Laporan mengenai tindakan perusakan manuskrip langka dan buku kuno demi melatih model kecerdasan buatan (AI) menandai babak baru yang sangat mengkhawatirkan dalam sejarah panjang hubungan manusia dengan teknologinya. Di balik narasi megah tentang lompatan kemajuan kecerdasan artifisial, tengah berlangsung proses kanibalisme kebudayaan dan epistemisida yang terstruktur dan sistematis.
Demi mengejar volume data mentah berkecepatan tinggi, jilid-jilid kulit berusia ratusan tahun dibongkar secara paksa, punggung buku dipotong tanpa belas kasih, dan lembaran-lembaran kertas bersejarah dipisahkan hingga hancur agar dapat dimasukkan ke dalam mesin pemindai otomatis. Tindakan ini merupakan cermin nyata dari sikap reduksionisme radikal, ketika seluruh pengetahuan manusia diperas hingga melulu menjadi deretan teks digital, sementara tubuh fisik tempat pengetahuan itu bertunas ditumbalkan begitu saja tanpa penyesalan.
Akar dari krisis kebudayaan ini terletak pada kekeliruan ontologis industri teknologi dalam memandang esensi sebuah buku atau naskah kuno. Bagi pengembang model bahasa raksasa (Large Language Models), naskah kuno hanyalah wadah teks pasif, sekumpulan karakter (string) yang perlu diekstrak kata demi kata demi menambah volume token pelatihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, secara ontologis, manuskrip langka adalah sebuah artefak sejarah yang holistik, unik, dan multidimensional. Tekstur kertas buatan tangan, racikan bahan jilid, komposisi jenis tinta, hingga catatan pinggir (marginalia) yang ditinggalkan oleh para pembaca lintas zaman menyajikan bukti empiris yang tak ternilai mengenai teknologi kimia, ekonomi politik, serta dinamika pemikiran pada era pembuatannya.
Ketika korporasi teknologi menghancurkan bentuk fisik buku tersebut demi mempercepat proses ekstraksi data, mereka sebenarnya sedang memotong hubungan sejarah yang autentik antara masa lalu dan masa depan. Yang tersisa hanyalah bayangan digital berupa kode biner yang sangat rentan terhadap erosi format, kepunahan media penyimpanan, manipulasi algoritma, serta kontrol sepihak oleh para pemilik platform komersial.
Dari kacamata epistemologi, tindakan memisahkan teks dari materi fisiknya melalui proses mekanis yang merusak menciptakan ancaman serius berupa halusinasi sistemik dan hilangnya konteks autentik. Teks yang diisap oleh AI diekstrak secara steril tanpa menyertakan konteks fisik dan historis tempat teks itu melekat. Ketika benda fisiknya telah musnah, masyarakat ilmiah di masa depan tidak lagi memiliki kebenaran landasan fisik (ground truth) untuk memverifikasi ulang keaslian naskah tersebut. Pengetahuan manusia mendadak bergantung sepenuhnya pada versi digital yang tersimpan rapat di dalam kotak hitam (black box) milik korporasi teknologi.
Fenomena ini sejatinya berakar mendalam pada praktik kapitalisme ekstraktif modern dan fetisisme data yang kian menggejala. Sama seperti era Revolusi Industri yang mengeksploitasi sumber daya alam tanpa memikirkan pemulihan lingkungan, industri AI saat ini melakukan komodifikasi dan pemagaran (enclosure) terhadap warisan kebudayaan.
Manuskrip kuno yang sejatinya merupakan kepemilikan publik yang berharga dihancurkan demi dimasukkan ke dalam model algoritma komersial tertutup yang berbayar. Klaim bahwa pemindaian destruktif ini merupakan bentuk "demokratisasi informasi" adalah sebuah rasionalisasi yang sangat keliru dan menyesatkan. Peningkatan kecepatan ekstraksi beberapa minggu sama sekali tidak sebanding dengan kepunahan permanen artefak sejarah yang telah mampu bertahan melewati berbagai peradaban selama ratusan tahun.
Sungguh sebuah paradoks yang getir ketika AI yang dikembangkan dengan ambisi menirukan kecerdasan manusia justru menunjukkan tabiat barbar dengan memangsa dan menghancurkan akar sejarahnya sendiri. Ini adalah bentuk ketidaktahuan canggih (sophisticated barbarism), ketika efisiensi dan kecepatan mekanis disembah melebihi penghormatan terhadap memori dan jiwa peradaban. Perusakan ini tidak hanya merugikan disiplin akademis seperti kodikologi dan filologi, tetapi juga memisahkan generasi mendatang dari pengalaman indrawi yang mendalam saat berhadapan langsung dengan jejak fisik masa lalu.
Untuk menghentikan kanibalisme kebudayaan ini, komunitas akademis, para peneliti, dan lembaga kebudayaan internasional harus segera mengambil sikap tegas. Diperlukan moratorium internasional terhadap metode pemindaian yang merusak, disertai regulasi etika data yang ketat guna memastikan bahwa pengembangan teknologi tidak dibayar dengan pemusnahan warisan budaya.
Industri AI juga harus diwajibkan menginvestasikan sumber dayanya pada teknologi pemindaian robotik presisi tinggi yang bersifat nondestruktif. Teknologi seharusnya hadir untuk merawat dan memperpanjang umur memori kolektif manusia, bukan malah menjadi alat eliminasi fisik yang melegalkan pemusnahan. Jika manusia membiarkan peradabannya dibangun di atas puing-puing artefak yang dihancurkan oleh mesin buatannya sendiri, maka kemajuan teknologi yang kita banggakan hari ini sesungguhnya hanyalah bentuk kebodohan baru yang dikemas secara amat canggih.
Waode Nurmuhaemin. Doktor Manajemen Pendidikan, Kolumnis, Pengamat Kebijakan Publik dan Reasearch Fellow Kampus INTI INTERNASIONAL Kuala Lumpur.
(rdp/imk)









































