Do Something

Do Something

- detikNews
Senin, 08 Sep 2008 17:05 WIB
Do Something
Jakarta - Di tengah wacana yang berkembang antara capres (calon presiden) dari kaum muda dan golongan tua terutama yang dilontarkan oleh Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring banyak menimbulkan perdebatan dan serangan. Terutama dari para politisi tua yang masih ingin mencalonkan kembali dirinya menjadi nomor satu di Indonesia.

Erat kaitannya dengan hal itu bahwa realitas perpolitikan di negara kita masih dalam wilayah monitoring dan cengkraman kekuasaan para politisi tua (hygiemoni senioritas). Mereka enggan memberikan ruang yang bebas buat para politisi muda untuk maju dalam pertarungan pemilihan presiden (pilpres). Politisi muda masih dianggap kurang berpengalaman. Baik dalam ilmu secara teoritik maupun dalam hal tataran politik praktis.

Kenyataan ini sangat memilukan karena tidak ada jaminan bahwa para politisi tua ini mampu membawa bangsa ini kearah yang lebih baik. Hal ini terbukti selama Indonesia dipimpin oleh para politisi tua bangsa ini semakin terpuruk dan corrupt. Belum ada perbaikan yang secara signifikan yang mampu membawa rakyat ke arah yang lebih baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Harga-harga makin membumbung tinggi. Nilai beli masyarakat semakin rendah dan kehidupan makin morat marit. Kemiskinan makin bertambah dengan adanya kenaikan di segala bidang kebutuhan hidup dan banyak pengangguran.

Mencermati kepiluan semacam ini dikarenakan para politisi kebanyakan omong cuma retorika. Kebanyakan memberikan janji-janji surgawi yang kenyataannya cuma isapan jempol belaka dan bersifat utopis (melangit).

Hendaknya perpolitikan di negara kita bisa membumi dan diterapkan secara riil segala kebijakan yang telah dibuat dan dijanjikan demi kemakmuran rakyat dan bangsa ini.

Do something. Begitulah kiranya sebuah padanan kata yang pantas untuk para politisi saat ini. Berbuatlah sesuatu daripada banyak omong yang cuma mimpi dan janji yang jauh dari kenyataan.

Sudah saatnya bangsa ini dipimpin oleh para politisi muda yang masih mempunyai cita-cita dan idealisme segar dan semestinya para politisi tua tidak mengkooptasinya supaya gerak dan dinamika politisi muda makin berkembang dan banyak para pemuda yang mampu berkiprah di kancah perpolitikan. Para politisi tua hendaknya mendorong dan membackup kaum muda untuk maju.

Lihatlah kebijakan yang diambil oleh Negara Cina. Dengan penduduk sekitar 1,3 miliar pengangguran diperkirakan cuma 20 jutaan orang.Berapa persenkah? Meraka mampu membawa bangsanya maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa di Eropa dan Amerika. Para pemudanya yang belajar di luar negeri yang mampu dan credible diambil dipekerjakan dengan gaji yang memadai sehingga peran pemuda yang berkompeten mampu menjadikan bangsanya maju dan sejajar dengan bangsa lain.

Lain halnya dengan bangsa kita yang penduduknya cuma 200 juta lebih. Masih belum bisa bangun dan berdiri sejajar dengan bangsa maju. Kaum intelektual mudanya yang pintar malah banyak berkeliaran di negara lain. Cari penghidupan yang lebih layak di negara lain.

Semuanya ini tertumpu kepada kebijakan pemerintah yang salah yang tidak mampu memberikan kesempatan kepada para kaum muda yang berkompeten untuk berkiprah demi negeri ini.

Mereka seharusnya direkrut oleh negara dan pemerintah untuk digerakkan pada sektor-sektor riil yang dapat memberikan sumbangan baik pemikiran, ide-ide, dan pengalamannya selama belajar di negeri orang. Begitulah seharusnya kebijakan yang diambil seperti kebijakan Pemerintah Cina.

Bangsa kita ini ributnya cuma memikirkan kursi kekuasaan dan keunggulan partai masing-masing dalam pemilu. Kiranya merasa bangga jika partainya menang dan besar suaranya dalam pemilu dan merasa paling disukai oleh rakyat. Padahal yang paling esensi yang mesti dipikirkan adalah bagaimana setelah memperoleh kemenangan melaksanakan janji-janji kampanye secara nyata (riil).

Rakyat bukanlah menyukai partai kiranya tapi memilih partai yang paling baik programnya di antara program partai-partai yang terburuk dan tidak mampu mengadopsi keinginan rakyat saat ini.

Perubahan nasib hidup yang rakyat inginkan. Harga-harga serba murah dan terjangkau. Lapangan pekerjaan yang mudah. Pendidikan yang merata buat semua lapisan masyarakat. Bukan cuma kalangan yang berduit saja.

Memang menyakitkan kenyataan negara kita ini. Sekarang partai-partai belum memberikan solusi yang nyata dalam membawa kehidupan yang sejahtera bagi rakyat. Kebijakan-kebijakan pemerintah kurang pro terhadap nasib rakyat kecil.

Pengusuran-penggusuran kaki lima dan pembangunan mall-mall besar kelihatan domplang dan sangat mencolok. Hal ini begitu menyakitkan hati rakyat kecil. Ironi memang pemerintah yang dipilih rakyat malah menyengsarakan rakyat dan menyakitkan hati rakyatnya yang memilih mereka.

Kiranya pemilu 2009 dapat dijadikan momen penting bagi bangsa ini untuk memilih para politisi yang benar-benar nyata kontribusinya terhadap kepentingan rakyat. Bukan untuk kepentingan dirinya, keluarganya, partainya. Terlebih buat proyek usahanya.

Semoga masih ada harapan di bumi Indonesia yang kita cintai ini. Harapan akan
tampilnya pemimpin-pemimpin negeri ini yang mampu membawa rakyatnya hidup adil, makmur, dan sejahtera. Entahlah? Yang jelas pesimistis masih membayangi benak rakyat di negeri ini sebab janji tinggalah janji. Realitasnya lain lagi.

Ghie
Melong Raya Cimahi
paradigma.rider@yahoo.co.id
02292554639

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads