Ketika ketahanan pangan dibicarakan, perhatian kita sering tertuju pada pupuk, pestisida, irigasi, atau alat dan mesin pertanian. Semua itu penting. Namun, ada satu sumber produktivitas yang sesungguhnya sudah bekerja bahkan sebelum tanaman ditanam di lahan: kemampuan genetik yang dibawa oleh benih.
Di tengah perubahan iklim, keterbatasan air, ketidakpastian pasokan pupuk, serta tekanan hama dan penyakit, peningkatan produksi pangan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan input. Kita juga perlu memperkuat kemampuan tanaman itu sendiri agar tetap produktif ketika lingkungan tumbuh semakin tidak bersahabat.
Di sinilah genetic gain menjadi penting. Istilah ini secara sederhana berarti kemajuan terus-menerus dalam menghasilkan varietas yang lebih baik daripada generasi sebelumnya. Varietas baru tidak hanya dituntut berdaya hasil tinggi, melainkan juga semakin hemat air, efisien dalam menggunakan unsur hara, serta lebih tahan terhadap kekeringan, hama, dan penyakit. Pengembangan varietas unggul secara berkala memang menjadi inti strategi untuk menghadapi perubahan iklim, keterbatasan pupuk, serta meningkatnya tekanan organisme pengganggu tanaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu Kemajuan, Banyak Persoalan
Kekuatan pengembangan varietas unggul terletak pada kemampuannya menjawab beberapa persoalan sekaligus. Varietas tahan kering dapat membantu menjaga hasil panen saat ketersediaan air terbatas. Varietas yang efisien menggunakan hara dapat menekan kebutuhan pupuk. Sementara itu, varietas yang lebih tahan terhadap hama dan penyakit dapat mengurangi penggunaan pestisida. Artinya, tidak setiap persoalan produksi harus selalu dijawab dengan menambahkan input dari luar. Sebagian persoalan dapat diselesaikan dari dalam tanaman itu sendiri melalui sifat unggul yang dibawa oleh varietas tersebut.
Bayangkan tanaman pangan yang tetap menghasilkan panen tinggi meskipun membutuhkan air lebih sedikit. Tanaman tersebut juga mampu memanfaatkan unsur hara secara lebih efisien dan memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap gangguan hama maupun penyakit. Satu varietas dengan sejumlah sifat unggul dapat menjadi jalan keluar untuk menyelesaikan banyak persoalan produksi secara bersamaan.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting dalam menghadapi perubahan iklim. Ketika El Niño atau kekeringan datang, misalnya, persoalan utama bukan hanya mengenai bagaimana menyediakan lebih banyak air, melainkan juga bagaimana memiliki tanaman yang mampu menggunakan air secara lebih hemat.
Oleh karena itu, pengembangan varietas tahan kekeringan seharusnya tidak dipandang sebagai agenda penelitian yang jauh dari persoalan petani. Justru di sanalah salah satu benteng ketahanan pangan dibangun: hasil panen tetap dapat dipertahankan meskipun lingkungan berubah.
Dari Ketergantungan Input ke Kemandirian Tanaman
Pupuk memberikan contoh yang sangat jelas. Ketika pasokan terganggu dan harga meningkat akibat dinamika global, petani berada pada posisi rentan. Jika produktivitas hanya dapat dipertahankan dengan penggunaan pupuk dalam jumlah tinggi, ketahanan produksi kita ikut bergantung pada ketersediaan input tersebut.
Solusinya tentu bukan menghilangkan pupuk karena tanaman tetap membutuhkan unsur hara. Namun, kita dapat mengurangi kerentanan tersebut dengan menghasilkan varietas yang lebih hemat dan efisien dalam menggunakan hara.
Lebih jauh lagi, tanaman dapat dikembangkan agar mampu bekerja sama secara lebih baik dengan mikroorganisme bermanfaat di sekitar akar. Mikroorganisme tersebut membantu tanaman memperoleh unsur hara dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam tanah. Dengan demikian, tanaman tidak semata-mata bergantung pada pupuk anorganik sebagai satu-satunya sumber hara. Gagasan mengenai varietas yang hemat hara sekaligus mampu memanfaatkan bantuan mikroorganisme tanah menjadi salah satu arah pengembangan yang penting.
Prinsip serupa berlaku untuk penanganan hama dan penyakit. Tanaman yang sangat rentan membuat petani semakin bergantung pada pestisida. Sebaliknya, varietas yang memiliki ketahanan lebih baik dapat mengurangi kebutuhan bahan pengendali dari luar.
Inilah makna kedaulatan pangan yang perlu diperluas. Kedaulatan bukan sekadar kemampuan menghasilkan pangan dalam jumlah yang cukup, melainkan juga kemampuan menguasai sumber utama produktivitas itu sendiri. Semakin baik kemampuan tanaman dalam menggunakan air dan hara serta mempertahankan diri dari gangguan, semakin kecil pula kerentanan petani terhadap kelangkaan maupun kenaikan harga input.
Benih Membawa Kemajuan ke Lahan Petani
Namun, kemajuan genetik tidak akan berarti banyak jika varietas unggul hanya berhenti di laboratorium, rumah kaca, atau kebun percobaan. Keunggulan tanaman baru baru terasa manfaatnya ketika sampai di lahan petani. Di sinilah teknologi perbenihan menjadi sangat penting. Benih adalah kendaraan yang membawa kemajuan genetik. Melalui benih, sifat unggul seperti daya hasil tinggi, tahan kering, hemat hara, dan tahan penyakit dapat berpindah dari hasil kerja pemulia tanaman menuju jutaan hektare lahan produksi. Benih merupakan pembawa sifat daya hasil dan daya adaptasi, yang perlu didukung oleh industri benih yang kuat serta jaminan ketersediaan benih bermutu.
Oleh karena itu, program pengembangan varietas unggul tidak boleh berjalan sendiri. Program ini harus diikuti oleh kemampuan memperbanyak benih secara cepat, menjaga mutunya, menyediakannya dalam jumlah cukup, dan memastikan petani dapat memperolehnya ketika musim tanam tiba.
Pada akhirnya, prioritas pada genetic gain bukan berarti pupuk, pestisida, irigasi, atau teknologi budidaya menjadi tidak penting. Semua elemen tersebut tetap diperlukan. Hal yang perlu dibangun adalah keseimbangan baru dalam strategi ketahanan pangan.
Selama ini, banyak persoalan dijawab hanya dengan menambahkan input. Ke depan, sebagian persoalan harus mulai dijawab dengan memperkuat kemampuan biologis tanaman. Varietas yang semakin produktif, hemat air, efisien dalam menggunakan hara, dan tahan terhadap gangguan akan membuat produksi pangan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim maupun ketidakpastian global.
Oleh karena itu, pengembangan varietas unggul perlu mendapat porsi yang lebih kuat dalam strategi pangan nasional. Satu kemajuan genetik dapat membantu menyelesaikan banyak persoalan sekaligus.
Kedaulatan pangan pada akhirnya harus dimulai dari kemampuan bangsa menciptakan varietas unggul, menguasai teknologi benihnya, dan memastikan keunggulan tersebut benar-benar tumbuh di lahan petani. Dengan begitu, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak input yang mampu kita sediakan, melainkan juga oleh seberapa kuat kemampuan tanaman yang kita bangun dan kuasai sendiri.
Eka Tarwaca Susila Putra. Dosen di Fakultas Pertanian UGM, saat ini menjabat sebagai Ketua Departemen Budidaya Pertanian, Faperta UGM.
Tonton juga video "Prabowo di KTT BRICS: Bertahun-tahun Impor, Kini RI Ekspor Beras-Jagung"
(rdp/imk)









































