Mutilasi, Teror Paling Nyata
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Mutilasi, Teror Paling Nyata

Kamis, 24 Jul 2008 11:41 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Mutilasi, Teror Paling Nyata
Jakarta - Entah rangsangan luar biasa darimana sehingga pelaku mutilasi dengan ringan tanpa takut, mengiris-iris korban menjadi potongan-potongan daging yang membuat bulu kuduk berdiri.
 
Mutilasi, saking luar biasanya, selalu menyita perhatian publik. Terlebih, bila pelaku tidak tunggal melainkan kelompok seperti dalam pembersihan etnis (genosida) ataupun kejahatan perang.
 
Konon, perilaku bar-bar ini diwarisi oleh perilaku hewan dalam mempertahankan hidup. Tepatnya, meminjam istilah Charles Darwin (1809-1882), survival for the fittest: siapa yang kuat, dia yang menang. Kalau ingin lolos dari seleksi alam, singkirkan lawan dan musuh. Bila perlu dihabisi sampai dicincang habis. Begitu kira-kira pendapat Darwin.
 
Meminjam teori itu, ahli kejiwaan asal Italia Cesare Lombroso (1836-1909) memodifikasi untuk analisis pelaku mutilasi. Menurutnya, para pelaku kriminal kelas kakap- termasuk mutilasi ini-mempunyai ciri fisik khusus yakni kepala besar, tulang rahang asimetris, muka bengis dan sejumlah faktor fisik lainnya.
 
Akan tetapi, seperti pada umumnya ruang akademisi yang penuh argumentasi, pendapat Lamboroso yang cukup berpengaruh dibantah habis-habisan. Oleh para pengkritiknya, kejahatan luar biasa itu bukannya didorong oleh naluri bertahan hidup dari seseorang, melainkan karena kondisi sosial politik yang sangat buruk. Kondisi itu bisa saja karena tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, trauma sosial, ataupun kondisi perang yang tidak berkesudahan.
 
Agak berbeda, bagi kaum moralis pandangan itu pun masih jauh dari sempurna. Kalangan ini berpendapat, bahwa pelaku kriminal luar biasa baik tunggal ataupun kelompok didorong oleh runtuhnya sistem moral dalam mengendalikan kearifan bermasayarakat.
 
Pada saat moral dilalaikan, mutilasi menyeruak dalam berbagai variannya baik dikancah medan perang ataupun damai. Sejak zaman Perang Salib hingga genosida di Rwanda.
 
Terlepas dari anasir diatas, mutilasi pada efeknya hanyalah menyebar teror mendalam bagi masyarakat. Ketika pelaku mutilasi bocah di Pulogadung dan Cakung beberapa bulan lalu belum terungkap hingga detik ini,  kejadian itu adalah teror. Aksi yang membuncah menjadi ketakutan yang terpendam baik disadari ataupun tidak. Kira-kira, hati orang tua yang was-was berbisik begini: jangan-jangan giliran anak saya yang menjadi korban.
 
Di kalangan individual, pelaku mutilasi tidak lain merupakan teroris paling nyata. Dia hadir ditengah masyarakat. Dia bisa dari kawan dekat kita, tetangga ataupun orang asing yang tidak dikenal sama sekali. Bukan dari pria bertato atau petugas berseragam berbadan tegap. Tetapi dia berwajah biasa-biasa saja, tidak terlalu seram namun bertatap mata dingin.
 
Inilah sebenarnya kenapa publik selalu mengambil perhatian pada kejadian mutilasi. Bukan karena rating berita tinggi atau page views membengkak. Tidak lain karena rasa aman bermasyarakat tengah dirongrong dan diteror. Baik disadari atau tidak. Bahkan oleh orang yang kita kenal dekat sekalipun.

Keterangan : Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(Ari/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads