Kapitalisme di Ujung Tanduk

Kapitalisme di Ujung Tanduk

- detikNews
Rabu, 22 Okt 2008 17:15 WIB
Kapitalisme di Ujung Tanduk
Jakarta - Terjadinya krisis finansial di Amerika merupakan buah dari kegagalan dan kebobrokan sistem ekonomi Kapitalisme. Tidak menutup kemungkinan hal ini akan berimbas kepada krisis ekonomi global (berdampak kepada ekonomi dunia termasuk di Indonesia). Kenapa hal itu dapat terjadi?

Ada beberapa borok-borok di dalam Kapitalisme, yaitu:

1. Dalam Kapitalisme yang menjadi penopang ekonomi adalah sektor non riil, termasuk di dalamnya pasar saham, valas, obligasi, dan lainnya. Di mana pasar saham yang merupakan pasar judi dunia yang memang transaksi yang tidak jelas dan hanya menguntungkan para spekulan.
2. Standar keuangan berdasarkan dolar. Di mana uang kertas yang nilai intrinsik dan nominalnya berbeda dan mudah dipermainkan oleh para spekulan khususnya asing sehingga nilai uangnya fluktuatif.
3. Pemberlakuan sistem riba khususnya bunga bank sehingga banyak orang yang kredit dibebankan dengan bunga yang besar dan menguntung sebagain orang dengan tidak susah-susah bekerja. Sehingga secara implisit terjadi tindak kezaliman yaitu menzalimi sebagian pihak untuk keuntungan pihak tertentu.
4. Terjadi penumpukan (penimbunan) uang pada sebagian pihak sehingga pergerakan ekonomi tidak stabil.
5. Ketidakjelasan hak kepemilikan. Di mana dalam Kapitalisme setiap individu berhak untuk memiliki sumber daya termasuk sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Sehingga yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Karena terjadi kesenjangan sosial yang abadi dan yang berhak menikmati hanya orang-orang yang bermodal (Kapitalis).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Maka dari itu kita tunggu saja saat-saat Kapitalisme menemui ajalnya. Bahkan
Amerika yang katanya sebagai biang Kapitalisme sudah melakukan (menusyrikan? [sic.]) terhadap ideologinya. Kenapa?

Karena dalam Kapitalisme negara tidak boleh ikut campur terhadap pasar. Tetapi, dengan terjadinya krisis ini Amerika malah mensubsidi (mencairkan dana kurang lebih $700 miliar) untuk membantu lembaga keuangan yang collaps. Amerika sama halnya dengan telah menelan ludahnya sendiri.

Kini saatnya kita menerapkan sistem alaternatif yang lain karena Kapitalisme telah gagal. Sosialisme terbukti telah hancur. Dan, kini sistem Islam yang akan menjadi sistem alternatifnya untuk menggantikan sistem Kapitalisme yang telah terbukti kebobrokannya.

Karena fakta sejarah telah membuktikan selama 13 abad dan menguasai 2/3 dunia
menebarkan cahaya kemakmuran di muka bumi. Selain dari pada itu di dalam Islam:

1. Islam tidak mengenal sektor non riil tetapi pergerakan ekonomi ada pada sektor rill sehingga jelas transaksi dan perputaran uang.
2. Standar nilai uang berdasarkan emas dan perak yang memang memiliki nilai
intrinsik dan nominalnya sama sehingga sangat jauh dari inflasi.
3. Tidak boleh terjadi penimbunan uang, tetapi harus berputar, sehingga ekonomi senantiasa bergerak dan kekayaan tidak hanya pada segelintir orang.
4. Tidak mengenal (mengharamkan) riba dan tidak ada saling menzalimi.
5. Kepemilikan yang jelas. Ada kepemilikan individu, kepemilikan negara, dan
kepemilikan umum (rakyat) yaitu segala sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh dimiliki oleh individu, kelompok, atau negara. Tetapi, dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kemakmuran rakyat, seperti barang tambang, hutan, laut, dan lain-lain.

Kita sambut penerapan sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Demi kebaikan dan keberlangsungan alam semesta dan peradaban manusia. Wallahualam.

Ririh Priyatna Jafar
Abesin Bogor
jafar_itk@yahoo.com
085710373769

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads