Dari Laut yang Menghangat hingga Es yang Runtuh
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Dari Laut yang Menghangat hingga Es yang Runtuh

Selasa, 01 Sep 2026 17:36 WIB
Nofiyendri Sudiar
Dosen Fisika, Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim UNP dan peneliti TDMRC Unsyiah.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Damaged buildings near Trishuli River following deadly flash floods and a mudslide, in Betrawati Bazaar in Rasuwa district, Nepal, August 30, 2026. REUTERS/Stringer
Foto: Ngerinya banjir Nepal (REUTERS/Angad Dhakal)
Jakarta -

Banjir besar yang menerjang Nepal pada 26 Agustus 2026 membawa cerita yang berbeda tentang bencana iklim. Tidak ada hujan ekstrem yang cukup untuk menjelaskan datangnya gelombang air, lumpur, batu, dan es yang meluncur begitu dahsyat dari kawasan Himalaya. Penelusuran citra satelit kemudian menunjukkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan: bagian bawah sebuah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter, jatuh lebih dari satu kilometer ke lembah, dan memicu longsoran es serta batuan.

Analisis terbaru bahkan menunjukkan sinyal seismik yang semula dianggap sebagai gempa ternyata berasal dari runtuhan tersebut. Institut Geofisika dan Vulkanologi Italia (INGV) menjelaskan bahwa material es dan batu sempat membendung Sungai Lhende Khola. Ketika bendungan alami itu runtuh, air, lumpur, batu, dan material lainnya dilepaskan dalam jumlah sangat besar menuju daerah di hilir.

Peristiwa Nepal memberi kita cara lain untuk memahami pemanasan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ini pemanasan global sering dibayangkan secara sederhana: suhu udara meningkat, hari terasa semakin panas, lalu musim menjadi tidak menentu. Semua itu benar, tetapi sesungguhnya persoalannya jauh lebih luas. Pemanasan global sedang mengubah sebuah sistem yang sangat besar, mulai dari atmosfer di atas kepala kita, laut yang menutupi sebagian besar permukaan Bumi, hingga lapisan es di puncak pegunungan.

Laut adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat perubahan itu. Sebagian besar kelebihan panas akibat ketidakseimbangan energi Bumi disimpan di lautan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) melaporkan kandungan panas laut dunia terus meningkat. Bahkan, selama dua dekade terakhir, laut menyerap tambahan panas setiap tahun dalam jumlah yang diperkirakan sekitar 18 kali konsumsi energi tahunan manusia di seluruh dunia.

Di Asia, panas laut pada 2025 kembali mencapai rekor. Gelombang panas laut bahkan meliputi lebih dari 10 juta kilometer persegi pada periode Juli-September 2025. Laut yang semakin hangat bukan sekadar persoalan ikan, terumbu karang, atau nelayan. Laut merupakan salah satu sumber energi bagi atmosfer. Semakin hangat permukaan laut, semakin besar peluang terjadinya penguapan. Atmosfer yang lebih hangat juga mampu menampung lebih banyak uap air. Dalam kondisi atmosfer yang mendukung, kombinasi energi dan kelembapan tersebut dapat memperkuat hujan ekstrem dan menyediakan bahan bakar bagi badai tropis.

Namun, kita perlu berhati-hati mengatakan bahwa pemanasan global otomatis membuat jumlah siklon semakin banyak. Ilmu iklim tidak sesederhana itu. Yang semakin jelas adalah bahwa laut yang lebih hangat menyediakan lingkungan yang memungkinkan siklon tertentu membawa hujan lebih lebat dan mencapai intensitas lebih besar.

Kita bahkan baru saja mendapatkan contoh yang sangat dekat. WMO mencatat Siklon Senyar pada 2025 sebagai sistem pertama yang diketahui mencapai intensitas siklon tropis di Selat Malaka. Peristiwa tersebut berdampak terhadap lebih dari 10 juta orang di Indonesia dan Malaysia.

Jika di laut pemanasan muncul melalui panas laut dan energi bagi atmosfer, di pegunungan tinggi wajahnya berbeda.

Di Himalaya, yang berubah adalah dunia es.

Gletser di kawasan pegunungan tinggi Asia terus mengalami penyusutan. Suhu yang meningkat tidak hanya mempercepat pencairan es, tetapi juga dapat mengubah kestabilan lingkungan pegunungan. Permafrost-tanah dan batuan yang membeku dalam waktu lama-dapat mencair. Es yang berada di antara retakan batuan pun berkurang. Lereng yang selama ini relatif stabil dapat berubah menjadi lebih rapuh.

Para ilmuwan yang menganalisis kejadian Nepal memperingatkan bahwa perubahan iklim menciptakan kondisi yang dapat membuat batuan dan es di pegunungan tinggi semakin tidak stabil. Namun, mereka juga berhati-hati: belum cukup bukti untuk mengatakan bahwa pemanasan global secara langsung menyebabkan runtuhnya gletser Nepal pada 26 Agustus tersebut.

Kehati-hatian ini penting.

Tidak setiap banjir, badai, longsor, kebakaran hutan, atau runtuhan gletser dapat begitu saja diberi label "disebabkan oleh perubahan iklim". Setiap bencana memiliki mekanisme dan pemicunya sendiri. Namun, perubahan iklim sedang mengubah kondisi dasar tempat berbagai proses alam itu berlangsung. Ibarat sebuah mesin besar, kita sedang menaikkan suhu operasinya. Setiap komponen kemudian memberikan respons yang berbeda.

Atmosfer yang lebih hangat dapat meningkatkan potensi gelombang panas dan hujan ekstrem. Laut yang lebih hangat menyimpan energi lebih besar dan mengalami gelombang panas laut. Es daratan yang mencair ikut menaikkan muka laut. Gletser mundur. Permafrost mencair. Siklus air berubah. Pada satu wilayah muncul hujan yang luar biasa, sementara wilayah lainnya menghadapi kekeringan berkepanjangan.

Itulah mengapa pemanasan global tidak mempunyai satu wajah.

Kadang ia datang sebagai udara yang menyengat. Kadang sebagai laut yang luar biasa hangat. Kadang sebagai hujan yang turun jauh lebih deras. Kadang sebagai badai yang memperoleh energi dari perairan hangat. Di tempat setinggi Himalaya, perubahan itu dapat hadir dalam bentuk yang sebelumnya jarang kita bayangkan: es dan batu yang kehilangan kestabilannya.

Bencana Nepal akhirnya mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar. Ketika suhu rata-rata Bumi naik, yang berubah bukan sekadar angka pada termometer. Yang sedang berubah adalah cara sistem Bumi bekerja.

Nofiyendri Sudiar. Dosen Fisika, Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim UNP dan peneliti TDMRC Unsyiah.

Tonton juga video "Laut Kaspia Terus Menyusut, Kok Bisa?"

(rdp/imk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait