81 Tahun Jawa Timur: Dari Keunggulan Menuju Kemajuan yang Dirasakan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

81 Tahun Jawa Timur: Dari Keunggulan Menuju Kemajuan yang Dirasakan

Minggu, 11 Okt 2026 18:45 WIB
Deni Wicaksono
Deni Wicaksono, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, dan Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Sekretaris DPD PDIP Jatim Deni Wicaksono
Foto: Istimewa
Jakarta -

Delapan puluh satu tahun Jawa Timur layak dirayakan dengan rasa syukur sekaligus keberanian untuk melakukan refleksi. Tema Hari Jadi ke-81, "Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan", membawa tiga kata yang sesungguhnya mengandung tanggung jawab besar. Keunggulan harus mempunyai dasar yang nyata, kemajuan harus dirasakan masyarakat, dan keberlanjutan mengharuskan pembangunan hari ini tidak mengorbankan kesempatan generasi berikutnya.

Jawa Timur mempunyai banyak alasan untuk percaya diri. Perekonomian Jawa Timur pada triwulan II 2026 tumbuh 5,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai PDRB dalam satu triwulan telah mencapai Rp930 triliun. Investasi juga bergerak. Pada semester pertama 2026, realisasi investasi mencapai sekitar Rp72,7 triliun dengan puluhan ribu proyek investasi.

Pasar tenaga kerja menunjukkan perkembangan positif. Tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 berada pada 3,42 persen. Kemiskinan pada Maret 2026 turun menjadi 9,06 persen atau sekitar 3,71 juta penduduk. Dalam enam bulan, sekitar 92 ribu orang keluar dari kemiskinan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angka-angka tersebut patut diapresiasi. Namun hari jadi sebuah provinsi seharusnya menjadi kesempatan melihat apa yang belum selesai. Sebab di balik pertumbuhan 5,72 persen, masih ada 3,71 juta warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di balik penurunan pengangguran, baru sekitar 36 persen pekerja Jawa Timur yang bekerja pada kegiatan formal. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat, rasio gini justru meningkat dari 0,359 pada September 2025 menjadi 0,365 pada Maret 2026.

Artinya, tantangan Jawa Timur berikutnya semakin kompleks. Mengejar pertumbuhan tetap penting. Memastikan siapa yang menikmati pertumbuhan menjadi sama pentingnya.

ADVERTISEMENT

Gerbang Baru Nusantara

Dalam beberapa tahun terakhir muncul gagasan besar menjadikan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. Gagasan ini masuk akal jika melihat posisi geografis dan struktur ekonomi Jawa Timur.

Jawa Timur mempunyai pelabuhan, bandara, jalan tol, kawasan industri, basis manufaktur, pertanian, perikanan, perguruan tinggi, serta lebih dari 40 juta penduduk. Posisi Jawa Timur juga strategis sebagai penghubung aktivitas ekonomi antara Indonesia bagian barat dan timur. Tetapi keunggulan geografis adalah titik awal, bukan tujuan akhir.

Pelabuhan yang besar tidak otomatis menghasilkan biaya logistik yang murah. Jalan tol yang panjang belum tentu membuat rantai pasok efisien. Kawasan industri belum otomatis mendatangkan investasi apabila listrik, gas, air, akses pelabuhan dan perizinannya tidak tersedia tepat waktu. Karena itu, Gerbang Baru Nusantara harus diterjemahkan dari slogan geografis menjadi strategi ekonomi.

Pertanyaannya sederhana: mengapa barang, manusia, modal, talenta dan investasi harus memilih Jawa Timur?

Jawabannya tidak cukup karena Jawa Timur berada di lokasi yang strategis. Jawa Timur harus menawarkan kecepatan, kepastian, biaya yang kompetitif, konektivitas dan kualitas pelayanan. Di situlah keunggulan geografis berubah menjadi keunggulan kompetitif.

Jangan Puas Menjadi Tempat Transit

Ada satu risiko yang perlu diantisipasi dalam gagasan menjadi gerbang. Jawa Timur jangan sampai tumbuh menjadi tempat transit yang sibuk, sementara nilai tambah terbesar tercipta di tempat lain.

Data perdagangan terbaru memberi peringatan. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor Jawa Timur mencapai sekitar 18,61 miliar dollar AS, turun 4,91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, impor mencapai 22,13 miliar dollar AS dan meningkat 15,49 persen. Neraca perdagangan Jawa Timur mengalami defisit sekitar 3,52 miliar dollar AS.

Tentu angka perdagangan perlu dibaca secara hati-hati karena impor bahan baku dan barang modal dapat menjadi pertanda aktivitas produksi dan investasi. Namun data tersebut sekaligus mengingatkan bahwa daya saing ekspor dan kemampuan industri menciptakan nilai tambah perlu terus diperkuat.

Jika bahan baku dari berbagai daerah masuk melalui Jawa Timur, targetnya jangan berhenti pada kelancaran distribusi. Bahan baku itu sebisa mungkin diolah di Jawa Timur, menggunakan tenaga kerja Jawa Timur, melibatkan industri dan UMKM Jawa Timur, memanfaatkan jasa logistik dan keuangan Jawa Timur, kemudian dipasarkan kembali ke pasar nasional maupun internasional.

Dengan cara itu, Gerbang Baru Nusantara menjadi pintu penciptaan kesejahteraan.

Kita perlu mulai mengubah pertanyaan dari "berapa ton barang melewati Jawa Timur?" menjadi "berapa besar nilai tambah yang tinggal di Jawa Timur?"

Pertumbuhan dan Kualitas Pekerjaan

Persoalan serupa terlihat pada ketenagakerjaan. Pada Mei 2026 terdapat sekitar 24,46 juta penduduk Jawa Timur yang bekerja. Tingkat pengangguran 3,42 persen merupakan capaian yang cukup baik. Namun pekerja formal baru 36,18 persen. Artinya, sebagian besar penduduk yang bekerja masih berada pada kegiatan informal.

Inilah salah satu tantangan besar pembangunan Jawa Timur pada dekade mendatang. Ukuran keberhasilan penciptaan lapangan kerja perlu berkembang dari jumlah orang yang bekerja menuju kualitas pekerjaan yang tersedia.

Anak muda Jawa Timur membutuhkan pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang semakin baik. Industri baru yang masuk harus menciptakan transfer keterampilan. SMK, politeknik dan perguruan tinggi harus semakin dekat dengan kebutuhan industri.

Investasi Rp72,7 triliun tentu merupakan kabar baik. Tahap berikutnya adalah memastikan setiap investasi menciptakan efek pengganda terhadap ekonomi lokal. Berapa tenaga kerja lokal terserap? Berapa pemasok lokal masuk ke rantai pasok? Berapa UMKM naik kelas? Berapa teknologi dan keterampilan baru yang ditransfer? Kualitas investasi pada akhirnya sama pentingnya dengan nilai investasinya.

Pertumbuhan Harus Punya Alamat

Pekerjaan rumah berikutnya adalah pemerataan. Jawa Timur terdiri atas 38 kabupaten dan kota dengan karakter ekonomi yang sangat beragam. Ada metropolitan Surabaya dan kawasan industri di sekitarnya. Ada Madura, Tapal Kuda, Pantura, Mataraman, kawasan selatan, serta wilayah kepulauan dengan tantangan pembangunan yang berbeda. Karena itu, angka pertumbuhan provinsi tidak boleh membuat kita kehilangan perspektif kewilayahan. Pertumbuhan harus mempunyai alamat.

Investasi harus diketahui masuk ke daerah mana. Lapangan kerja tercipta di wilayah mana. Infrastruktur dibangun untuk menghubungkan sentra ekonomi yang mana. Kemiskinan turun paling cepat di mana dan tertinggal di mana. Gerbang Baru Nusantara juga harus menjadi proyek pemerataan wilayah.

Surabaya dan Gerbangkertosusila akan tetap menjadi motor penting. Tetapi motor pertumbuhan baru harus tumbuh di Madura, kawasan selatan, Mataraman, Tapal Kuda dan wilayah lain sesuai keunggulannya masing-masing.

Kalau konektivitas meningkat tetapi kegiatan ekonomi tetap terkonsentrasi di tempat yang sama, kita baru memindahkan orang dan barang lebih cepat, belum mengubah struktur ekonomi daerah.

Kemiskinan yang Semakin Sulit

Turunnya tingkat kemiskinan menjadi 9,06 persen perlu diapresiasi. Namun masih terdapat sekitar 3,71 juta penduduk miskin di Jawa Timur.

Semakin rendah angka kemiskinan, biasanya semakin rumit karakter penduduk miskin yang tersisa. Mereka dapat menghadapi kombinasi persoalan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, kepemilikan aset, kondisi rumah, akses transportasi hingga kerentanan terhadap kenaikan harga pangan.

Karena itu, program pengentasan kemiskinan ke depan harus semakin presisi. Intervensi terhadap keluarga miskin di kawasan pertanian tentu berbeda dengan keluarga miskin perkotaan. Persoalan nelayan di kepulauan berbeda dengan pekerja informal di kawasan metropolitan.

Data harus menjadi dasar kebijakan sampai pada tingkat keluarga dan wilayah. Bantuan sosial tetap diperlukan bagi kelompok yang membutuhkan perlindungan. Namun jalan keluar jangka panjang dari kemiskinan adalah produktivitas: pekerjaan, keterampilan, akses modal, pasar, pendidikan dan kesehatan.

SDM Menjadi Infrastruktur Utama

Jawa Timur sering membicarakan jalan, pelabuhan, bandara dan kawasan industri sebagai infrastruktur pembangunan. Pada usia 81 tahun, kita perlu semakin menempatkan manusia sebagai infrastruktur utama.

IPM Jawa Timur pada 2025 mencapai 76,13 dan terus meningkat. Tetapi rata-rata lama sekolah penduduk berusia 25 tahun ke atas baru 8,39 tahun. Angka itu patut menjadi bahan refleksi.

Ambisi menjadi pusat industri, logistik, ekonomi digital, energi baru, agroindustri dan berbagai industri masa depan membutuhkan kualitas sumber daya manusia yang terus meningkat.

Pendidikan vokasi perlu semakin dekat dengan kebutuhan ekonomi masing-masing wilayah. SMK di kawasan industri harus terhubung dengan industri. Pendidikan di sentra pertanian perlu mengenalkan teknologi pertanian modern. Wilayah pesisir membutuhkan kompetensi ekonomi maritim. Perguruan tinggi harus semakin kuat menjadi sumber inovasi bagi industri dan pemerintah daerah.

Membangun manusia memang membutuhkan waktu lebih panjang daripada membangun gedung. Namun hasilnya menentukan daya saing Jawa Timur selama beberapa dekade.

Dari Program OPD Menjadi Misi Bersama

Gerbang Baru Nusantara dan Jatim Unggul menghadapi tantangan klasik pemerintahan: persoalan pembangunan bersifat lintas sektor, sedangkan birokrasi dibentuk berdasarkan pembagian urusan. Investor tidak melihat struktur organisasi pemerintah.

Investor bertanya apakah lahannya siap, izin cepat, listrik tersedia, jalan menuju pelabuhan lancar, tenaga kerja tersedia dan regulasinya pasti. Masyarakat juga tidak terlalu peduli OPD mana yang bertanggung jawab. Mereka ingin masalahnya selesai.

Karena itu, cara kerja pemerintahan harus semakin bergerak dari orientasi program menuju orientasi misi. Setiap OPD perlu dapat menjawab pertanyaan: apa kontribusi konkret institusi ini terhadap target besar Jawa Timur?

Kalau targetnya mengurangi biaya logistik, semua instansi terkait harus bekerja terhadap indikator yang sama. Kalau targetnya meningkatkan investasi, tata ruang, energi, tenaga kerja, infrastruktur dan perizinan harus masuk dalam satu orkestrasi.

APBD kemudian menjadi instrumen untuk mencapai misi tersebut, bukan kumpulan kegiatan dari berbagai OPD.

Saatnya Mengukur Hasil

Pada usia ke-81, Jawa Timur juga perlu semakin berani mengukur pembangunan berdasarkan hasil yang dirasakan masyarakat. Untuk Gerbang Baru Nusantara, misalnya, dapat disusun sebuah scorecard yang sederhana dan terbuka.

Berapa biaya logistik Jawa Timur? Berapa waktu yang dibutuhkan barang dari sentra produksi sampai pelabuhan? Berapa lama investasi sejak memperoleh komitmen sampai beroperasi? Berapa lama penyambungan listrik dan gas? Berapa nilai ekspor? Berapa industri pengolahan baru? Berapa pekerjaan formal yang tercipta? Berapa investasi yang masuk ke luar pusat-pusat pertumbuhan lama?

Dengan ukuran seperti itu, masyarakat dapat mengikuti perkembangan pembangunan dari tahun ke tahun.

DPRD juga mempunyai basis yang lebih kuat dalam menjalankan fungsi anggaran dan pengawasan. Perdebatan APBD kemudian bergerak dari "berapa besar anggarannya?" menuju "perubahan apa yang dihasilkan dari anggaran tersebut?"

Itulah bentuk akuntabilitas yang semakin dibutuhkan.

Jawa Timur Setelah 81 Tahun

Tema "Jatim Unggul, Maju Berkelanjutan" seharusnya dibaca sebagai pekerjaan untuk tahun-tahun mendatang. Unggul berarti Jawa Timur mempunyai produktivitas, SDM dan pelayanan publik yang mampu bersaing. Maju berarti pertumbuhan ekonomi menciptakan pekerjaan, meningkatkan pendapatan dan membuka kesempatan bagi anak-anak muda. Berkelanjutan berarti pembangunan menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta memastikan generasi berikutnya mempunyai kesempatan yang lebih besar daripada generasi hari ini.

Jawa Timur telah memiliki modal besar untuk menuju ke sana. Ekonomi tumbuh, basis industri kuat, investasi bergerak, infrastruktur tersedia, pasar besar dan posisi geografis sangat strategis.

Tetapi usia 81 tahun mengingatkan kita bahwa pembangunan selalu merupakan pekerjaan yang belum selesai. Masih ada 3,71 juta penduduk miskin. Pekerjaan formal masih perlu diperluas. Ketimpangan perlu dijaga. Ekspor menghadapi tekanan. Kualitas SDM harus terus ditingkatkan. Pertumbuhan antardaerah perlu semakin merata. Karena itu, peringatan Hari Jadi Jawa Timur sebaiknya menjadi momentum untuk mempertemukan optimisme dengan evaluasi.

Jawa Timur tidak kekurangan potensi. Tantangan terbesar kita adalah mengorganisasi potensi tersebut menjadi kemajuan yang dapat dirasakan masyarakat.

Gerbang Baru Nusantara akan menemukan maknanya ketika pelabuhan melahirkan industri, investasi menciptakan pekerjaan berkualitas, pertumbuhan menjangkau desa, pendidikan membuka mobilitas sosial, dan APBD menghasilkan perubahan yang dapat diukur.

Pada akhirnya, ukuran sebuah provinsi yang unggul bukan seberapa besar ekonomi yang dimilikinya, melainkan seberapa besar kesempatan yang dapat diberikan kepada rakyatnya untuk hidup lebih baik.

Selamat Hari Jadi ke-81 Jawa Timur.

Saatnya bergerak dari keunggulan yang kita miliki menuju kemajuan yang benar-benar dirasakan.

Deni Wicaksono, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur.

Lihat juga Video: Sederet Peraih detikJatim Awards Kategori Program Bisnis Terpuji 2025

(prf/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini