Lebih ironis lagi media memberitakan jika TNI belakangan ini 'kalah' dengan barisan militer negara lain seperti Malaysia dan Singapura. Jika itu (benar) terjadi bagaimana nasib bangsa ini.
Mungkin tak ada salahnya kita bernostalgia 15 tahun silam. TNI (dulu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia disingkat ABRI) pernah menyandang predikat sebagai 'Macan Asia'. Predikat itu dicapai karena TNI memiliki kekuatan yang tidak mudah dilumpuhkan oleh berbagai rongrongan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu berjalan begitu cepat. Angin reformasi berhembus menerpa sendi-sendi bangsa ini. Tak terkecuali TNI. Bahkan tak ingin disebut tertinggal TNI mereformasi diri. Salah satunya memposisikan diri 'special' sebagai penjaga keutuhan negara.
Para petinggi militer kala itu pun tereposisi dari kedudukannya dari panggung politik. Fraksi TNI/Polri terhapus dari lembaga DPR/MPR. Begitu pula para jenderal. Harus bersabar untuk menjadi 'orang sipil' jika ingin berkuasa kembali di negeri ini. Lebih menyedihkan lagi tentara kita di lapangan tidak segarang dengan belasan tahun silam.
Perjalanan reformasi negeri ini (harus diakui) telah menistakan posisi TNI. Gaung sumpah prajurit yang dulu sampai di relung pemikiran rakyat kecil sekali pun kini tidak lagi terdengar. Bahkan untuk menghilangkan kesan keangkeran TNI harus rela mengubah warna dalam berbagai hal. Yang paling kecil warna hijau tua kebanggaan pun harus lebih 'diperhalus' agar kelihatannya tak angker.
Tentara haruslah tetap tentara. Tentara harus angker meski tak perlu angker bagi rakyat kecil. Tentara harus tetap kuat melindungi negara. Dan, bagi 'tentara' harus mendapatkan 'posisinya' kembali sebagai pasukan yang memiliki hak politik di negeri ini.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah laut terluas di dunia tak cukup dijaga hanya dengan senjata yang sudah aus, meriam yang sudah keropos, tank-tank yang mogok, atau pesawat tempur yang ngadat. Tapi, harus dikawal dengan persenjataan yang modern, perwira yang intelek, serta serdadu yang tangguh.
Semua itu dapat tercapai jika negeri ini kembali memberi ruang yang luas bagi TNI. Bahkan bila perlu para jenderal negeri diberi peluang untuk 'kembali' bersatu, dan tidak pecah karena kepentingan politik sesaat.
Mungkin menjadi kebanggaan kita jika kita mengenang kembali kejayaan bagsa melalui pemikir negeri seperti Jenderal Sudirman, Jendral Urip Sumoharjo, Jenderal AH Nasution, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Soeharto, Jenderal M Yusuf, dan sejumlah jenderal lainnya.
Mereka begitu gagah perkasa bila tampil di depan publik. Sungguh miris jika seorang Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) enggan menggunakan pakaian kebesaran TNI (selama menjadi Presiden pernakah kita melihat SBY tampil dengan kebesaran TNI meski HUT TNI sekalipun). Tak perlu ragu disebut tidak reformis. Tak perlu takut disebut militeristik. Yang menilai adalah rakyat.
Rakyat Indonesia hari ini menginginkan kepastian. Rakyat Indonesia merindukan kejayaan seperti yang pernah ada di zaman Orde Baru. Ketika TNI memiliki peran mengatur negeri ini. Dan, rakyat Indonesia menginginkan agar TNI kembali tampil menjadi Macan Asia.
Tak ada macan yang makan anaknya. Jadi rakyat Indonesia tak perlu takut dengan TNI-nya. TNI adalah pelindung dan pengayom rakyat. TNI adalah pelindung negara. Sekali lagi, kembali lah jadi Macan Asia! Dirgahayu TNI ke-63. Allah SWT memberkati. Amin.
Hamzah
Jl Pahlawan KM 4 Bau-Bau Sultra
zah_inkom@telkom.net
081341699435
(msh/msh)











































