Pendidikan untuk Kemerdekaan, Perjuangan Lawan Kebodohan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Pendidikan untuk Kemerdekaan, Perjuangan Lawan Kebodohan

Rabu, 23 Sep 2026 17:53 WIB
Hendri Adi
Kepala Sekolah SMA Kemala Taruna Bhayangkara Kandidat Doktor Pendidikan, University of Southern California
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi pendidikan
Foto ilustrasi pendidikan: (Freepik/freepik)
Jakarta -

Pendidikan sejak dulu selalu berkaitan dengan pendidikan karakter. Nampaknya, pendidikan karakter dan tujuan sekolah adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dan dianggap sebagai "khittah"-nya pendidikan.

Banyak pihak memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menjadikan siswanya berkarakter sehingga mampu bertahan dan menjadi pemenang dari kerasnya persaingan dan ketidakpastian di masa depan. Hal tersebut tentu tidak salah, tetapi membuat sistem pendidikan hanya berpusat pada tuntutan agar siswa berkarakter sesuai tuntutan masyarakat saat ini dan di masa depan saja juga terasa dangkal dan kurang tepat.

Pendidikan seharusnya bertujuan membebaskan jiwa kita melalui pemahaman tentang dunia, mengapa berbagai hal, baik itu fenomena alam dan sosial terjadi sebagaimana ia terjadi, serta yang paling penting adalah tentang keberadaan dan bagaimana peran kita di tengah-tengah masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alih-alih membebaskan kita dari ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, pendidikan justru kerap melanggengkan kondisi tersebut. Siswa diajarkan menggunakan pola pikir ala era revolusi industri dimana tujuan pendidikan menghasilkan lulusan yang siap mengoperasikan mesin-mesin pabrik dan menghasilkan produk-produk massal yang dapat dengan cepat dikonsumsi masyarakat.

Siswa diatur duduk berbaris rapi, menghadap dan mendengarkan ceramah guru, menghafal fakta-fakta, dan kemudian mengikuti ujian. Pendidikan dengan pola ini tanpa kita sadari mengajarkan siswa hanya untuk memproses ulang fakta atau keadaan sosial di sekitar mereka tanpa pemahaman yang mendalam apalagi berempati dan menawarkan solusi.

ADVERTISEMENT

Dengan kata lain, siswa diajarkan, untuk cukup beradaptasi dengan lingkungan, bekerja dengan pola yang sudah ada dan melanjutkan status quo agar mereka menjadi pemenang di tengah-tengah ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi. Pendidikan yang bermakna jauh melampaui hal itu.

Pendidikan bertujuan menciptakan peluang bagi warga negara, bukan hanya agar mampu menaiki tangga mobilitas sosial, tetapi individu-individu yang berkemampuan dan berperan dalam memperjuangkan ketidakadilan, kebodohan dan ketidaksetaraan yang akhirnya menciptakan dunia yang damai dan lebih baik.

Pendidikan seharusnya memampukan mereka untuk mengubah tantangan menjadi kesempatan, menukar ketidakpastian menjadi resiko yang dapat diukur dan berperan aktif dalam perubahan sosial. Pendidikan juga seharusnya dapat melahirkan momen-momen keberuntungan tak terduga (serendipity) yang dapat ditangkap oleh individu yang memang belajar dan berusaha dengan sungguh-sungguh.

SMA Kemala Taruna Bhayangkara (KTB) didirikan dengan semangat perjuangan melawan kebodohan dan ketidakadilan dengan cara menciptakan kelompok masyarakat berintelektual tinggi yang dapat menjadi agen perubahan dimanapun ia berada. Pola pendidikan yang diterapkan di SMA KTB tergolong pendidikan yang tidak biasa. Siswa diajarkan dan ditanamkan pendidikan karakter yang tidak hanya diperlukan untuk bersaing di tingkat nasional dan global.

Pendidikan asrama di SMA KTB yang disebut sebagai Program Kebhayangkaran teriinspirasi oleh nilai-nilai Bhayangkara yang mengajarkan siswa untuk menjadi pengayom, pembela dan pejuang bagi diri mereka sendiri dan sesamanya. Pengasuhan yang menjadi salah satu program utama dalam program kebhayangkaraan dilakukan oleh perwira-perwira polisi terpilih dan terseleksi dengan ketat dan dari berbagai tingkatan.

Program ini memberikan para siswa pengalaman pengasuhan yang belum tentu dapat mereka terima di keluarga atau oleh masyarakat sekalipun. Pendidikan karakter di SMA KTB dilakukan dengan ketegasan namun penuh kasih sayang dan dibarengi dengan pembelajaran dan logika. Tidak ada hukuman fisik apabila siswa melanggar peraturan, yang ada para siswa diberikan ruang untuk refleksi, berpikir dan merestitusi tindakannya.

Kedisiplinan dan ketegasan sebagai bagian dalam pembinaan karakter memampukan siswa untuk menjadi sosok yang mawas diri, memiliki kepercayaan diri namun juga kerendahan hati dan empati yang diperlukan sebagai calon pemimpin saat ini dan di masa depan.

Pendidikan asrama di SMA KTB, sejalan dengan program akademik yang memadukan kurikulum nasional dan Internasional Baccalaureate Diploma Program. Kurikulum nasional yang dalam era sebelumnya kerap menyebutkan sebagai kurikulum yang memerdekakan yang kemudian diperjelas oleh Kurikulum Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), sejalan dengan kurikulum IBDP yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, kreatif dan anti status quo.

Siswa tidak hanya difasilitasi untuk memahami fenomena alam dan sosial kemudian menuangkan pemahamanya dalam kertas ujian namun juga ditantang untuk berpikir kritis dan kreatif dan menawarkan solusi dalam bentuk proyek penelitian berbasis disiplin akademik. Siswa juga diajarkan untuk tidak semata memandang ilmu pengetahuan sebagai benda mati yang tidak dapat diubah dan dikritisi.

Ilmu pengetahuan dilihat sebagai konstruksi sosial yang mana pemahaman akan kebenaran mutlak (absolute truth) harus dapat dipisahkan dari konteks sosial bagaimana ilmu pengetahuan tersebut diproduksi, disebarkan dan diterapkan. Kepedulian sosial dalam bentuk advokasi dan pelayanan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kurikulum sekolah.

Pelayanan sosial tidak hanya dijadikan sebagai syarat kelulusan namun diajarkan sebagai sarana mengembangkan keahlian abad 21 antara lain kemampuan manajemen diri, komunikasi dan kolaborasi. Pelayanan sosial diajarkan dengan semangat dan memandang bahwa masyarakat luas adalah mitra yang memiliki kemampuan bersama mereka untuk menciptakan dunia yang damai dan lebih baik.

Pendidikan sebagaimana yang dijalankan di SMA KTB patut dijadikan bahan percontohan yang mungkin dapat dijalankan secara luas di negeri ini. Pendidikan yang tidak hanya mengandalkan fasilitas mewah ala sekolah-sekolah internasional yang modern dan mentereng. Namun pendidikan yang memanusiakan siswanya dan menjadikannya individu yang lebih baik dari hari ke hari.

Programnya tidak harus langsung sempurna, namun semangatnya adalah semangat senantiasa memperbaiki diri sendiri melalui refleksi kritis dan semangat perbaikan
berkelanjutan. Kita memiliki peluang menjadi bangsa yang besar, apabila kita mampu menjadikan warga negara yang tidak hanya cerdas dan berkeahlian tinggi namun juga generasi yang hidup dimana ketidakadilan, ketidaksetaraan kebodohan dapat dihapuskan. Namun kita berpacu dengan waktu. Harapan kita ada pada generasi penerus bangsa ini.

Lihat juga Video: Kota-Provinsi di Sulawesi Penerima Apresiasi Layanan Pendidikan dari Kemendagri

(aud/aud)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini