Pelajaran Kedaulatan Pangan dari Masyarakat Baduy
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Pelajaran Kedaulatan Pangan dari Masyarakat Baduy

Minggu, 04 Okt 2026 09:53 WIB
Jan Prince Permata
Jan Prince Permata, Kandidat Doktor Manajemen Berkelanjutan Perbanas Institute, alumnus IPB, dan pegiat Yayasan Kekal Berdikari.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Warga Suku Baduy merapikan hasil bumi yang dibawa saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (25/4/2026). Tradisi tahunan yang diikuti sebanyak 1.552 warga Suku Baduy tersebut dilaksanakan dengan meny
Foto: Ilustrasi Warga Suku Baduy merapikan hasil bumi yang dibawa saat tradisi Seba Baduy di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Banten, Sabtu (25/4/2026). (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)
Jakarta -

Perdebatan pangan di Indonesia hampir selalu berujung pada angka: berapa juta ton beras diproduksi, berapa luas panen, berapa stok tersedia, atau seberapa tinggi produktivitas petani. Kita bicara benih unggul, pupuk, mekanisasi, irigasi, hingga pertanian presisi. Semua penting. Namun, ada satu dimensi yang kadang luput: bagaimana memastikan kemampuan menghasilkan pangan tetap bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Untuk melihat dimensi itu, kita bisa belajar dari masyarakat Baduy di Pegunungan Kendeng, Banten. Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan semata kegiatan ekonomi. Pangan menyatu dengan tanah, hutan, air, adat, dan kehidupan komunitas. Padi ditanam di huma atau pertanian lahan kering, berdampingan dengan pisang, talas, jagung, cabai, umbi-umbian, jahe, pepohonan, serta tanaman lainnya.

Pertanian mereka mengandalkan hujan dan kesuburan alami tanah dengan penggunaan input eksternal yang relatif rendah. Pola ini tentu berbeda dengan pertanian intensif modern yang mengejar produktivitas tinggi. Tetapi justru dari perbedaan tersebut muncul pelajaran penting tentang keberlanjutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Padi yang dipanen tidak seluruhnya diperlakukan sebagai komoditas untuk segera dijual. Sebagiannya disimpan dalam leuit, lumbung tradisional yang mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Gabah menjadi persediaan keluarga, cadangan menghadapi masa sulit, sekaligus sumber benih untuk musim tanam berikutnya.

Dalam terminologi pangan hari ini, leuit dapat dipahami sekaligus sebagai cadangan pangan rumah tangga dan semacam bank benih masyarakat. Ia menjaga pangan hari ini sambil mempertahankan kemampuan menghasilkan pangan esok hari.

ADVERTISEMENT

Di dalam sistem tersebut tersimpan pula kekayaan varietas padi lokal yang diwariskan lintas generasi. Keragaman benih bukan hanya warisan budaya, melainkan modal ekologis. Ketika musim semakin sulit diprediksi, keberagaman varietas dapat memperbesar pilihan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Ada pula dimensi sosial yang sering tidak masuk dalam hitungan produksi pangan. Ketika keluarga mengalami kesulitan, mekanisme berbagi dan gotong royong menjadi lapisan perlindungan. Artinya, ketahanan pangan tidak semata ditentukan oleh isi gudang, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial di dalam masyarakat.

Menjaga Ruang Hidup, Menjaga Pangan

Pelajaran itu semakin relevan ketika perubahan iklim membuat pertanian menghadapi ketidakpastian baru. Masyarakat Baduy membaca perubahan alam melalui pengalaman panjang: datangnya hujan, pola angin, suhu, perilaku hewan, dan berbagai tanda alam menjadi bagian dari pengetahuan menentukan waktu bertani.

Pengetahuan tradisional semacam itu tidak seharusnya dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Justru tantangan kita adalah mempertemukan keduanya. Informasi iklim, teknologi pertanian, dan riset modern dapat berkembang tanpa harus menghapus pengetahuan ekologis yang telah terbentuk selama bergenerasi.

Tentu saja, pertanian Baduy tidak perlu diromantisasi. Produktivitasnya tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan pertanian intensif. Tekanan terhadap lahan, perubahan iklim, pariwisata, ekonomi pasar, dan perubahan gaya hidup generasi muda juga menghadirkan tantangan.

Namun, masyarakat Baduy memperlihatkan sesuatu yang menarik: perubahan tidak selalu harus berarti meninggalkan seluruh pengetahuan lama. Dunia luar dapat diterima secara selektif dengan tetap mempertimbangkan batas yang ditentukan adat dan keberlanjutan ruang hidup.

Pesan itu kembali terlihat dalam Seba Baduy 2026. Sebanyak 1.552 warga Baduy diterima Pemerintah Provinsi Banten di Kota Serang pada 25 April 2026. Tema Seba, "Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat", menegaskan hubungan antara menjaga amanat leluhur dan merawat bumi. Amanat gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak-gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak-kembali disampaikan.

Pesan tersebut bukan sekadar romantisme kebudayaan. Ia berkaitan langsung dengan keberlangsungan sistem pangan. Hutan menjaga air dan tanah. Air menghidupi huma. Tanah menghasilkan padi. Padi masuk ke leuit. Sebagian gabah menjadi benih dan kembali ditanam di huma. Siklus itu berulang dan diwariskan.

Karena itu, perlindungan masyarakat adat tidak cukup berhenti pada festival budaya, pakaian tradisional, ritual, atau promosi wisata. Ruang hidup yang memungkinkan kebudayaan dan sistem pangan mereka bertahan juga perlu dijaga.

Konteks ini semakin penting ketika persoalan tanah ulayat Baduy masih menjadi perhatian. Pada September 2026, proses permohonan Hak Pengelolaan atas tanah ulayat Baduy sekitar 5.161 hektare kembali dibahas, termasuk persoalan aliran sungai yang melintasi wilayah adat. Di luar aspek administratif dan hukumnya, persoalan tersebut menunjukkan betapa tanah, sungai, hutan, dan pangan bagi masyarakat adat merupakan satu kesatuan ruang hidup.

Indonesia tentu tidak mungkin menerapkan sistem pertanian Baduy untuk memenuhi seluruh kebutuhan pangan lebih dari 280 juta penduduk. Kita tetap memerlukan teknologi, mekanisasi, irigasi, riset benih, peningkatan produktivitas, dan inovasi pertanian.
Tetapi modernisasi tidak harus membuat kita kehilangan kebijaksanaan yang telah teruji lintas generasi.

Dari Baduy kita diingatkan bahwa kedaulatan pangan bukan hanya kemampuan menghasilkan jutaan ton pangan. Ia juga menyangkut siapa yang menguasai benih, bagaimana tanah dan air dijaga, seberapa kuat cadangan pangan keluarga, bagaimana pengetahuan bertani diwariskan, dan sejauh mana masyarakat memiliki kemampuan menentukan sistem pangannya sendiri.

Barangkali kita terlalu sering bertanya kapan masyarakat adat akan mengikuti kemajuan. Di tengah perubahan iklim dan pencarian sistem pangan yang lebih berkelanjutan, pertanyaan itu sesekali layak dibalik: apa yang justru perlu dipelajari dunia modern dari mereka?

Jawabannya mungkin sederhana: pangan tidak bermula ketika hasil panen masuk gudang. Ia bermula ketika tanah tetap subur, air tetap mengalir, hutan tetap berdiri, benih tetap tersedia, dan manusia memahami bahwa alam mempunyai batas.

Jan Prince Permata. Kandidat Doktor Manajemen Berkelanjutan Perbanas Institute, alumnus IPB, dan pegiat Yayasan Kekal Berdikari.

Simak juga Video Zulhas Buka Peluncuran Kopdes Merah Putih, Bicara Kedaulatan Pangan

(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait