Terutama dengan banyaknya berita negatif (baca: kerusuhan di mana-mana). Kerusuhan yang terjadi pun seolah-olah hampir terjadi di semua wilayah. Mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, sampai ke Papua.
Sebenarnya penyakit apa yang sedang melanda persepakbolaan tanah air kita? Apa yang membuat persepakbolaan di negeri ini seperti jalan di tempat (atau boleh dibilang jalan mundur)?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam porsi yang benar pikiran ini seharusnya bisa menjadi sesuatu yang produktif. Tapi, sayangnya yang terjadi adalah hal yang sebaliknya. Banyak suporter kita yang masih belum bisa menerima kekalahan. Dalam benak mereka permainan di kandang harus setara dengan tiga poin. Entah dengan cara yang bagaimana.
Intimidasi tim tamu, intimidasi wasit, adalah cara-cara yang biasa digunakan. Dan, sayangnya ketika kedua cara ini kurang ampuh, lempar batu, lempar botol minuman, membakar apa pun yang bisa dibakar adalah cara yang biasa digunakan untuk 'mengubah' skor pertandingan.
Beberapa kali jambore suporter diadakan. Beberapa deklarasi damai telah dicetuskan oleh berbagai kelompok suporter. Namun, seolah-olah itu hanya sebuah kegiatan seremonial biasa yang sedikit pun tidak berbekas.
Dalam hampir 10 tahun belakangan ini di setiap akhir pekan kita disuguhi beberapa pertandingan liga-liga Eropa. Seharusnya sangat banyak pelajaran yang bisa kita serap. Salah satunya bagaimana para suporter di sana bisa menerima kekalahan dari tim kesayangannya.
Tidak sedikit wanita, anak kecil, kakek, dan nenek yang menonton bola layaknya mereka menonton bioskop. Jelas terlihat dari wajah mereka tidak ada sedikit pun rasa takut akan adanya kerusuhan.
Tidak seperti berita yang terjadi dalam akhir pekan lalu. Seorang suporter Persitara Jakarta Utara tewas dikeroyok oleh oknum suporter klub tertentu. Saya berpikir perlu berapa nyawa lagi yang harus dikorbankan agar para suporter kita mengerti akan indahnya slogan 'Siap Menang Siap Kalah'.
Masalah lain yang tak kalah pentingnya (bahkan menurut saya adalah pangkal permasalahan dari semua problematika persepakbolaan kita) adalah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Sebagai induk organisasi dari olah raga sepak bola di negeri kita PSSI layaknya organisasi yang sedang mati suri.
Nurdin Halid sebagai ketua umumnya sedang menjadi seorang tahanan karena kasus korupsi. Saya masih ingat ketika salah satu TV swasta kita menyiarkan secara langsung pelantikan pengurus PSSI ketika beliau baru memangku jabatan sebagai Ketua Umum PSSI menggantikan Agum Gumelar beberapa tahun yang lalu. Ketika melihat acara yang konon menghabiskan dana 1 miliar itu saya memang menaruh harapan yang sangat besar akan terjadi perubahan yang positif pada persepakbolaan tanah air kita.
Tapi, apa daya. Sebagai sebuah organisasi para pengurus PSSI solah-olah terlibat kontrak mati dengan Nurdin Halid yang jelas-jelas secara moral dan etika sudah tidak layak lagi untuk memimpin sebuah organisasi besar sekelas PSSI.
Bagaimana bisa beliau menjalankan roda organasi dari balik jeruji. Sanksi dari FIFA seolah-olah hanya dianggap sebagai angin lalu oleh para pengurusnya. Mereka tetap loyal dengan sang ketua umumnya.
Di titik inilah saya melihat bahwa suporter kita meniru apa yang dilakukan oleh para pengurus PSSI. Menterjemahkan keloyalan dalam konteks yang tidak pas. Para suporter menunjukkan keloyalannya pada klub mereka dengan cara tidak mau melihat tim mereka dikalahkan dengan alasan apa pun. Pengurus PSSI pun menunjukkan keloyalannya pada sang ketua umumnya dengan porsi yang menurut saya berlebih (atau sangat berlebih).
PSSI sebagai organisasi induk harusnya bisa menjadi pengayom, teladan, atau contoh bagi para organisasi-organisasi di bawahnya seperti pengda dan pengurus klub. Tapi, dengan apa yang dilakukan oleh para pengurus PSSI.
Semua aturan disiplin yang coba diterapan oleh komisi disiplin PSSI kepada klub, pemain, suporter yang membuat kerusuhan seakan tidak ada maknanya. Bagaimana bisa mereka ingin menyapu lantai yang kotor dengan sapu yang sangat kotor?
Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit renungan bagi seluruh insan sepak bola di negeri ini. Termasuk para pengurus PSSI maupun para suporter sepak bola di negeri ini. Mari kita berbenah untuk kemajuan sepak bola negeri kita tercinta.
Wahyu Nugroho
Jl Pepaya anjar Candi Baru Gianyar Bali
wahyu.nugroho@gmail.com
08128179488
Penulis adalah suporter setia Tim Nasional Indonesia (bukan suporter salah satu klub).
(msh/msh)











































