Sebutir Telur, Segelas Susu, dan Sepotong Daging Investasi Kecerdasan Bangsa

- detikNews
Senin, 07 Apr 2008 08:34 WIB
Jakarta - Ironis. Barangkali kata tersebut tidak berlebihan untuk menggambarkan kondisi bangsa ini. Di tengah majunya kecanggihan teknologi dan informasi (era globalisasi), ternyata di Negara ini masih ditemukan kasus gizi buruk dan kematian warga akibat kelaparan.

Sebut saja kejadian beberapa saat yang lalu yang menimpa seorang ibu dan anaknya meninggal akibat kelaparan di Makassar, Sulawesi selatan. Bahkan kondisi tersebut diperparah dengan masih banyaknya penduduk miskin di negeri ini.

Menurut Badan Pusat Statistik, penduduk miskin di Indonesia hingga Maret 2007 mencapai 37,17 juta orang (16,58 persen). Dari jumlah itu, sekitar 68,55 persen merupakan penduduk pedesaan. Padahal Indonesia merupakan negara yang mempunyai beraneka ragam kekayaan alam. Kekayaan alam tersebut bukan hanya terdapat pada sektor kekayaan alam migas seperti minyak bumi dan bahan tambang saja, namun juga kekayaan alam non-migas seperti tersedianya lahan pertanian dan peternakan yang cukup memadai.

Melihat permasalahan tersebut, sektor agribisnis peternakan merupakan salah satu sektor yang memiliki peran lumayan strategis. Khususnya dalam mengatasi krisis pembangunan nasional tersebut. Agribisnis peternakan memiliki peran yang cukup signifikan dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), ketahanan pangan, penciptaan lapangan pekerjaan, pengurangan angka kemiskinan, peningkatan rata-rata pendapatan penduduk nasional dan perolehan devisa melalui kegiatan ekspor. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika agribisnis peternakan diharapkan sebagai sektor pertumbuhan baru, baik dalam bidang pertanian maupun dalam perekonomian nasional.

Agribisnis peternakan juga mempunyai peran sebagai penghasil sumber protein hewani sehingga dapat berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. SDM yang berkualitas merupakan faktor penentu dalam upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa Indonesia pada percaturan global.

Upaya mempersiapkan SDM Indonesia yang berkualitas salah satunya tercermin dari tingkat pencapaian pangan yang disediakan dan yang dikonsumsi, yang diukur dengan jumlah kebutuhan pangan/gizi yang dianjurkan. Hal ini dapat tercapai dengan terwujudnya ketahanan pangan yaitu tersedianya pangan yang cukup dan terjangkau oleh masyarakat serta konsumsi pangan yang beragam dan memenuhi persyaratan gizi dari waktu ke waktu.

Tentunya hal ini tidak terlepas dari peranan agribisnis peternakan sebagai salah satu penghasil komoditas pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi dalam mencerdaskan dan menyehatkan bangsa. Komoditas hasil peternakan utama yang mempunyai nilai gizi tinggi sehingga kebutuhan akan komoditas ini selalu meningkat adalah telur, susu, dan daging.

Telur, Susu, dan Daging
Tidak dapat dipungkiri, produk peternakan seperti telur, susu, dan daging mempunyai kandungan protein dan asam amino yang sangat dibutuhkan (essensial) oleh tubuh untuk mencetak generasi-generasi cerdas penerus pembangunan bangsa.

Bahkan, kandungan protein dan asam amino yang terdapat pada produk peternakan tersebut, selain mampu memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh atau individu seseorang juga mampu untuk meningkatkan kekebalan (immunity) tubuh terhadap serangan dan infeksi berbagai penyakit.

Arti Penting Protein dan Asam amino
Dalam pemaparannya, Prof Wasmen Manalu, staf pengajar Ilmu Pakan dan Nutrisi Hewan FKH IPB, menyatakan bahwa protein merupakan senyawa organik kompleks dengan berat molekul tinggi yang terdapat pada semua sel hidup, di mana sangat erat kaitannya dengan semua fase aktivitas yang meliputi kehidupan sel. Sedangkan asam amino merupakan senyawa hasil perombakan protein oleh enzim, asam atau alkali.

Meskipun lebih dari 200 asam amino telah diisolasi dari bahan-bahan biologis, hanya 20 di antaranya yang umum ditemukan sebagai komponen protein. Adapun fungsi protein dan asam amino bagi tubuh, di antaranya: pertama, protein makanan berfungsi sebagai sumber untuk tubuh dalam pembentukan zat-zat yang mengandung N (Nitrogen).
Kedua, protein makanan berfungsi sebagai sumber asam amino essensial.
Ketiga, Sejumlah asam amino digunakan untuk pembentukan protein dan berada dalam tubuh dalam bentuk polipeptida dan protein yang lebih besar (protein fungsional, struktural, dan produk).
Keempat, Sejumlah asam amino digunakan untuk sintesis glukosa (Glukoneogenesis).
Kelima, sejumlah asam amino digunakan untuk sintesis nukleotida dan asam nukleat, neurotransmitter (berhubungan dengan syaraf atau otak) dan senyawa biogenik amin, hormon protein dan peptida.
Keenam, asam amino dapat digunakan untuk menghasilkan energi dan disimpan dalam bentuk glikogen atau trigliserida.

Di samping itu sebagai komponen penghasil energi (sumber tenaga), sumber pembangun dan sumber pengatur tubuh, baik pada masa pertumbuhan maupun masa perkembangan, termasuk berfungsi sebagai nutrisi dalam perkembangan otak (Brain Developmental). Kebutuhan protein dan asam amino tersebut harus dapat dipenuhi dan dicukupi oleh tubuh.

Keseimbangan kecukupan protein dan asam amino harus senantiasa terjaga.
Bahkan jika kekurangan (defisiensi) asam amino dapat menimbulkan gejala-gejala klinis seperti adanya hambatan pada perkembangan mental, gangguan neurologis (syaraf), gampang muntah, kejang, cacat dalam kemampuan berbicara, berubahnya keadaan kulit, dan yang lebih parah lagi dapat mengakibatkan kematian individu.

Selain protein dan asam amino, ternyata produk hasil peternakan juga banyak mengandung zat-zat penting (gizi) yang lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Zat penting lain tersebut di antaranya lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Zat-zat tersebut secara umum mempunyai kadar kandungan yang berbeda-beda pada tiap produk hasil peternakan.

Peluang dan Tantangan
Agribisnis peternakan mempunyai prospek dan peluang yang baik untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh kondisi Indonesia yang memiliki keunggulan kompetitif (kompetitif advantage) dalam komponen biaya input untuk tenaga kerja yang relatif murah dibandingkan dengan Negara lain di ASEAN.

Selain itu, membaiknya iklim usaha juga akan mampu merangsang dan menarik investor baik swasta maupun asing dalam memanfaatkan potensi dan peluang usaha agribisnis peternakan.

Namun demikian, peluang yang besar dari agribisnis peternakan, khususnya dalam pembentukan SDM bangsa yang berkualitas sedikit terganjal dengan rendahnya konsumsi masyarakat terhadap pangan asal ternak (telur, susu, dan daging). Terlebih pada masyarakat menengah ke bawah yang masih memandang pangan asal ternak merupakan 'makanan mewah'.

Tetapi, jika ditelaah lebih jauh, sebenarnya pangan asal ternak merupakan komoditi yang dapat dijangkau semua lapisan masyarakat. Hal ini dapat dibandingkan misalnya antara harga satu batang rokok berbanding lurus dengan harga satu butir telur (taksiran harga telur Rp. 700,-).

Pada kenyataannya masyarakat lebih banyak mengkonsumsi rokok setiap harinya bahkan mencapai satu bungkus rokok perhari. Jika satu bungkus rokok dikonversi menjadi telur maka rata-rata setiap keluarga sebenarnya mampu membeli 0,5-1 kg telur perhari. Kondisi tersebut menjadi gambaran sebenarnya masyarakat sangat mampu untuk membeli pangan asal ternak yang sudah diketahui manfaatnya sebagai penyumbang gizi yang besar.

Namun, pola konsumsi masyarakat yang masih menganggap pangan asal ternak sebagai 'makanan mewah' yang menjadikan tingkat pemahaman untuk mengkonsumsi pangan asal ternak menjadi rendah.
 
Berdasarkan kondisi demikian, harus ada upaya kongkret dari berbagai stacholder dan segenap elemen masyarakat untuk meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap protein hewani. Seperti diadakannya kampanye pendidikan gizi tentang pentingnya mengkonsumsi protein hewani yang berkesinambungan (continue). Bahkan tidak berlebihan dan sangat tepat, jika disampaikan bahwa Sebutir Telur, Segelas Susu, dan Sepotong Daging adalah Investasi Kecerdasan Bangsa.

Semoga dengan adanya peningkatan konsumsi protein hewani yang berperan dalam penciptaan lapangan kerja dapat mengurangi permasalahan kemiskinan dan pengangguran. Bahkan, kasus kelaparan dan gizi buruk di Indonesia. Semoga.

Iwan Berri Prima S KH
Wakil Direktur Bidang Advokasi WAMAPI
(Wahana Masyarakat Agribisnis Peternakan Indonesia)
berry_vetipb@yahoo.com
081310190820
(msh/msh)