu Jusuf Kalla
tidak ingin konvensi atau rekomendasi yang memilih kader Partai Golkar yang berhak menjadi capres atau cawapres selain menunjuk dirinya terjadi. Untuk mencegah hal itu terjadi maka Jusuf Kalla kemungkinan secara strategi akan tetap mempertahankan dan atau memilih duet SBY - JK sebagai pilihan partai yang dikemudikannya.

Cara ini akan mengakhiri bentuk atau model apa pun yang akan merekomendasikan kader Partai Golkar yang ditunjuk sebagai capres atau cawapres. Alasan tetap mempertahankan SBY - JK selain untuk mempertahankan kekuasaan dirinya, bagi Kalla, SBY dirasa masih mampu sebagai magnet yang kuat untuk memenangi Pemilu 2009.

Dari berbagai survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian dan LSM SBY masih berada pada posisi puncak. Duet dengan SBY dirasa lebih aman bila dibanding Kalla maju sebagai capres atau menggandeng atau digandeng calon lain.

Melanjutkan duet SBY - JK ini kemungkinan akan didukung oleh DPP sebab duet ini akan melanjutkan kemapanan partai dan sebagai elit kader partai lainnya yang selama ini masuk dalam kabinet menteri. Meski keinginan Kalla seperti itu namun keinginan DPD seperti di dalam rapimnas yang baru berakhir beberapa hari yang lalu mereka masih tetap mendesak agar diadakan konvensi.

Kesempatan seperti ini tentu akan didukung dan digunakan lawan-lawan politik Kalla di Golkar seperti Akbar Tanjung dan Fadel Muhammad untuk menggalang kekuatan kepada DPD-DPD agar konvensi diadakan dan kelak memilih dirinya. Mereka merasa bahwa Partai Golkar-lah yang dirasa sebagai sarana yang efektif untuk mewujudkan keinginan.

Selepas Rapimnas IV kali ini yang terjadi adalah kembalinya menguatnya diadakan konvensi di satu sisi. Sementara di sisi yang lain akan tetap dipertahankannya duet SBY - JK.

Ardi Winangun
Jl Kendal Menteng Jakarta Pusat
ardi_winangun@yahoo.com
08159052503

Ardi Winangun Peneliti Institute for Transformations Studies (Intrans).

(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads