Insentif atau pun kemudahan-kemudahan tentu sangat bermanfaat bagi pengembangan sektor usaha. Karena selama ini sangat dirasakan adanya penambahan baru berupa regulasi-regulasi tambahan yang tidak hanya bertumpu kepada sektor perpajakan.
Namun, cerita di balik goyangnya perekonomian beberapa negara di dunia yang berawal dari Krisis Kredit Kepemilikan Rumah (Subprime Mortgage) di Amerika Serikat membuat bank-bank investasi kelas atas mengalami kekeringan likuiditas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru disadari betapa memuncaknya permasalahan kredit kepemilikan rumah menjadi ledakan ekonomi yang sangat kuat dengan dipailitkannya Lehman Brothers sebagai Bank Investasi. Setelah itu diikuti oleh ambruknya beberapa Lembaga Keuangan lainnya.
Tindakan penyelamatan oleh Pemerintah Amerika Serikat berupa program Bailout (dana talangan) telah disahkan oleh Kongres meskipun awalnya mendapat tantangan keras dari rakyat Amerika Serikat. Tak tanggung-tanggung Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan USD 700 juta dalam melakukan program dana talangan tersebut.
Hal yang sama juga dilakukan oleh negara-negara Uni Eropa yang mengalami guncangan-hebat akibat dari krisis di Amerika Serikat. Program dana talangan juga mereka lakukan untuk menyelamatkan perekonomian negara mereka akibat kekurangan likuiditas.
Lantas bagaimana nasib perekonomian negara kita saat terjadinya krisis keuangan
global? Tak pelak lagi bahwa imbas yang sangat terasa dialami oleh negara-negara di kawasan Asia.
Indonesia mengalami tekanan yang kuat. Ini terlihat dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hampir mencapai 10% selama 1 sesi perdagangan membuat otoritas bursa menutup perdagangan saham dalam beberapa hari. Keadaan tersebut juga dialami oleh beberapa lantai bursa di ASEAN. Meskipun tekanan regional terhadap saham tidak lebih mencapai 10%.
Pemerintah terus berupaya agar penurunan IHSG tidak akan berimbas juga kepada daya saing ekspor negara kita. Peningkatan dan pengetatan eksport dan import terus dilakukan oleh pemerintah karena dengan dipacunya kinerja ekspor akan menambah devisa negara.Β Β
Bagaimana nasib Insentif pasca krisis keuangan global? Pasca krisis keuangan global banyak negara-negara di dunia mulai berbenah diri terhadap sistem kuangan di dalam negerinya. Pasca krisis keuangan global membuat negara-negara di dunia mengetatkan beberapa pengeluaran konsumsi perekonomian luar negeri.
Satu yang terasa bagi kita adalah mulai anjloknya beberapa nilai komoditas perkebunan yang hampir mencapai 65% akibat krisis tersebut. Anjloknya harga kelapa sawit dan karet membuat penghasilan para petani ikut turun. Begitu juga sektor transportasi laut. Angkutan laut bahkan mengalami penurunan sampai 75% sebagai dari lesunya perekonomian dunia dengan sedikitnya demand yang tersedia.
Belum membaiknya likuiditas negara-negara maju membuat mereka melakukan penilaian kembali atas rencana investasi yang telah tersusun. Bagi Indonesia dengan disahkannya Undang-Undang Perpajakan yang baru menjadikan program insentif terkena hantaman krisis keuangan global.
Para investor mulai mengkaji kembali kelayakan perencanaan investasi mereka. Mudah-mudahan kecemasan yang melanda negara-negara di dunia akan berakhir. Kita berharap agar investor masih melirik Indonesia sebagai salah satu tempat pilihan utama mereka dalam menanamkan uangnya. Apalagi kemudahan-kemudahan dari sisi fiskal telah diterbitkan. Semoga ke depan insentif tidak akan terkena hantaman krisis selanjutnya. Β
Helmy Harahap
Perumahan Puri Beta Cluster Hujan Mas No 12
Tangerang
helmy_harahap@yahoo.co.id
0816842044
(msh/msh)











































