Menunggu PSSI Jaya

Menunggu PSSI Jaya

- detikNews
Minggu, 19 Okt 2008 10:00 WIB
Menunggu PSSI Jaya
Jakarta - Barangkali setiap penonton yang menyaksikan pertandingan antara PSM dan tuan rumah PSIS yang disiarkan langsung televisi swasta ANTV pada (12/10/2008) pukul 19.00 hingga 21.00 di Stadion Jati Diri Semarang bakal mengerut dahi karena emosi, kecewa, dan marah lantaran ulah ofisial salah satu klub tiba-tiba menyerang wasit usai pertandingan. Oknum ofisial kecewa oleh kepemimpinan wasit yang dinilai tidak seimbang dan cenderung merugikan klubnya. Padahal pertandingan sebelumnya di tempat yang sama ofisial juga melakukan hal yang sama saat pertandingan PSIS melawan tamunya PSMS, Kamis (9/10).

Belum lama berselang ketika suporter Persitara Jakarta Utara Dian Rusdiana, 16,
menjadi korban pertama yang tewas. Dian meninggal beberapa saat setelah diserang sekelompok orang tak dikenal di depan pintu tol Pondok Pinang, Jakarta, seusai bentrok Persitara dengan Pelita Jaya yang berkesudahan 1-1, Sabtu (20/9).

Kerusuhan lainnya terjadi di Malang Sabtu (13/9), Makassar, Senin (15/9), Palembang (9/9). Kericuhan pemain yang mewarnai laga Pelita Jaya Jawa Barat kontra Persiwa Wamena (12/9), dan kerusuhan di Stadion Brawijaya, Kediri, (16/1).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski Komisi Disiplin PSSI telah memberikan sanksi berupa denda uang, pertandingan tanpa penonton, pertandingan usiran, atau pencekalan atribut serta larangan bertanding sementara waktu sejumlah klub oleh polisi karena alasan keamanan. Tetap saja ada oknum yang "berani" melanggar. Bahkan di antaranya pemain asing yang seharusnya menjadi teladan bagi pemain lokal berkontribusi melakukan pelanggaran.

Harapan mendapat sajian tontonan yang menghibur justru berbuah petaka. Alhasil rasa malu sebagai warga negara muncul. Lalu, kapankah sepak bola di negeri kita menjadi kebanggaan masyarakat dan disegani dunia jika dalam laga yang setiap orang dapat menyaksikan kerap berbuat noda. Mereka tak peduli. Apa yang telah dilakukan justru mencederai masa depan persepakbolaan nasional. Dalam benak yang ada, menang, menang, tak boleh kalah dan dapat bonus menjadi kebanggaan.

Buntut dari rangkaian jalannya pertandingan Superliga yang kerap diwarnai kerusuhan dan jadwal pelaksanaan yang selalu berubah-ubah pihak sponsor dari PT Djarum Indonesia Tbk sempat mengancam mengakhiri kerja sama dengan Badan Liga Indonesia (BLI). Badan pelaksana regulasi kompetisi non-amatir sepak bola Indonesia itu tidak segera menata dengan baik Superliga. Pihak sponsor khawatir dengan kredibilitas badan usahanya. Apalagi tujuan penyelenggaraan adalah memajukan persepakbolaan nasional dan menjunjung tinggi fair play.

Sejak dikeluarkannya Permendagri No 59/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan dipertegas dalam surat edaran Mendagri No 900/2677/BJ tentang penggunaan dana secara transparan membuat sejumlah klub yang ikut Liga Super tak lagi bebas menggunakan dana APBD dan kisaran dananya pun disesuaikan dengan kemampuan daerah setempat. Mengingat biaya yang dibutuhkan untuk satu musim yang bisa mencapai angka Rp 20 milyar mengharuskan klub bekerja keras untuk mengatasi defisit keuangan klub.

Tak heran. Masing-masing pihak melakukan road show ke berbagai perusahaan baik lokal, nasional, maupun asing. Di sisi lain kontribusi masyarakat dalam bentuk kehadiran fisik dan pembelian atribut juga diharapkan.

Manfaat Nonton Bola

Tak bisa dipungkiri. Ketika sepak bola banyak menghasilkan manfaat relaksasi, hiburan yang mengasyikan, dan menjadi lahan bisnis yang cukup menjanjikan serta sebagai tontonan olah raga terbesar dunia sepak bola kini tak lagi milik komunitas tertentu. Melainkan menjadi konsumsi publik dan seluruh umur. Dengan demikian apa yang terjadi di lapangan berpengaruh kepada wajah penduduk negeri.  

Dari itu berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Liga Super 2008 dapat mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi. Berbenahlah terus. Terapkan sikap
tegas dan disiplin terhadap para pelanggar. Tegakan aturan. Menjunjung tinggi fair
play serta siapkan diri untuk menerima kenyataan yang terjadi baik menang atau kalah dalam setiap pertandingan. Sehingga kelak PSSI Jaya. Mengulang sukses di tahun 70-an.  

Ummu Syaqilla
Jl Gunung Raya No 35 C
Cirendeu Tangerang
dwieka1@gmail.com
02192114002

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads