Caleg dan Hakekat Demokrasi

Caleg dan Hakekat Demokrasi

- detikNews
Jumat, 12 Sep 2008 17:21 WIB
Caleg dan Hakekat Demokrasi
Jakarta - Dalam daftar calon anggota legislatif (caleg) sederetan nama artis bermunculan. Itulah yang kemudian dipertanyakan terutama menyangkut kompetensinya. Memang dalam ranah politik tidak dikenal soal-soal itu karena bukankah yang penting kepercayaanΒ  diberikan rakyat.

Siapa pun boleh 'jadi' caleg asalkan memperoleh suara banyak. Padahal dalam
perjalanannya nanti masih sangat dibutuhkan kompetensi.

Katakanlah kalau sekarang disebut era global yang menuntut daya saing tinggi maka kita pun membutuhkan politikus. Termasuk wakil rakyat yang profesional. Bukan karbitan dan yang asal-asalan. Jadi, masalahnya bukan artis atau tidak melainkan lebih kepada kemampuannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemahaman mengenai demokrasi memang barulah sebatas demokrasi prosedural. Juga demokrasi yang ditandai oleh semangat serta paham pragmatis.

Politik lalu berkonotasi uang dan sehingga bisa jadi atau tidak jadi juga karena uang. Proses rekrutmen yang lebih mengandalkan landasan ideologi, kualitas, serta tingkat kompetensi menjadi sering diabaikan.

Kultur lama yang berbau feodal pun mewarnai sistem perekrutan sehingga banyak muncul apa yang disebut dinasti politik. Semua itu tak masalah asalkan tetap berpijak pada sistem yang terbuka untuk memperoleh hasil maksimal. Justru itulah yang sekarang belum banyak diperhatikan.

Tidaklah mungkin menolak berbagai fenomena di atas termasuk banyaknya artis yang terjun ke dunia politik. Karena bagaimana pun semuanya wajar dan tetap dalam kerangka demokrasi.

Sangat penting untuk diingatkan adalah komitmen terhadap tanggung jawab yang lebih besar dalam mewujudkan lembaga parlemen yang berbobot. Baik dari sisi moral maupun kapabilitas.

Pemimpin dan wakil rakyat mesti benar-benar menjadi alat perjuangan partai maupun penyalur aspirasi masyarakat. Dan untuk itu dibutuhkan kriteria tertentu. Sayang waktu yang pendek membuat modal popularitas dan uang menjadi lebih menentukan. Inilah salah satu implikasi demokrasi prosedural.

Demokrasi diukur keberhasilannya dari proses yang ada tanpa terlalu peduli dengan hasil yang dicapai. Padahal cita-cita demokrasi yang sesungguhnya adalah untuk menyejahterakan dan membahagiakan rakyat lahir batin, mencapai masyarakat adil makmur.

Saya pikir itulah hakekat demokrasi. Apapun caranya sejahterakan rakyat.

Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Mijen Jatisari Semarang
eroscintapadamu@yahoo.co.id
085641765201

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads