Dari mulai mengamuknya bobotoh Persib saat timnya dikalahkan Persija di Stadion Siliwangi, kasus pemukulan pelatih Persipura Raja Isa yang dilakukan oleh pengurusnya sendiri, pengejaran dan pemukulan wasit yang dilakukan oleh pemain dan official Arema saat dikalahkan Persiba dan yang terakhir rusuhnya pertandingan PSM vs Persela sehingga pertandingan sempat dihentikan selama 60 menit di Makassar.
Bahkan pada saat PSSI menggelar tournamen bertajuk Piala Kemerdekaan bulan Agustus kemarin terjadi insiden yang sangat mencoreng citra persepakbolaan nasional kita di mata internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yah, begitulah. Dengan format dan sistem kompetisi kita yang saat ini boleh dikatakan paling profesional sepanjang sejarah semenjak zaman perserikatan sampai terakhir Liga Indonesia tahun lalu. Rupanya budaya, mentalitas, dan kelakuan dari insan-insan sepakbola di negeri kita masih sama saja = amatir.
Dari mulai suporter, pemain, wasit, pengurus, dan official pun semuanya ikut terlibat dalam kejadian kerusuhan yang masih sering terjadi sampai saat ini. Padahal dampak dari kerusuhan itu sangatlah merugikan klub itu sendiri. Seperti partai usiran, jadwal tertunda, denda, dan lain-lain.
Sebetulnya perhelatan kompetisi edisi 2008 /2009 sudah dibuat sedemikian rupa oleh PSSI seprofesional mungkin. Pesertanya adalah klub dengan prestasi yang telah dijaring dikompetisi sebelumnya. Selain itu klub peserta juga harus memenuhi syarat yang ditentukan oleh Badan Liga Indonesia (BLI). Baik dari segi AD ART, kepengurusan, pendanaan, dan infrastruktur stadion yang dimiliki oleh klub tersebut.
Krisis Keuangan
Yang juga semakin marak saat ini banyak klub peserta liga super yang mengalami krisis keuangan di tengah jalan. PSIS Semarang yang terus-terusan dikejar orang pajak karena punya tunggakan 2 miliar. Sehingga untuk melawat ke Jakarta saja harus menggunakan bus yang tentu sangat menguras stamina para pemain.
Kemudian gaji pemain yang belum dibayar yang dialami oleh juara bertahan Sriwijaya FC dan Persitara Jakarta Utara. Persik Kediri juga demikian. Bahkan bendaharanya sampai melakukan usaha bunuh diri karena terlilit utang pada Pemkot Kediri.
Semenjak kran APBD dikurangi memang banyak klub yang belum siap dan terkesan kelabakan cari utang sono sini untuk mencukupi kebutuhan kompetisi. Karena memang sebagian besar klub kita prosentase terbesar sumber pendanaannya selama ini dari APBD ditambah sponsor dan tiket.Β Β Β Β
Memang sangat ironis jika kita pikirkan. Sebagai contoh Persija yang untuk menggaji Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan, Ebanda Herma , Aliyudin, dan Agus Indra K saja total setiap bulannya dana APBD yang dikeluarkan lebih dari 500 juta. Belum untuk pemain lain, pengurus, pelatih, dan biaya operasional lainnya. Sedangkan di sisi lain masih banyak sektor yang harus diperhatikan oleh pemda seperti jalan rusak, pemukiman kumuh, banjir, dan lain-lain.
Melihat kondisi semacam ini saya kira Liga Super yang berjalan saat ini baru sebatas format yang diakui memang mengalami kemajuan yang signifikan dibanding format-format sebelumnya. Namun, masalah-masalah klasik seperti kerusuhan, fair play, dan pendanaan serta eksistensi klub rupanya masih melekat dan terbawa sampai saat ini.
Jadi memang benar kalau liga super kali ini belum super.
Hanis Suswanto
RT 01/10 No 7B
Kampung Sumur Klender Duren Sawit Jakarta Timur
hanis_suswanto@yahoo.com
0214603146
(msh/msh)











































