Oooh Indonesia

Oooh Indonesia

- detikNews
Jumat, 05 Sep 2008 17:28 WIB
Jakarta - Duh, bangsa kita makin tahun makin terpuruk. Walikota, bupati, maupun gubernur seakan-akan hanya mengumbar janji indah. Sebagai contoh lihat jalan di Jakarta (eks daerah Fatmawati). Jalan banyak yang berlubang. Trotoar tidak terarah dan bersih. Mbok walikota or bupati terkait tanpa nunggu suara rakyat bergerak merapikan jalannya.

Malu. Apa kata dunia!. Mengumbar Visit Indonesia 2008 tapi yang ada malah kita bakal jadi bahan celaan karena yang dilihat hanya kondisi jalan yang notabene bukan masalah serius.

Trotoar ataupun jalan aspal hanyalah masalah kecil yang tidak patut dibicarakan. Cuma saya heran kenapa sudah lebih dari 3 tahun tidak ada perbaikan dan pembangunan infrastruktur jalan. Kalau alasan tidak ada biaya itu hanya klasik saja! Bagaimana mau membudayakan jalan kaki atau bersepeda wong trotoar saja sudah tidak layak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara kita ini aneh. Di saat negara lain sibuk dan panik memikirkan bagaimana caranya agar rakyat makmur, 1-2 tahun ke depan negara terus berkembang, perekonomian terus ditingkatkan, dan rakyat seakan-akan dimanja dengan fasilitas-fasilitas negara Republik Indonesia masih memikirkan harga gas yang naik, telur yang langka, dan bahan pangan yang fluktuatif.

Sungguh ironis. Sudah tergambar jelas bahwa bulog dan menteri pertanian tidak berfungsi. Semestinya hal tersebut bukanlah hal yang patut dibikin pusing.

Contoh Negara Malaysia. Kita serumpun. Tapi sekarang mereka jauh di atas kita. Tak ayal jika negara kita dicemoohkan. Hal terkecil (masalah pangan saja masih belum beres dari tahun ke tahun). Bagaimana masalah besar.

Saya heran. Sejak reformasi negara kita semakin terperosok. Pembangunan merosot, dan seakan-akan pemerintah hanya sibuk memikirkan politik dan kepentingan internnya.

Saya setuju sekali jika 'repelita' dihidupkan kembali dan KPK diganti menjadi Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena saya liat KPK sekarang ini hanya sebagai alat politik untuk membalas dendam atau menjatuhkan lawan politiknya.

Sungguh hal yang tidak penting yang dipenting-pentingkan. Korupsi seakan-akan menjadi hal yang utama.

Sejak reformasi saya tidak pernah mendengar gembar-gembor yang mengharukan tentang tindakan pemerintah meningkatkan perekonomian, membangun fasilitas umum yang berkualitas, dan long lasting, memakmurkan rakyat, petani, dan menjamin warga dari kenaikan harga-harga sembako.

Ke manakah pikiran para petinggi negara kita yang konon pada saat kampanye mereka bergombar-gambirkan hal itu. Berita yang saya rasa kita semua dapat lihat menjelang lebaran adalah tentang kemacetan arus mudik karena perbaikan jalan, pembangunan jembatan. Hal tersebut seakan-akan tidak terpisahkan.

Kenapa tidak kita tenderkan saja proyek-proyek jalan, jembatan, rambu-rambu lalu lintas kepada asing. Mahal sedikit tapi awet, mutu terjamin, tidak seperti saat ini. Harga boleh murah tapi setiap maksimal 1 tahun minta diperbaiki. Malah ujung-ujungnya lebih mahal.

Apa karena takut sepi proyek or takut tidak ada obyekan? Sebenarnya Presiden tidak usah pusing karena dia punya gubernur, bupati, walikota, lurah, dan sebagainay yang sebagaimana kita ketahui mereka berfungsi membantu pemerintahan, pembangunan, dan sebagainya dari tingkat pusat ke plosok.

Tapi, kenapa sepertinya masih belum 60% berfungsi? Untuk calon presiden yang baru saya harap belajarlah dari pengalaman negara-negara tetangga. Eyang Alm Bapak Soeharto dalam membangun negara mengambil positifnya saja. Hidupkan lagi program repelita. Maksimalkan fungsi gubernur, dan sebagainya.

Tingkatkan perekonomian, pertanian, dan infrastruktur jalan. Kalau bisa tanpa terjadi jatuh korban atau rakyat bersuara. Jalan yang rusak langsung diperbaiki tanpa komando. Toh untuk kepentingan rakyat dan pariwisata.

Kurangi Urbanisasi, dan tingkatkan ekonomi daerah. Buat sistem penjaminan local people dapat jaminan kerja 70% sisanya boleh pendatang supaya setiap daerah di Indonesia bisa serempak maju. Jadi tidak numpuk di Jakarta.

Sama satu lagi, wajibkan upacara setiap senin tuk siswa SD karena saat ini semakin banyak anak-anak yang tidak hapal lagu kebangsaan dan nasional negara kita.

Yaahhh. Sekian dulu surat uneg-uneg dari saya yang merasa miris melihat ketinggalan negara kita ini yang tahun 60-90-an sempat dibangga-banggakan dan disegani negara tetangga. Hidup Indonesiaku .. Hidup negriku .. tanah airku!

Adnan
Tabanas 1B Jakarta
adnannendya@yahoo.com
+628179123001

(msh/msh)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads