Kita Masih Jadi Bangsa yang Kesusu
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kita Masih Jadi Bangsa yang Kesusu

Rabu, 20 Agu 2008 10:24 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kita Masih Jadi Bangsa yang Kesusu
Jakarta - Ada hal menarik yang patut kita cermati saat pendaftaran calon legislatif (caleg) di KPU dinihari tadi. Menjelang ditutupnya pendaftaran pada pukul 00.00 WIB, tepat pada pukul 23.59 WIB Partai Syarikat Indonesia (PSI) resmi mendaftarkan calegnya. Itu pun yang mereka serahkan hanya daftar nama caleg tanpa disertai berkas-berkas yang dibutuhkan.

Puluhan partai lain termasuk partai besar seperti Partai Golkar juga mendaftarkan calegnya di detik-detik terakhir menjelang penutupan. Hanya PDIP yang sehari sebelum penutupan pendaftaran sudah menyerahkan daftar calegnya.

Hal serupa juga terjadi saat parpol mendaftarkan partainya di Depkum dan HAM beberapa waktu lalu. Saat last minutes, mereka berbondong-bondong memenuhi Kantor Depkum dan HAM yang terletak di Jl HR Rasuna Said. Tak dapat dipungkiri, mereka pun datang terburu-buru agar deadline sebelum pukul 00.00 WIB dapat terlampaui.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kita memang akrab dengan sikap yang selalu terburu-buru, atau kesusu dalam istilah Jawanya. Padahal, waktu yang kita punya sangat melimpah.

Sikap kesusu atau terburu-buru mendaftar di detik-detik terakhir menjelang penutupan pendaftaran ini dikritik oleh anggota Bawaslu Wahidah Sueb.

"Mereka seharusnya lebih siap. Golkar misalnya, seharusnya sebelum hari terakhir," kata Wahidah di Kantor KPU Rabu (20/8/2008) dinihari tadi.

Sikap kesusu ini tak hanya tercermin saat pendaftaran caleg. Di hampir semua lini kehidupan bangsa kita selalu dihiasi oleh sikap kesusu, baik dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan berpolitik, atau pun dalam pencapaian terhadap cita-cita kita inginkan.

Untuk menjadi seorang bintang film atau penyanyi misalnya, banyak cara-cara instan yang disuguhkan seperti banyaknya ajang idol yang menjanjikan sesorang untuk cepat kaya, terkenal dan hidup mewah. Semua dilakukan dengan cara yang instan, kesusu.

Akhirnya, hasil yang didapatkan pun kebanyakan karbitan, tidak matang seperti melalui jalur normal.

Untuk menjadi seorang anggota DPR, sepertinya saat ini tak banyak syarat yang harus kita lalui. Cukup kita terkenal, kaya, dan punya kesempatan, menjadi seorang anggota dewan, bupati, walikota, bahkan gubernur pun sungguh-sungguh tak sulit. Orang akan silau dengan ketenaran kita, kekayaan kita. Dan akhirnya memilih kita.

Sikap kesusu atau terburu-buru juga sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering terburu-buru puas dengan apa yang telah kita capai. Akhirnya, kita pun terjebak dalam kepuasan semu. Sementara yang lain telah jauh meninggalkan kita.

(anw/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads