Akibatnya kepemimpinan selalu mempunyai kecenderungan kuat untuk berkembang menjadi sentralistik, otoriter, dan absolut. Dengan dampak negatifnya memberi ruang amat longgar bagi korupsi, kolusi, dan nepotisme di pusat kekuasaan itu sendiri.
Ditambah lagi cara pandangan hidup masyarakat Indonesia yang makin materialistik dengan menjadikan materi (uang, harta, kedudukan, dan lain-lain) sebagai indikator kesuksesan sehingga memotivasi masyarakat untuk mencari materi dengan segala cara agar dapat dikategorikan "sukses" dalam lingkungannya sekaligus menciptakan pola pikir "ingin cepat kaya" sehingga mengakibatkan terbentuknya masyarakat clepto minded.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atau paling tidak memberi kesempatan anggota keluarganya untuk menikmati sukses yang telah dicapainya, dengan cara memberi bantuan finansial kepada keluarganya. Jika tidak dia akan dianggap egois, pelit, tidak mengerti makna solidaritas, dan hanya mementingkan diri sendiri. Maka budaya seperti ini mengakibatkan makin menguatnya KKN.
Apalagi saat-saat menjelang lebaran ini. Masyarakat selalu diresahkan masalah THR (Tunjangan Hari Raya). Maka apa pun cara dilakukan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Uang tersebut akan digunakan untuk pulang kampung dan diberikan pada saudara-saudaranya sebagai bentuk pembuktian bahwa dirinya "sukses".
Apalagi simbol-simbol "sukses" semakin mahal. Kalau dulu mungkin hanya pakaian bagus. Sekarang agar dikatakan sukses maka orang harus pulang dengan membawa mobil mewah, handphone baru, kalau perlu juga pamer laptop. Nah, tekanan budaya seperti inilah yang membuat masyarakat kita makin terjebak pada budaya korupsi.
Oleh karena itu kita perlu mengubah budaya masyarakat yang menghargai materi kepada penghargaan kepada nilai-nilai kesederhanaan, kedamaian, cinta, dan kasih sayang.
Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen Semarang
(msh/msh)











































