Saling kecam dan saling klaim sebagai yang benar memang bukanlah kebenaran. Itu hanyalah apologia untuk mencari pembenaran. Sebab kebenaran hakiki bukan untuk digembar-gemborkan tapi dijalani. Dengan begitu, jika definisi itu ditarik dalam kancah politik, maka kebenaran eksistensial itu sebenarnya hanyalah omdo. Omong doang.
Politik memang abu-abu. Tidak punya warna tegas. Yang ada hanyalah kepentingan. Memenangi kompetisi dengan menjalankan strategi. Sah menggunakan jurus Sun Zsu. Legal mengaplikasikan teori Machiavelli. Bebas pakai gaya Semar. Dan tidak dilarang melancarkan jurus dakwah yang sarat muatan agama. Syaratnya, diperbolehkan aturan main, dan dikemas dengan cantik. Toh politik berebut kuasa itu indah jika dijalankan dengan cerdas dan penuh etika.
Di jalur abu-abu memang tidak dikenal salah dan benar. Yang ada hanyalah kekalahan dan kemenangan. Berkuasa dan dikuasai. Memerintah dan diperintah. Dan untuk mendapatkan posisi itu, harus terus mengambil celah. Terus jeli dan peka. Serta tak gampang terpancing jika dipancing. Dalam konteks ini, Mbak Mega terpancing.
Ribut soal yang muda dan yang tua di ranah politik, ada sketsa yang bisa diambil saripatinya. Sketsa ini terjadi sebelum Revolusi Bolsyewik. Di Uni Sovyet kala itu, terdapat sekumpulan tokoh hasil rekaan Maxim Gorki. Dia bernama Pavel Vlassov sebagai anak, Michael Vlassov sebagai ayah, dan Pelagia Nilovna sebagai ibu. Tokoh-tokoh ini terjalin dalam sebuah keluarga. Keluarga yang kaget ketika arus deras yang bernama revolusi bermuara di dalamnya.
Pavel Vlassov sang anak, keluar dari kebiasaan pemuda Sovyet umumnya. Dia tidak mau bekerja di pabrik. Dan dia tidak suka dengan kebiasaan para buruh yang mengkonsumsi minuman keras. Pemuda ini banyak membaca, juga sering berdiskusi. Dari kebiasaan itu akhirnya terbentuk komunitas anak-anak muda militan. Tidak hanya omdo, tapi berbuat. Malam bergerilya keliling kota memasang pamflet dan selebaran. Larut malam kumpul dan berdiskusi. Baru subuh menjelang mereka tidur sebentar sebelum kembali menggelar aksi.
Adalah Pelagia Nilovna sang ibu. Dia wanita yang sederhana. Dia tidak tahu politik, dan semula alergi dengan politik. Sovyet di bawah Tsar memang perbudakan dihalalkan. Penindasan tidak disoal. Buruh dianggap hanya alat produksi. Mesin yang bisa dipacu dan dipaksa untuk memenuhi quota. Anak-anak muda itu menentang penindasan ini. Mereka berjuang demi rakyat dan bangsanya esok hari.
Sang ibunda yang polos itu dianggap bodoh oleh anak-anak muda ini. Yang muda menganggap dirinya manusia jenius. Hebat berpikir. Lincah bertindak. Dan cepat mengambil inisiatif jika sedang terdesak.
Ibu tua itu rela jadi bukan siapa-siapa. Dia ikhlas disebut pembantu bagi para aktivis. Baginya, membuatkan minuman hangat bagi anak dan teman-teman anaknya adalah segalanya. Itu cinta seorang ibu. Bentuk dukungan perjuangan anak yang dikasihi melawan pemerintahan tiran.
Di tengah malam anak-anak itu berdatangan merancang aksi, ibu ini membuatkan teh hangat dan kue. Ketika mereka yang tergabung dalam gerakan bawah tanah itu berlarian sembunyi untuk menghindari penangkapan penguasa, sang ibu membukakan jendela agar mereka selamat. Dan saat wajah mereka tegang akibat temannya tertangkap, ibu ini menyambutnya dengan senyum yang menyejukkan. Ibunda adalah oase di tengah gurun.
Suatu saat, ketika wajah-wajah para aktivis ini sudah dikenali penguasa yang bertindak represif, mereka kehilangan harapan. Diskusi deadlock. Solusi tak didapat. Para aktivis tidak bisa keluar rumah. Segebok pamflet penyulut untuk meledakkan revolusi besar tidak ada yang bisa mendistribusikan. Pamflet-pamflet itu tergolek tak berdaya di kamar kumuh mereka.
Di tengah kelengangan itu ibunda masuk. Membawa teh dan makanan ringan. Sambil menyilakan disantap, sang ibunda berkata, nanti malam pamflet-pamflet itu akan disebarkannya ke pabrik-pabrik. Dia sudah koordinasi dengan para pendukung aktivis di beberapa pabrik. Dia akan membantu menyebarkan isi pamflet ke seantero buruh. Dan mereka sudah siap melakukan revolusi persis jadwal.
Anak-anak muda itu terbengong-bengong. Mereka tidak bisa berkata-kata. Bahkan mereka hanya terpana ketika revolusi besar menggelora dan menggoncang kota. Mereka kehilangan kepercayaan diri melihat ibunda yang bodoh dan polos itu menyulutkan api pemberontakan yang menggerakkan buruh seantero negeri.
Dan, ketika peluru berdesingan, serta tubuh ibunda limbung diberondong pelor, revolusi yang dicita-citakan sang putra tercinta dan teman-temannya berhasil diwujutkan. Ibunda adalah sang martir. Dialah pahlawan revolusi dan revolusi itu sendiri. Sebab kasih sayangnya terhadap sang putra tunggalnya telah membawanya lupa akan keterbatasannya.
Adakah ibunda itu Mbak Mega dan aktifis itu Tiffatul Sembiring serta anak-anak muda yang lain? Entahlah. Hanya, jika seorang ibu ucapan dan tindakannya seperti ibu, dan anak-anak muda sikap serta bahasa tuturnya seperti anak, maka politik atau bukan politik ranah yang diambah, rasanya kedamaian dan harmoni tetap akan terjaga.
Keterangan Penulis: Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(iy/iy)











































