Pada Kamis, 6 Agustus 2026, salah satu perangkat yang saya kembangkan berada di antara lebih dari 200 hasil riset dan inovasi yang dipamerkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Merdeka, Jakarta. Sekitar 150 peneliti dan perekayasa hadir membawa berbagai hasil penelitian, mulai dari sektor energi, mineral, kesehatan, pangan, kedirgantaraan, hingga teknologi nuklir.
Perangkat yang ditampilkan adalah alat deteksi cepat unsur hara tanah berbasis inframerah dekat. Alat tersebut dikembangkan untuk memperkirakan kandungan nitrogen, fosfor, kalium, bahan organik, dan tingkat keasaman tanah dalam waktu kurang dari lima menit. Harapannya sederhana: informasi kondisi tanah dapat diperoleh lebih cepat sehingga petani memiliki dasar yang lebih baik dalam menentukan pengelolaan lahannya.
Namun, beberapa hari setelah pameran, perhatian publik di media sosial justru banyak tertuju pada produk yang secara visual jauh lebih sederhana, seperti sepatu karet, genteng komposit, dan keripik ubi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini menarik. Bukan karena publik tidak boleh mempertanyakan hasil riset. Sebaliknya, lembaga penelitian yang menggunakan sumber daya publik memang harus terbuka terhadap kritik. Persoalannya adalah bagaimana sebuah hasil riset dinilai: apakah cukup hanya dengan melihat bentuk produk akhirnya?
Jangan Menilai Teknologi dari Bentuk Produknya
Ambil contoh sepatu karet yang menjadi bahan perbincangan. Jika pertanyaannya hanya, "Mengapa lembaga riset membuat sepatu?", kritik tersebut terdengar masuk akal. Industri sepatu tentu sudah ada sejak lama.
Namun, nilai sebuah penelitian tidak selalu berada pada benda yang terlihat di meja pameran. Sepatu tersebut dibuat menggunakan teknologi one-piece injection molding, yaitu proses pencetakan yang memungkinkan bagian atas dan sol terbentuk secara menyatu tanpa menggunakan perekat konvensional. Lebih penting lagi, penelitian di balik produk tersebut berkaitan dengan pengembangan material berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk karet alam serta pemanfaatan limbah industri kelapa sawit.
Abu boiler sawit, misalnya, dapat diolah menjadi material berbasis silika yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Serat sawit yang sebelumnya dipandang sebagai limbah juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari material komposit.
Dengan demikian, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah BRIN mampu membuat sepatu, melainkan: teknologi apa yang berhasil dikuasai, bahan baku apa yang dapat diproduksi di dalam negeri, ketergantungan apa yang dapat dikurangi, dan industri apa yang berpotensi tumbuh dari penguasaan teknologi tersebut?
Hal yang sama berlaku untuk banyak inovasi lain. Produk akhirnya mungkin sederhana, tetapi teknologi di baliknya belum tentu demikian.
Dari Laboratorium ke Dampak
Tujuan akhir riset seharusnya memang bukan sekadar menghasilkan benda pameran. Lebih jauh lagi, riset perlu menjawab persoalan nyata: meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya, memperbaiki kualitas produk, menyelesaikan persoalan lingkungan, memperkuat industri, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks inilah hilirisasi menjadi krusial. Suatu teknologi dapat dikatakan berdampak ketika hasil penelitian tidak berhenti sebagai laporan atau artikel ilmiah, melainkan mulai digunakan oleh masyarakat, pemerintah, maupun industri. Sebagian teknologi BRIN saat ini telah dilisensikan dan diproduksi oleh industri dalam negeri. Ketika proses itu terjadi, penelitian mulai berhubungan langsung dengan investasi, lapangan kerja, rantai pasok, dan aktivitas ekonomi.
Jurnal ilmiah tentu tetap penting. Publikasi merupakan bagian dari proses validasi pengetahuan dan menjadi fondasi perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, untuk penelitian terapan, publikasi bukan satu-satunya titik akhir. Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi teknologi yang dapat digunakan.
Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam hal ini. Data World Bank yang bersumber dari UNESCO menunjukkan pengeluaran penelitian dan pengembangan Indonesia tercatat sekitar 0,28 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2020. Sebagai perbandingan, Vietnam telah mencapai sekitar 0,41 persen pada 2023.
Dengan investasi riset yang masih relatif terbatas, tuntutan agar penelitian menghasilkan manfaat nyata tentu semakin relevan. Namun, tuntutan tersebut juga perlu dibarengi dengan investasi yang memadai serta ekosistem yang memungkinkan teknologi berkembang dari laboratorium hingga industri.
BRIN dan Peneliti Juga Perlu Bercermin
Di sisi lain, para peneliti dan BRIN juga perlu melihat fenomena ini sebagai bahan evaluasi. Jika publik lebih mudah mengingat sepatu karet daripada teknologi material yang berada di belakangnya, persoalannya mungkin bukan semata-mata terletak pada publik.
Komunikasi sains kita belum selalu mampu menjelaskan sebuah inovasi dengan bahasa sederhana: masalah apa yang ingin diselesaikan, apa kebaruannya, siapa yang membutuhkan teknologi tersebut, berapa nilai ekonominya, dan apa dampaknya apabila diterapkan secara luas.
Peneliti sering terbiasa berbicara menggunakan istilah teknis. Di laboratorium, hal tersebut tidak menjadi persoalan. Namun, ketika berhadapan dengan publik, teknologi harus diterjemahkan menjadi manfaat yang nyata.
Kami para peneliti juga tidak cukup hanya mengatakan bahwa suatu teknologi "inovatif" atau "canggih". Publik berhak mengetahui bukti manfaatnya: apakah teknologi tersebut lebih murah, lebih cepat, lebih akurat, mengurangi impor, memanfaatkan bahan lokal, menghemat energi, mengurangi limbah, atau membuka peluang industri baru? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang justru perlu terus diajukan.
Kritik yang Membantu Riset Bertumbuh
Pertemuan para peneliti BRIN dengan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran kabinet pada Kamis sore, 6 Agustus 2026 tersebut memberikan satu pesan penting: sains dan teknologi perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari pembangunan ekonomi dan kemandirian bangsa.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menekankan pentingnya penguasaan teknologi. BRIN sendiri mulai lebih kuat mendorong hilirisasi, peningkatan produktivitas UMKM, penguatan industri nasional, serta co-development teknologi strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, genomik, teknologi kuantum, nuklir, dan kedirgantaraan.
Tentu BRIN tidak dapat mengerjakannya sendiri. Dibutuhkan pendanaan dari pemerintah dan swasta, industri yang berani mengambil risiko untuk mengadopsi teknologi, perguruan tinggi, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta masyarakat sebagai pengguna akhir.
Kritik publik juga merupakan bagian penting dari ekosistem tersebut. Publik tidak harus mengagumi setiap hasil penelitian BRIN. Bahkan, kritik diperlukan karena sebagian besar kegiatan penelitian menggunakan sumber daya publik. Namun, kritik yang sehat sebaiknya membawa kita berdiskusi lebih jauh daripada sekadar menertawakan bentuk produk yang terlihat di meja pameran.
Kita perlu bertanya: teknologi apa yang dikuasai? Masalah apa yang diselesaikan? Ketergantungan apa yang dapat dikurangi? Industri apa yang bisa tumbuh? Dan siapa yang akhirnya memperoleh manfaat?
Sepatu tetaplah sepatu. Genteng tetaplah genteng. Keripik tetaplah keripik. Namun, di balik sebuah produk yang tampak sederhana dapat tersimpan teknologi material, rekayasa manufaktur, pemanfaatan limbah, varietas unggul, rantai pasok, serta pengetahuan yang dibangun melalui penelitian bertahun-tahun. Pada titik itulah seharusnya sebuah riset mulai dinilai.
Adnan. Peneliti Ahli Madya bidang Teknologi Pascapanen dan Spektroskopi di Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan, Organisasi Riset Energi dan Manufaktur, BRIN.
(rdp/rdp)









































