Pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, kawasan wisata legendaris Desa Adat Sade di Lombok Tengah luluh lantak dilalap si jago merah. Kobaran api yang mengamuk dari pukul 20.00 hingga 22.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA) tersebut melenyapkan 89 hingga 120 unit rumah tradisional suku Sasak. Tidak ada satu pun bangunan adat di area inti permukiman yang tersisa.
Musibah ini meruntuhkan ruang hidup kebudayaan dan memutus seketika mata pencaharian 120 kepala keluarga atau sekitar 320 jiwa. Tragedi ini membuka mata publik terhadap satu paradoks besar dalam manajemen pariwisata kita: bentang eksotisme arsitektur organik tradisional rupanya menyimpan kerentanan bencana yang sangat tinggi akibat minimnya sistem proteksi modern.
Material bangunan seperti atap jerami atau ilalang, dinding anyaman bambu (bedek), serta kerangka kayu adalah mahakarya vernakular yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan global. Akan tetapi, struktur organik yang dikombinasikan dengan tata ruang padat membuat kawasan ini layaknya sekam kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu percikan api yang diduga berasal dari korsleting atau short circuit tersulut, embusan angin kencang langsung memperluas area terbakar tanpa kendali. Pemadaman bahkan harus memobilisasi armada gabungan dari Kabupaten Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur, hingga Kota Mataram bersama aparat keamanan. Fakta ini menegaskan bahwa keaslian budaya tidak boleh dibiarkan telanjang tanpa kesiapsiagaan mitigasi bencana.
Kerugian terbesar dari tragedi ini bukan sekadar hilangnya struktur fisik bangunan bersejarah. Warga setempat yang berprofesi sebagai penenun kain songket, perajin lokal, dan pemandu wisata harus merelakan harta benda, pakaian adat, hingga alat tenun mereka menjadi abu.
Penduduk lokal kehilangan instrumen utama penggerak ekonomi mereka secara instan. Oleh karena itu, pemulihan pascabencana harus berorientasi pada manusia atau human-centered recovery. Rekonstruksi permukiman akan terasa hampa jika tidak dibarengi dengan pemulihan martabat ekonomi masyarakat adat serta penyembuhan trauma psikologis warga.
Langkah tanggap darurat dari pemerintah daerah, intervensi langsung Kementerian Pariwisata, hingga aliran donasi publik patut mendapat apresiasi tertinggi. Solidaritas luar biasa terlihat saat figur publik menyumbangkan dana satu miliar rupiah dan berbagai korporasi mendirikan posko logistik darurat. Walaupun demikian, bantuan pangan dan tenda pengungsian hanyalah pereda duka sesaat.
Tantangan sebenarnya terletak pada fase rekonstruksi bangunan fisik dan sistem sosial masyarakat. Proses pembangunan ulang berisiko memunculkan "disneylandisasi budaya" apabila hanya mengejar target penyelesaian proyek pariwisata agar desa cepat beroperasi kembali.
Pembangunan kembali Desa Sade mutlak berpegang teguh pada prinsip membangun kembali dengan lebih baik atau build back better. Para tetua adat Sasak wajib memegang kendali utama dalam memimpin rekonstruksi agar nilai filosofis leluhur tetap utuh dan autentik. Bersamaan dengan hal tersebut, pemangku kebijakan harus berani menyusupkan modernisasi sistem keselamatan secara bijak tanpa merusak estetika tradisional.
Pemerintah dan pengelola wisata perlu menerapkan teknologi pencegahan kebakaran tersembunyi. Inovasi pelapisan cairan antipicu api atau fire retardant pada seluruh material atap ilalang dan dinding bambu menjadi keharusan mutlak. Instalasi jaringan kabel listrik harus ditata ulang secara masif menggunakan material standar tahan panas yang tertutup rapat. Selain itu, penyediaan hidran air bertekanan tinggi di titik-titik strategis permukiman dan instalasi sprinkler otomatis tersembunyi perlu dikaji secara matang.
Peningkatan kapasitas mitigasi juga membutuhkan pembentukan sekaligus pelatihan regu pemadam kebakaran mandiri yang beranggotakan warga desa setempat. Menit-menit pertama saat api muncul adalah fase penentu keselamatan yang hanya bisa diatasi oleh kesigapan warga lokal sebelum armada pemadam tiba di lokasi bencana.
Tragedi kebakaran Desa Sade adalah alarm peringatan paling keras bagi seluruh destinasi wisata berbasis warisan budaya di Indonesia. Keaslian tradisi tidak boleh lagi menjadi dalih untuk mengabaikan aspek keselamatan dasar.
Dari tumpukan puing dan abu, komitmen seluruh pemangku kepentingan sedang diuji secara nyata. Bangsa ini harus mampu membangun kembali sebuah peradaban adat yang tangguh bencana tanpa sedikit pun mengorbankan identitas luhur warisan kebudayaan leluhur.
Randi Syafutra. Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kandidat Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University, & Pendiri TERRA Indonesia.
Simak juga Video: Gubernur NTB Ungkap Dugaan Sementara Penyebab Kebakaran di Desa Sade










































