×
Ad

Obituari

Airlangga Pribadi Kusman dan Utang yang Tak Terlunasi

Sudrajat - detikNews
Kamis, 10 Sep 2026 10:43 WIB
Foto: Airlangga Pribadi Kusman (Dok Istimewa)
Jakarta -

Selepas makan siang nanti, sedianya Airlangga Pribadi Kusman bersama Rocky Gerung hadir di kampus UIN Ciputat untuk membahas buku terbaru yang mereka tulis, Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z. Namun sejak Rabu pagi, berseliweran kabar di media sosial bahwa Airlangga telah berpulang.

"Iya, Jat. Dia kena serangan tekanan darah tinggi: 240. Meninggal di RSPAD 13.35." Suradi memberikan konfirmasi. Wartawan Sinar Harapan yang saya kenal sejak pertengahan 1990-an itu pernah mengajar Sejarah di SMAN 8 Jakarta. Dialah yang mengenalkan saya kepada Airlangga pada pertengahan Agustus 2023.

Airlangga kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya memang pernah menjadi murid Suradi di SMAN 8 Jakarta pada 1992-1994. "... yang pertama kali mengenalkan Sukarno dalam kajian Sejarah itu beliau," tulis Airlangga melalui WhatsApp pada 27 Agustus 2023.

Tiga hari kemudian, ia mengirimi saya buku Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan Ala Indonesia. Tentu saja saya berterima kasih dan berjanji akan meluangkan waktu untuk mencicil membaca sekaligus membuat ulasannya. Maklum, tebal buku itu sekitar 500 halaman.

Buku tersebut diberi pengantar oleh cendekiawan Fachry Ali dan Ketua Umum PDI Perjuangan Prof. (HC) Hj. Megawati Soekarnoputri.

Sayangnya, sebelum benar-benar tuntas membaca buku itu, berdatangan buku-buku lain yang lebih ringan. Perhatian saya pun teralihkan. Entah kapan, buku tersebut ternyata sudah raib dari meja kerja. Entah siapa yang meminjamnya. Mungkin inilah salah satu utang saya kepada Airlangga yang tak sempat terlunasi.

Saya sebenarnya tak merasa terlalu mengenal dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya itu. Relasi kami sebatas antara pengamat dan wartawan. Sesekali ia mengirim tulisan atau pandangan tentang isu politik yang sedang hangat. Terakhir kami berinteraksi pada 2 Februari 2026. Ia mengabarkan telah mengirim surat terbuka kepada Ketua Umum PBNU Yahya C. Staquf terkait Board of Peace yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sepekan sebelumnya, Airlangga mengirim artikel bertajuk "PDI Perjuangan dan Pertaruhan Ideologis di Era Pragmatisme". Tulisan itu kemudian dimuat pada Minggu, 25 Januari 2026.

Selebihnya, saya mengikuti komentar dan pemikiran doktor Ilmu Politik lulusan Murdoch University, Australia, pada 2016 itu melalui sejumlah coretan di dinding Facebook-nya.

Pada pertengahan Agustus 2025, Wakil Pemimpin Redaksi detik.com meminta saya membuat ulasan buku biografi Puan Maharani, Puan Maharani Digembleng oleh Keadaan. Salah satu alasan saya tertarik mengerjakannya adalah karena buku tersebut ditulis Airlangga Pribadi Kusman bersama Yohan Wahyu. Saya juga pernah beberapa kali berinteraksi dengan Puan. Rencananya, ulasan tersebut ditayangkan pada 6 September, bertepatan dengan ulang tahun Ketua DPR itu.

Meski sejak awal saya menilai buku tersebut ditulis dengan "penuh permakluman", akhirnya saya menyelesaikan juga ulasannya. Saya membukanya dengan kutipan yang barangkali terlalu klise: Don't judge a book by its cover. Ungkapan itu terasa relevan ketika saya hendak menulis tentang Puan Maharani Nakshatra Kusyala Devi.

Sebelum mewawancarainya pada 7 Agustus 2019, saya termasuk dari sekian banyak orang yang memandang sebelah mata putri Megawati Soekarnoputri dan politisi kawakan almarhum Taufiq Kiemas itu. Citra Puan sebagai politisi-juga sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK)-yang terkesan terlalu pendiam menjadi salah satu penyebabnya.

Ia seolah alergi terhadap wartawan. Sangat jarang memberikan wawancara atau bersedia didoorstop. Apalagi meladeni konfirmasi melalui telepon atau WhatsApp. Di sisi lain, sosok Puan telanjur dianggap sebagai "Putri Mahkota". Sebagai putri mantan presiden sekaligus ketua umum partai politik besar, ia dianggap memperoleh privilese sehingga bisa langsung menduduki posisi Menko PMK pada 2014-2019. Padahal, jabatan menteri koordinator lazimnya ditempati figur-figur senior.

Namun, semua kesan miring itu luruh ketika Puan datang ke ruang redaksi detik.com tanpa banyak protokoler. Mengenakan blus batik hijau dengan riasan seadanya, perempuan kelahiran 6 September 1973 itu tampil bersahaja, tetapi tetap memancarkan wibawa. Sejumlah pertanyaan dijawab dengan lugas, mengalir, terstruktur, dan penuh percaya diri. Sesekali Puan melontarkan lelucon dan tertawa lepas. Sama sekali tak jaim.

"Makanya, Mas... kalau menilai orang itu jangan cuma dari luarnya saja. Cek rekam jejaknya dengan utuh," kurang lebih begitu ia menyindir. "Saya itu aslinya baik, murah hati, dan tidak sombong," candanya, diiringi derai tawa.

Melalui biografi politik Puan Maharani Digembleng oleh Keadaan, Airlangga Pribadi Kusman dan Yohan Wahyu memberikan perspektif dan informasi tambahan tentang Puan. Menelisik kehidupannya sejak kecil hingga menjadi mahasiswa UI, keduanya menyimpulkan bahwa Puan tidak tumbuh di atas karpet merah.

Ia bertumbuh di tengah jalan berdebu, di tengah got yang berisi kepiting, dan di rumah sederhana yang sekaligus menjadi tempat konsolidasi politik. Masa kecil Puan adalah kisah tentang adaptasi, ketegaran, dan semangat bertahan. Barangkali, dalam dunia politik Indonesia yang sering gemerlap tetapi rapuh, tulis Airlangga dan Yohan, kisah itu justru merupakan pondasi yang penting.

Saat menyusun skripsi di Jurusan Komunikasi Massa FISIP UI, Puan meneliti program keluarga berencana di sebuah desa di Klaten. Ia tinggal di loteng rumah petani, tidur di antara karung-karung gabah. Tak ada AC. Tak ada kasur empuk.

Namun justru dari sana ia menyerap kesahajaan dan memahami denyut kehidupan masyarakat desa. Ketika memasuki masa magang, Puan memilih bekerja di Majalah Forum Keadilan, yang kala itu menjadi salah satu ikon jurnalistik kritis. Majalah tersebut diampu antara lain oleh jurnalis kawakan Panda Nababan dan Karni Ilyas.

Buku Airlangga dan Yohan membantu saya melihat Puan dari sisi yang sebelumnya tak banyak saya ketahui. Dan tanpa saya sadari, pekerjaan menulis ulasan itu terasa seperti cara kecil untuk membayar utang kepada Airlangga. Sayang, ulasan tersebut batal tayang. Acara peluncuran dan diskusi bukunya yang sedianya digelar di Auditorium Bank Mega juga batal. Dua pekan sebelumnya, kerusuhan meletus di depan gedung DPR.

Pada Rabu pagi kemarin, Airlangga tiba di Jakarta dari Surabaya dengan kereta api dan turun di Stasiun Gambir. Karena masih terlalu pagi dan menunggu sang istri menjemput, ia sarapan di kedai kopi Atjeh Connection di Jalan Sabang. Sambil menunggu pesanan datang, intelektual muda itu membuka laptop. Ia menulis makalah tentang Soekarno.

Tak lama kemudian, berdasarkan kesaksian pelayan dan rekaman CCTV di lokasi, Airlangga bangkit dari kursinya. Tubuhnya tiba-tiba sempoyongan. Ia terjatuh dan pingsan. Ia segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSPAD Gatot Subroto. Dokter menyatakan lelaki kelahiran Jombang, 23 November 1976, itu meninggal dunia pada pukul 13.35 WIB.

Setahun lalu, saya ingat Airlangga menulis obituari untuk seniornya, ekonom yang juga Direktur Megawati Institute, Arif Budimanta, yang berpulang pada 6 September. Ia menyebut Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi pada era pemerintahan Joko Widodo itu sebagai "Ekonom Marhaen Yakusa (Yakin Usaha Sampai)".

Keduanya memiliki relasi dekat karena disatukan oleh kedekatan ideologis dan berangkat dari organisasi mahasiswa yang sama. Sebagai Staf Khusus Presiden, Arif beberapa kali mengundang Airlangga untuk memberikan paparan kepada tim penasihat ekonomi presiden tentang strategi ekonomi-politik China.

Arif pula, tulis Airlangga, yang turut memberi semangat kepadanya untuk menulis Merahnya Ajaran Bung Karno. Sayang, ketika kematian datang menjemput Arif, Airlangga tak sempat mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. "Semoga nanti kalau ke Jakarta saya memiliki waktu untuk ziarah ke makamnya," tulis Airlangga.

Kini ia tentu tak perlu melakukannya. Sebab jarak itu telah selesai. Saya membayangkan di alam barzah, keduanya kembali bertemu. Asyik berdiskusi, berdebat keras tentang Marhaenisme, sosialisme, neoliberalisme, dan Soekarno.

Dan saya? Saya masih menyimpan satu utang kepada Airlangga. Buku Merahnya Ajaran Bung Karno yang dulu ia kirimkan kepada saya entah berada di tangan siapa. Ulasan buku Puan yang saya tulis sebagai bagian dari "pembayaran" utang itu pun tak pernah terbit. Semoga kenangan singkat ini bisa dianggap sebagai upaya terakhir untuk melunasinya.

Sudrajat. Wartawan detikcom.




(rdp/imk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork