×
Ad

Kolom

Memimpin Dengan Hati

Aminuddin Ma - detikNews
Minggu, 16 Agu 2026 19:31 WIB
Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf (Foto: Dok Ist)
Jakarta -

Pada suatu momen bersama Teddy Indra Wijaya, kini Sekretaris Kabinet, kami pernah mendampingi Pak Prabowo bertemu para kiai sepuh Jawa Timur. Di pertemuan yang khidmat itu, dengan suara lirih dan nyaris bergetar, beliau berkata, "Saya tidak punya kepentingan apa pun selain melanjutkan pengabdian kepada bangsa dan negara di sisa umur saya. Dan saya berterima kasih kepada Pak Jokowi yang telah memberikan kesempatan ini." Air matanya menetes pelan.

Pertemuan itu berlangsung jauh sebelum ia ditetapkan sebagai calon presiden. Di ruang yang sederhana, di hadapan para kiai yang sebagian besar usianya diabdikan untuk umat, Pak Prabowo tidak berbicara tentang angka survei, strategi pemenangan, atau perhitungan elektoral. Ia berbicara tentang sisa umur, tentang pengabdian, dan tentang rasa terima kasih yang demikian tulus. Dari momen itu, sisi humanisnya terpancar terang.

Dari banyak keputusan yang diambilnya, satu hal menjadi gamblang, bahwa Pak Prabowo memimpin dengan insting dan hati, bukan semata dengan kalkulasi kuantitatif. Ia tidak selalu mengejar popularitas. Ia tidak harus menjadi yang paling disukai di setiap lapisan, selama langkah yang diambil selaras dengan keyakinan terdalamnya dan didedikasikan untuk pengabdian kepada rakyat serta cita-cita para pendiri bangsa.

Di sinilah teori kepemimpinan Robert K. Greenleaf tentang servant leadership menemukan relevansinya. Kepemimpinan sejati menempatkan pelayanan sebagai yang utama, bukan kekuasaan. Seorang pemimpin yang benar-benar memimpin tidak bertanya "Apa yang bisa saya dapat?", melainkan "Apa yang bisa saya beri?" Presiden Prabowo, dalam keputusan-keputusan yang sulit, seolah terus menjawab pertanyaan itu dengan sudut sanubarinya.

Mari kita lihat komitmennya terhadap koperasi. Ia ingin menghidupkan kembali cita-cita para pendiri bangsa, yakni koperasi sebagai sokoguru ekonomi. Bukan sekadar wacana, ia mengambil langkah nyata sekaligus berani dengan menggeser konsentrasi anggaran. Ia tahu risikonya. Kepala-kepala desa bisa geram. Padahal mereka adalah lumbung suara yang sangat berharga dalam setiap kontestasi politik. Namun karena ia meyakini bahwa koperasi adalah jalan yang telah digagas oleh para pendahulu, termasuk kakek-kakeknya sendiri, ia tetap melangkah maju. Ia tidak mundur hanya karena takut kehilangan dukungan.

Contoh lain tampak dalam program makan bergizi gratis. Di tengah keterbatasan fiskal dan deretan kritik, ia tetap teguh. Bukan karena program itu secara instan mendongkrak popularitas, melainkan karena ia melihat anak-anak Indonesia yang masih lapar di pagi hari, yang masih kekurangan gizi di usia emas pertumbuhan. Hati yang mendengar derita rakyat kecil tidak bisa berpura-pura tuli. Ia memilih melindungi generasi masa depan, meski langkah itu menuntut pengorbanan politik dan administrasi yang tidak ringan.

Dalam soal pertahanan dan kedaulatan, pola yang sama berulang. Pak Prabowo tidak memandang kekuatan militer sekadar sebagai instrumen kekuasaan, melainkan sebagai jaminan agar bangsa ini tidak lagi merasakan kehinaan yang pernah dialami di masa lalu. Ia berbicara tentang kemandirian, tentang harga diri, tentang tanah air yang harus dijaga dengan segenap asa. Itu bukan semata doktrin strategis. Itu adalah rasa cinta yang mendalam, yang telah mengakar lama, kepada tanah yang dimerdekakan dengan darah dan air mata.

Yang paling mencolok juga adalah perintahnya menata ulang BUMN. Ia memerintahkan transformasi besar-besaran: merampingkan ratusan perusahaan negara, menghapus tantiem, memangkas struktur yang gemuk, dan menutup perusahaan-perusahaan yang hanya membebani uang rakyat tanpa menghasilkan nilai tambah. Ia tidak takut tidak populer. Ia tahu kebijakan ini akan mengundang resistensi, bahkan dari kalangan yang selama ini nyaman dengan kemewahan birokrasi. Namun ia tetap melangkah, demi mengantisipasi kebocoran demi kebocoran yang selama ini menggerogoti aset negara. Baginya, setiap rupiah uang rakyat harus dijaga dan dipertanggungjawabkan.

Mahatma Gandhi pernah berujar, "The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others." Cara terbaik menemukan diri adalah dengan hanyut ke dalam pengabdian kepada orang lain. Kalimat itu terasa sangat dekat dengan apa yang diucapkan seorang Prabowo di hadapan para kiai sepuh itu. Ia seolah sedang hanyut dan tenggelam dalam pengabdian, dan justru di situ ia menemukan jati dirinya sebagai pemimpin.

Dalai Lama mengingatkan bahwa kepemimpinan yang sejati lahir dari belas kasih, bukan dari ambisi semata. "Love and compassion are necessities, not luxuries. Without them, humanity cannot survive." Tanpa belas kasih, tanpa hati yang mampu merasakan denyut penderitaan rakyat, kepemimpinan hanyalah mesin kekuasaan yang dingin. Pak Prabowo, dalam air matanya di Surabaya kala itu, dalam keteguhannya pada koperasi, dalam tekadnya melindungi anak-anak dari rasa takut dan rasa lapar, menjaga kedaulatan, dan menata ulang BUMN, menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan hatinya membeku.

Di tengah peringatan kemerdekaan yang sedang kita rayakan, mari sejenak merenung. Kemerdekaan 1945 bukan hanya tentang merebut tanah dari penjajah. Ia adalah janji untuk terus mengabdi, untuk terus menjaga, untuk terus memimpin dengan hati. Para pendiri bangsa menorehkan darah dan air mata agar generasi berikutnya memiliki ruang untuk mengabdi tanpa rasa takut, untuk mencintai tanpa ragu.

Memimpin dengan hati bukan berarti mengabaikan akal dan data. Ia justru menempatkan akal dan data di bawah bimbingan nurani. Ia membuat seorang pemimpin berani mengambil risiko yang tidak populer, berani menanggung kritik, berani tetap berdiri ketika angin politik bertiup kencang ke arah yang berbeda. Karena yang ia dengar lebih dulu bukan suara survei, melainkan detak jantung rakyat dan bisikan sejarah.

Pak Prabowo, dalam momen-momen yang tenang maupun bergolak, seolah terus mengingatkan kita bahwa pengabdian itu tidak punya tanggal kadaluarsa. Selama masih ada sisa umur, selama masih ada napas, pengabdian kepada bangsa dan negara tetap menjadi panggilan tertinggi.

Semoga di setiap sudut negeri, di setiap keputusan yang diambil para pemimpin, hati tetap menjadi kompas. Karena bangsa ini tidak hanya butuh perhitungan yang tajam. Ia butuh juga air mata yang tulus, keyakinan yang tidak goyah, dan cinta yang rela berkorban.

Merdeka!

Aminuddin Ma'ruf
Wakil Kepala BP BUMN

Simak juga Video: Cak Imin Pede Prabowo Sukses Memimpin hingga 10 Tahun




(knv/knv)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork