Melahirkan The National Super Economics System

Melahirkan The National Super Economics System

- detikNews
Selasa, 16 Sep 2008 09:03 WIB
Melahirkan The National Super Economics System
Jakarta - Dalam kehidupan negara dan masyarakat ekonomi merupakan salah satu organ vital yang harus menjadi perhatian khusus bagi para pemimpin negara dan masyarakat. Oleh karena itu, di mana pun kita mereview mesin-mesin politik di dunia ini di sana kita melihat kerangka ekonomi selalu ditempatkan pada obyek utama.

Bahkan, dalam ide-ide pemikiran manusia yang menyangkut ideologi, ekonomi dipandang sebagai sumber mata air yang harus selalu dipikirkan, dibentuk, dan dipraktekkan. Hal ini pada akhirnya menjadi dasar pemikiran ideologi tersebut. Baik yang secara individual (kapitalis) atau sama rata (komunis).

Hidup memang tidak terlepas dari perekonomian. Ini adalah tantangan yang diberikan Tuhan pada para pemimpin umat manusia untuk memahami bahwa dalam menjalani hidup di dunia ini sumber-sumber perekonomian yang merupakan modal kehidupan harus dapat dibagi secara adil dan berkelanjutan. Sehingga eksistensi kehidupan dapat terjaga dan tentunya juga mendorong berbagai kemajuan yang dapat memberikan kesehatan, kecerdasan, dan kekuatan bagi umat manusia untuk mengembangkan hidupnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai representasi nilai-nlai tersebut akan dibentuk sebagai sebuah organ yang menjadi kerangka kehidupan dalam negara dan masyarakat dalam sebuah sistem ekonomi nasional.

Negara dan masyarakat Indonesia saat ini memiliki persoalan yang sangat berat berkaitan dengan ekonomi. Banyak persoalan yang dihadapi Indonesia dalam menjalankan sistem ekonomi nasionalnya.

Selain persoalan fundamental ekonomi seperti pakaian, pangan, dan perumahan Indonesia juga memiliki persoalan ekonomi menyangkut pendidikan dan kesehatan. Belum lagi beratnya beban Indonesia dalam mencukupi kebutuhan energinya yang harus melakukan pembelian ke luar negeri dengan beban harga yang begitu tinggi.

Sangat ironis. Ketika kita membicarakan Indonesia yang kaya akan berbagai sumber daya alam dan mineral dengan ditopang pasar aktif sebesar 200 juta harus merasakan penderitaan ekonomi. Kemiskinan yang mengerikan.

Tentu hal ini menjadi tidak masuk akal saat kita melihat potensi para intelekual dan sarjana nasional yang secara kuantitas memiliki volume yang tidak sedikit. Namun, sekali lagi para sarjana kita gagal memunculkan pengetahuannya secara berani dan radikal dalam menggugat dan mengubah keadaan ekonomi nasional saat ini.

Kita harus mau mengakui secar jujur bahwa saat ini kita merasakan kondisi yang sama dengan kondisi di mana kita belum merdeka. Pada saat itu ketika Belanda membentuk kamar dagang VOC di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai koloninya saat itu kita merasakan ketidakadilan dalam praktek ekonomi antara Belanda dengan Indonesia. Sehingga perang adalah jalan yang disepakati secara nasional oleh bangsa kita.

Dalam konteks kekinian meski perang bukan hal yang menguntungkan jika kita ambil namun dengan kondisi yang sama pada masa sebelum kemerdekaan di mana kekuatan permodalan asing terlalu kuat menghegemoni sistem perekonomian Indonesia melalui bertekuklututnya para elit negara Indonesia sehingga pada akhirnya dapat terasa sebuah kooptasi ekonomi besar-besaran dari negara terhadap rakyatnya.

Sebagai sebuah bangsa yang memiliki cita-cita kemandirian ekonomi dalam demokrasi ekonominya tentunya harus mulai bergerak untuk mengubah dan mengganti sistem ekonomi yang jauh dari basis kerja sama. Namun, lebih tunduk pada para pemodal.

Perubahan sistem ekonomi nasional secara besar-besaran dapat dilakukan melalui keberanian dan kemampuan untuk membubarkan sistem yang ada dalam sistem Bank Indonesia. Sebagai sistem yang memiliki otoritas moneter negara Indonesia.

Bank Indonesia merupakan sebuah institusi yang menjadi representasi utama ideologi ekonomi negara Indonesia. Saat ini sistem perbankan yang dijalankan di Indonesia sudah saatnya diganti dengan sistem perekonomian kerja sama di mana antara nilai, barang, dan jasa yang bersifat riil dapat termanifestasi dalam perekonomian yang saat ini kecil namun produktif.

Pembagian modal, kesempatan, dan pasar bagi para pelaku ekonomi kecil yang sebenarnya secara potensi sangat potensial jika dilihat dari kemampuan produksi, akses pasar, dan harga dalam skala yang terbatas.

Dengan diadakannya konversi dari sistem perbankan nasional menjadi sistem ekonomi kerja sama maka permodalan yang saat ini berada dalam unit-unit keuangan yang menggunakan sistem perbankan di mana pembungaan menjadi potensi transaksi alih modalnya. Maka nantinya tidak akan terjadi transaksi ekonomi kredit pembungaan di negara kita melainkan transaksi perekonomian dalam bentuk saling bekerja dan bersama-sama mencari keuntungan.

Negara di sini harus menjamin para pelaku usaha dengan membentuk jalan untuk membawa koperasi-koperasi yang saat ini berada di pinggiran menempati posisi ke tengah-tengah perekonomian nasional. Jika Pasar modal saat ini hanya berorientasi pada pengakumulasian modal dalam finansial kita harus mengubah sistem pasar modal yang ada saat ini untuk menopang perekonomian riil.

Berbagai industri yang berkaitan dengan manufacturing seperti pabrik juga harus dipaksa untuk menggunakan sistem koperasi dalam pembagian kerja samanya. Jika industri ini dibiayai melalui tangan negara.

Sedangkan untuk industri kecil negara wajib mendorong untuk menjadi industri menengah dan besar dengan menjamin secara mutlak dan mendampingi dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia dan manajemennya sehingga terjadi efisiensi dalam praktek-prakteknya.

Pemikiran di atas merupakan pemikiran yang didasari perubahan secara revolusioner untuk melahirkan The National Super Economics System yang berbasis kerakyatan dan bertujuan menjadi kekuatan adi daya ekonomi kerja sama Indonesia.
Β 
Yudi Syamhudi
Sekjen Pergerakan Revolusi Indonesia
Jl Wulung No 29 Yogyakarta
Ysyamhudi@yahoo.com
08562887091

(msh/msh)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads