Doktrin Kapal Induk dalam "Sea Power" Indonesia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Doktrin Kapal Induk dalam "Sea Power" Indonesia

Senin, 21 Sep 2026 10:28 WIB
Marsetio
Guru Besar Universitas Pertahanan dan Mantan Kepala Staf Angkatan Laut.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Marsetio
Foto: Marsetio (Dok Pribadi)
Jakarta -

Setelah menunggu selama hampir setahun, pada akhirnya kapal induk Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi-551, bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Kapal tersebut dikunjungi oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Muhammad Ali. Inilah wujud kapal induk pertama Indonesia yang nantinya dioperasikan TNI AL dengan nama KRI Sriwijaya dengan nomor lambung 100.

Setelah bendera Italia di Giuseppe Garibaldi diturunkan, bendera Merah Putih dikibarkan, serta ular-ular perang TNI AL dinaikkan, kapal induk itu resmi menjadi KRI Sriwijaya-100. Inilah bentuk baru sea power Indonesia: armada TNI AL berupa kapal induk dengan kawalan kapal-kapal kombatan disertai kapal-kapal bantu yang bisa mengarungi lautan bebas di luar yurisdiksi nasional Indonesia menuju blue water navy.

Tampilan sea power Indonesia itu diperlihatkan sebagian saat menyambut kedatangan Giuseppe Garibaldi di perairan Indonesia. Dua fregat terbaru TNI AL, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, menyambut sekaligus mengawal Garibaldi melintasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I hingga merapat di Pelabuhan Tanjung Priok.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua fregat baru TNI AL itu memiliki panjang 143 meter dengan teknologi dan persenjataan modern, mengawal Garibaldi yang memiliki panjang 180 meter. Tidak hanya itu, di udara Garibaldi dipayungi pesawat sayap tetap TNI AL: CN-235, NC-212, serta dua helikopter AS565 MBe Panther.

Bahkan, helikopter AS565 MBe Panther melakukan pendaratan di geladak Garibaldi yang memang berfungsi sebagai kapal induk helikopter, selain tempat pendaratan pesawat tempur AV-8B Harrier II/AV-8B Plus secara Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL). Pendaratan helikopter TNI AL sekaligus bermakna dimulainya era operasi penerbangan lintas geladak (cross-deck aviation) TNI AL yang nantinya dapat melibatkan penerbang helikopter TNI AD dan TNI AU untuk mendarat di kapal induk itu.

ADVERTISEMENT

Dua unsur penting lainnya, yaitu kapal selam dan kapal bantu, tidak ditampilkan dalam selebrasi penyambutan Garibaldi. Dalam doktrin kapal induk, terutama pada operasi perang, kehadiran kapal kombatan, kapal selam, dan kapal Bantu Cair Minyak (BCM) merupakan suatu keharusan saat menjalankan misi tempur. Unsur-unsur kapal selam dan BCM sudah tersedia di jajaran Komando Armada RI dalam jumlah yang memadai dengan ukuran yang juga dapat mengarungi samudra luas.

Kapal selam kelas Cakra/Alugoro, misalnya, kini jumlahnya akan terus bertambah dengan diproduksinya kapal selam terbaru kelas Scorpène Evolved Full Lithium-Ion Battery (LiB) Prancis di PT PAL Surabaya. Sementara itu, kapal-kapal BCM yang sudah ada antara lain tanker KRI Tarakan, KRI Bontang, dan KRI Balongan. Bahkan, telah tersedia kapal rumah sakit KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991, KRI dr. Soeharso-990, dan KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.

Doktrin Outward-Looking

Dengan profil sea power terbaru TNI AL sebagaimana diuraikan, sesungguhnya TNI AL yang kini berstatus green water navy sedang berupaya melakukan persiapan menjadi blue water navy yang mungkin akan tercapai saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan (Indonesia Emas 2045). Hal itu dimungkinkan karena posisi perekonomian Indonesia diperkirakan sudah menempati peringkat keempat dunia sehingga mampu mendukung biaya operasional dan pengadaan armada kelas samudra biru.

Dalam konteks seperti itulah kehadiran kapal induk Garibaldi seharusnya dimaknai sebagai jalan pembelajaran TNI AL menuju blue water navy dengan segala biaya tinggi yang menyertainya. Keberadaan kapal induk untuk fungsi operasi militer perang maupun operasi militer selain perang menjadi penting sebagai laboratorium lapangan bagi TNI AL dalam menerapkan langkah-langkah operasional berdasarkan doktrin outward-looking yang menjadi doktrin utama blue water navy. Artinya, doktrin yang ada saat ini, inward-looking, sudah saatnya disesuaikan dengan kehadiran unsur kapal induk Garibaldi.

Doktrin outward-looking TNI AL bukan berarti kesiapan suatu armada untuk melakukan tindakan agresif ke teritori negara lain, melainkan harus dimaknai sebagai kemampuan untuk hadir di samudra luas (Hindia dan Pasifik) guna melindungi kepentingan nasional Indonesia.

Kehadiran tersebut bisa dalam bentuk port visit, evakuasi warga negara Indonesia dari wilayah konflik, menjalankan operasi militer selain perang, hingga ikut serta menjaga ketertiban dunia sebagaimana diamanatkan pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Doktrin outward-looking dengan begitu relevan dirumuskan untuk dijadikan sebagai langkah taktis strategis dalam pengoperasian kapal induk untuk operasi militer perang maupun operasi militer selain perang.

Saat ini keberadaan Garibaldi difokuskan untuk melaksanakan operasi militer selain perang dalam fungsi Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR). Ini relevan, mengingat Indonesia berada di wilayah ring of fire yang harus tanggap bila terjadi bencana alam. Tindakan cepat melaksanakan evakuasi dan penyelamatkan, menyalurkan distribusi logistik dan obat-obatan, hingga pelayanan kesehatan dan evakuasi medis menggunakan helikopter adalah salah satu keunggulan kapal induk dalam melaksanakan HADR.

Bahkan, kapal induk itu bisa digunakan membantu upaya pemadaman area hutan dan lahan yang terbakar seperti yang saat ini terjadi di Sumatera dan Kalimantan dengan menerbangkan helikopter yang memiliki kemampuan membawa air dalam jumlah besar dari geladaknya. Tentu saja berbagai fungsi kapal induk Garibaldi tersebut bisa dilakukan setelah kapal selesai menjalani retrofit agar bisa beroperasi di perairan Indonesia yang beriklim tropis.

Pada akhirnya, kemampuan mengawaki dan mengoperasikan kapal induk dalam suatu gugus tugas (untuk operasi militer perang maupun operasi militer selain perang) adalah keuntungan tidak ternilai bagi TNI AL untuk menjadi kekuatan samudra biru pada masanya nanti. Penamaan kapal, KRI Sriwijaya-100, dapat menjadi penanda untuk meraih kembali kejayaan maritim Indonesia sebagaimana pernah terjadi pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

KRI Sriwijaya dikawal KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi, dengan kapal selam bernama senjata sakti: Cakra, Alugoro, Nagapasa, dan Ardadedali, adalah simbolisasi sea power Indonesia modern. Raja Brawijaya yang tangguh dari Kerajaan Majapahit bersama Raja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran dengan senjata-senjata sakti Cakra, Alugoro, Nagapasa, dan Ardadedali mengawal KRI Siliwangi sebagai center of gravity.

Selamat datang dan selamat bertugas, KRI Sriwijaya-100. Jalesveva Jayamahe, Justru di Laut Kita Jaya. Bravo zulu TNI AL.

Jakarta, 21 September 2026

Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio. Guru Besar Universitas Pertahanan dan Mantan Kepala Staf Angkatan Laut.

(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini