Misalnya serangan buat Syahrial Oesman berupa pernyataan Syahrial Oesman sebentar lagi dipenjara terkait kasus pelabuhan Tanjung Api-Api, sementara serangan buat Alex Noerdin berupa seruan jangan memilih calon dari parpol yang selama ini menaikkan harga BBM dan menyengsarakan rakyat. Dampaknya, kedua pihak melaporkan masing-masing selebaran kampanye hitam tersebut ke Panwaslu.
Kampanye hitam atau black campaign bukan hanya terjadi di media massa, selebaran, juga di dunia maya. Perang kampanye hitam berlangsung di milis, blog, dan kanal video youtube.
Bahkan sebetulnya perang selebaran maupun pemberitaan di media massa, jauh sebelumnya telah berlangsung di dunia internet. Misalnya video soal perjudian yang dituduhkan kepada Syahrial Oesman sudah beredar di www.youtube.com dengan judul “BUKTI NYATA!! (SKANDAL CAGUB SUMSEL SYAHRIAL OESMAN BERJUDI)”.
Menjelang memasuki masa kampanye, Roy Suryo menjelaskan kepada pers bahwa gambar dalam video itu benar, yang kemudian hampir semua media nasional membuatnya menjadi berita, termasuk meminta keterangan dari Syahrial Oesman dan pihak-pihak lain.
Serangan terhadap Alex Noerdin juga terjadi.Misalnya persoalan dugaan selingkuh dirinya dengan mantan istri Azwirdhi dengan judul “Alex Noerdin vs Andria Sisca (Skandal Sekayu Muba Sumsel)” yang dimuat youtube melalui channel alexsiscasexayu pada 21 April 2008.
Krisis Pemimpin
Terlepas dari boleh atau tidaknya berkampanye hitam, saya melihat bahwa saat ini, khususnya Sumatra Selatan mengalami krisis kepemimpinan atau calon kepala daerah. Gambaran ideal masyarakat soal sosok pemimpin, dari sisi moral, tampaknya sulit didapatkan. Soal benar atau tidak kampanye hitam yang disodorkan sejumlah pihak itu membuktikan bahwa ada persoalan besar yang berlangsung pada aktor politik maupun pemimpin di Indonesia. Istilahnya, masyarakat seakan terpaksa memilih sesuatu yang sedikit baik di antara yang buruk.
Sejumlah pemikir politik menawarkan solusi harus muncul pemimpin muda, yang mungkin secara moral jauh lebih baik dari pemimpin sebelumnya. Namun kasus yang menimpa politikus muda macam Al Amin Nasution membuat masyarakat menjadi pesimistis. Akibatnya banyak yang mengambil sikap menjadi golput alias tidak menggunakan hak suara dalam menentukan seorang kepala daerah.
Saya sendiri mungkin tidak sepakat dengan sikap golput. Menurut saya, ada dua pilihan dalam menyikapi kondisi ini. Pertama, terus menawarkan calon pemimpin muda dengan harapan akan ada yang muncul dengan karakter kepemimpinan yang diinginkan rakyat. Asumsinya politikus muda terus lahir, dan politikus tua kian berguguran.
Kedua, memilih yang baik dari yang buruk dengan memilah standard dosa yang termaafkan dan tidak termaafkan, kemudian menghitung prestasi, program, maupun komitemennya dalam keberpihakan terhadap rakyat untuk hari ini dan masa mendatang, tentunya dengan fakta-fakta yang terukur.
Keterangan : Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(tw/iy)











































