Bahagia Itu Sementara, Tenang Itu Selamanya
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Bahagia Itu Sementara, Tenang Itu Selamanya

Sabtu, 12 Sep 2026 09:25 WIB
karmin winarta
Mantan pekerja media dan penulis.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
ilustrasi yoga
Foto: Ilustrasi ketenangan (ilustrasi/thinkstock)
Jakarta -

Hidup bahagia adalah life goal nyaris setiap orang. Dengan segala daya dan upaya maksimal, mereka berusaha mewujudkan keinginan itu dengan berbagai cara.

Kita lihat sekeliling kita lebih cermat. Orang-orang yang sudah berkecukupan secara materi tetap saja bekerja mati-matian-dari subuh sampai subuh lagi baru pulang.

Beberapa orang menjelang pensiun malah mengikuti pelatihan beternak lebah dan beternak lele untuk memulai bisnis barunya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebahagiaan nyaris selalu diukur dengan uang. Jika tak punya uang, seseorang belum dianggap atau belum diakui sebagai orang yang sukses. Sukses secara materi pun identik dengan kebahagiaan.

Contohnya tetanggaku. Sejak aku kecil, dia gemar menabung dan terus menabung sampai tua, bahkan sampai lupa cara membelanjakan uangnya-termasuk untuk dirinya sendiri-lalu tiba-tiba meninggal begitu saja.

ADVERTISEMENT

Kadang kebahagiaan versi mereka adalah ketika bisa memenuhi harapan orang-orang: tetangga, keluarga, kerabat, calon mertua, dan pengikut di media sosial.

Kalau kita amati, nyaris semua akun media sosial berlomba-lomba mengunggah momen-momen bahagianya. Mereka berusaha meyakinkan para pengikutnya bahwa dirinya sedang dalam keadaan menyenangkan, enjoy, dan asyik hidupnya.

Pengikut seolah memaksa kita untuk terus tersenyum. Algoritma juga menuntut kita merayakan milestone harian yang ideal: kopi pagi yang estetis, promosi jabatan di usia muda, punya tabungan miliaran di usia 25 tahun, atau liburan serba-mewah ke destinasi impian.

Kita hidup dalam era di mana "kebahagiaan" tidak lagi sekadar perasaan, melainkan sebuah komoditas dan tuntutan sosial. Jika sehari saja tidak merasa gembira atau tidak mengunggah momen bahagia, kita dianggap gagal menikmati hidup.

Padahal bisa jadi (tentu tidak semua), kondisi sebenarnya justru sebaliknya. Diri kita yang asli adalah apa yang tidak kita unggah.

Contohnya aku sendiri. Setiap kali akan mengunggah foto ke media sosial, aku mencari pose wajah terbaik. Itu pun masih diedit memakai filter berulang-ulang sampai mendapatkan hasil maksimal.

Tujuannya tentu saja untuk memberitahukan kepada dunia bahwa aku bahagia, dan tentu saja untuk mendapatkan like, share, dan komentar sebanyak-banyaknya dari pengikut.

Uniknya, di era hiperrealitas ini, netizen juga lebih menyukai kepalsuan. Kalau melihat foto atau video yang real atau biasa-biasa saja, mereka kurang tertarik.

Oleh karena itu, banyak akun yang berusaha meyakinkan pengikutnya bahwa dirinya sedang berbahagia dengan mengunggah foto sedang menikmati semangkuk mi instan rebus dengan narasi: "Bahagia itu sederhana."

Kebahagiaan mereka bergantung pada hal-hal di luar dirinya. Padahal kebahagiaan seperti itu ibarat cuaca: sebentar datang, sebentar pergi, dan tidak menentu.

Misalnya bulan ini memperoleh income Rp100 juta, tentu senang sekali in this economy. Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Keinginan punya pendapatan Rp200 juta meronta-ronta ingin dipenuhi. Itulah penderitaan.

Itulah sebabnya banyak orang yang "memiliki segalanya"-kekayaan, kesuksesan, dan popularitas-tetapi mengaku merasa kosong atau gelisah hidupnya.

Mereka memiliki banyak momen bahagia, tetapi tidak memiliki dasar ketenangan. Mereka seperti pelaut yang terus-menerus mencari ombak besar untuk bersenang-senang, tetapi tidak pernah menemukan pelabuhan untuk beristirahat. Begitu terus sampai mereka menyadari bahwa kebahagiaan itu hanya sementara.

Temukan Ketenangan

Banyak yang beranggapan bahwa ketenangan baru bisa diraih ketika masalah hidup sudah selesai. Kekeliruan cara berpikir ini dialami banyak orang.

Padahal, kehidupan tak pernah bebas dari masalah. Oleh karena itu, tenang bukan sebuah hasil, melainkan sebuah mindset.

"Tidak ada orang yang bisa terganggu oleh hal-hal yang terjadi di luar dirinya, kecuali jika ia sendiri mengizinkannya."

Ketenangan bukan berarti tidak ada badai. Ketenangan berarti tetap berdiri kokoh di tengah badai. Ia bukan kondisi tanpa masalah, melainkan kemampuan menghadapi masalah tanpa kehilangan kedamaian.

Kekuatan yang Lebih Besar daripada Kebahagiaan

Kebahagiaan itu melenakan. Saat kita terlalu bahagia, kita bisa menjadi berlebihan, tidak waspada, dan mudah kecewa ketika hal baik berakhir.

Sebaliknya, ketenangan membuat kita jernih. Ia membuat kita melihat masalah dengan kepala dingin, mengambil keputusan dengan hati tenang, dan tetap berbaik hati bahkan ketika sedang lelah.

Tenang Setiap Hari

Bagaimana kita bisa memilih tenang di tengah dunia yang berisik, cepat, dan penuh tekanan?

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

Berhenti Menunggu Keadaan Sempurna

Ketenangan adalah keputusan yang kita buat secara sadar sehingga dalam kondisi apa pun kita tetap tenang. Awalnya mungkin tak masuk akal, tetapi dengan latihan kita bisa mencapai level itu.

Terima Bahwa Hidup Memiliki Dua Sisi

Sadari bahwa hidup selalu mempunyai dua sisi yang bertolak belakang: siang dan malam, panas dan hujan, serta senang dan susah. Semua bersifat sementara. Kemampuan menerima kenyataan ini secara langsung akan menurunkan tekanan batin kita secara signifikan.

Jangan Menyerahkan Kendali Diri kepada Orang Lain

Ketika kamu marah karena perkataan orang lain, berarti kamu memberikan kendali atas perasaanmu kepada mereka. Ketika kamu gelisah karena pendapat orang lain, berarti kamu membiarkan mereka menguasai hatimu. Memilih tenang berarti berkata: "Aku yang memegang kendali atas diriku-bukan keadaan, bukan orang lain."

Tak Lagi Berharap

Mulailah tidak berharap kepada siapa pun, termasuk pasangan, anak, apalagi orang asing. Sebab, mereka punya perasaan yang labil sesuai kondisi yang dihadapinya. Hanya mereka yang berharap (kepada makhluk) yang akan kecewa.

Hindari Perdebatan

Setiap kerumunan memicu pembicaraan dan tak jarang topiknya menimbulkan perdebatan-mulai dari soal politik dan keyakinan, hingga cara makan bubur ayam diaduk atau tidak. Agar tak terseret pembicaraan yang kurang bermanfaat atau memicu emosi, lebih baik diam. Kalau masih sabar, kita bisa menyimak. Namun, kalau sudah eneg, tinggalkan saja tanpa perlu merasa bersalah demi kesehatan emosi kita sendiri.

Batasi Konsumsi Informasi

Tak semua informasi yang beredar adalah fakta. Jangan langsung percaya; harus cek dan recheck sebelum memercayainya. Apalagi informasi yang beredar di media sosial, nyaris semua tak bisa dipertanggungjawabkan. Kadang mereka menciptakan informasi hanya untuk menarik pengunjung demi cuan.

Selalu Berkesadaran Penuh (Mindfulness)

Biasakan melatih diri untuk hadir sepenuhnya di momen saat ini, bukan meratapi masa lalu atau terlalu mengkhawatirkan masa depan. Luangkan waktu beberapa menit sehari untuk bernapas dalam-dalam, bermeditasi, atau sekadar menikmati aktivitas kecil tanpa gangguan.

Berani Menolak

Jangan memaksakan diri menyenangkan semua orang (people pleasing). Miliki keberanian untuk menolak permintaan yang menguras energi atau waktu tanpa merasa bersalah demi menjaga kesehatan mentalmu.

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk mencapai ketenangan. Carilah yang paling nyaman dan mudah dipraktikkan.

Karmin Winarta. Mantan pekerja media dan penulis.

(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait