Nutri Level dan Literasi Pangan Sehat
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Nutri Level dan Literasi Pangan Sehat

Kamis, 20 Agu 2026 10:28 WIB
Prof. Dr. ALI KHOMSAN
Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi, IPB University. Lulusan S3 Iowa State University, Amerika tahun 1991.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi Makanan Sehat
Foto: Ilustrasi makanan sehat (Freepik)
Jakarta -

Ada cerita anekdot tentang orang Amerika ketika ditanya mengenai hal yang paling diperhatikan saat membeli produk pangan kemasan. Jawaban mereka adalah 'kandungan kalori'. Namun, ketika pertanyaan serupa diajukan kepada masyarakat Indonesia, 'harga' ternyata menjadi hal yang paling diperhatikan.

Mengapa masyarakat di negara maju sangat memperhatikan kandungan kalori? Hal ini disebabkan prevalensi obesitas di sana sudah menjadi masalah kesehatan yang serius. Di Indonesia, kasus kelebihan berat badan juga semakin banyak, tetapi kita belum terlalu menghiraukan dampak negatifnya terhadap kesehatan.

Komposisi dan klaim gizi pada label pangan tentu harus mendapat perhatian konsumen. Keberadaan UU Perlindungan Konsumen menyiratkan bahwa konsumen berhak memperoleh informasi yang lengkap dan benar tentang produk yang dibelinya. Pencantuman komposisi gizi merupakan wujud tanggung jawab produsen agar konsumen tidak keliru dalam menentukan pilihan. Selain itu, informasi ini juga dapat menjadi sarana iklan yang efektif untuk menarik pembeli. Namun, memahami komposisi gizi bukanlah hal yang mudah bagi konsumen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indonesia kini telah memperkenalkan Nutri Level, yaitu sistem pelabelan pada makanan dan minuman yang membantu konsumen menilai tingkat kesehatan suatu produk. Label ini terbagi menjadi empat kategori, yaitu Level A (hijau tua), Level B (hijau muda), Level C (kuning), dan Level D (merah). Secara sederhana, Level A menunjukkan produk paling sehat karena mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) dalam jumlah rendah. Sebaliknya, Level D menandakan produk dengan kandungan GGL tinggi yang bahkan dapat melebihi batas aman rekaan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa penerapan label ini bertujuan untuk menekan angka penyakit tidak menular (PTM), seperti obesitas dan diabetes. Pendekatan melalui pelabelan dinilai lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku konsumen dibandingkan dengan kebijakan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Sebagai perbandingan, Singapura telah lebih dahulu menerapkan sistem serupa bernama Nutri-Grade. Sejak diberlakukan, kebijakan tersebut dilaporkan mampu mendorong konsumen di Singapura untuk lebih selektif dan cenderung memilih minuman yang lebih sehat.

Lemak memiliki cita rasa gurih yang membuat produk pangan menjadi lebih lezat. Misalnya dalam pembuatan es krim, keberadaan lemak susu tidak hanya membuat tekstur lebih lembut, tetapi juga membuat es krim terasa lebih nikmat. Pada produk bakery, lemak menjadikan makanan terasa lebih fresh dan empuk. Kelembutan cita rasa daging juga salah satunya dipengaruhi oleh kandungan lemak. Sementara dalam proses penggorengan, lemak atau minyak berkontribusi memberikan tekstur renyah (crispy).

Asam lemak trans (Trans Fatty Acids = TFA) terkandung dalam margarin, terutama margarin nonsawit yang proses pembuatannya menggunakan teknik hidrogenasi parsial. TFA di dalam makanan menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner (PJK) yang tidak boleh diabaikan. Bahkan, menurut berbagai hasil penelitian, dampak TFA lebih buruk daripada efek negatif asam lemak jenuh dan kolesterol.

Selain lemak trans, faktor risiko penyakit jantung lainnya adalah asupan kolesterol. Kadar kolesterol total dalam darah dikatakan tinggi apabila melebihi 200 mg/dL. Pembuluh darah yang tersumbat kolesterol dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke. Selain kadar kolesterol total, tingginya rasio LDL/HDL merupakan faktor risiko PJK. LDL sering disebut sebagai kolesterol jahat dan HDL adalah kolesterol baik. Rasio LDL/HDL yang melebihi angka 4 dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Dalam hal konsumsi garam, tirulah orang Eskimo atau bangsa Inca. Mereka nyaris tidak mengonsumsi garam, tetapi tetap dapat bertahan hidup. Makanan mereka cenderung hambar, namun organ tubuh mereka tetap berfungsi dengan baik.

Sebenarnya kita boleh tidak mengonsumsi garam dapur, asalkan asupan sodium dalam menu harian tetap terpenuhi. Banyak bahan makanan harian yang mengandung sodium alami untuk mencukupi kebutuhan tubuh, seperti wortel, sayuran berdaun hijau, telur, dan susu. Namun, karena sodium alami dalam bahan makanan tersebut tidak berikatan dengan klor, makanan itu tidak memberikan rasa asin pada lidah.

Kebutuhan sodium atau natrium didasarkan pada kebutuhan pertumbuhan serta penggantian natrium yang hilang melalui keringat dan sekresi tubuh lainnya. Penduduk di daerah beriklim panas membutuhkan lebih banyak natrium dibandingkan penduduk di daerah dingin. Batas aman konsumsi garam adalah 5 gram sehari atau sekitar 1 sendok teh. Konsumsi garam berlebih dapat menyebabkan hipertensi, terutama bagi individu yang sensitif terhadap natrium. Hipertensi berpotensi memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Hal serupa berlaku untuk konsumsi gula. Saat ini, batas anjuran konsumsi gula adalah 50 gram per orang per hari. Berbagai produk makanan dan jajanan manis kini sangat mudah dijumpai. Oleh karena itu, kehadiran Nutri Level akan sangat membantu masyarakat dalam memilih produk makanan yang rendah gula.

Edukasi menjadi kunci utama dalam mengarahkan pola makan masyarakat agar konsumsi rendah GGL menjadi sebuah kebiasaan. Institusi pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi dapat menjadi wadah edukasi gizi mengenai Nutri Level. Selain itu, iklan layanan masyarakat di media cetak, elektronik, dan media sosial perlu terus mengampanyekan konsumsi makanan sehat. Dengan diterapkannya logo Nutri Level pada kemasan pangan, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah menentukan pilihan makanan yang sehat.


Ali Khomsan. Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi, IPB University.

Lihat juga Video: HEALTH CORNER: Gizi Lengkap, Anak Tinggi & Cepat Tanggap

(rdp/rdp)


Berita Terkait