Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat lonjakan komentar spam berkonten judi online sebesar 128 persen dibandingkan rata-rata temuan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Modus operandi di baliknya juga bergeser.
Kini bukan lagi orang yang mengetik satu per satu, melainkan jaringan bot otomatis yang secara khusus membidik akun-akun dengan interaksi tinggi, mulai dari akun instansi pemerintah, media massa, hingga influencer. Data ini seharusnya menjadi alarm, bukan hanya bagi otoritas pemberantasan judi online, tetapi juga bagi cara kita memahami bagaimana media sosial bekerja dari dalam.
Selama ini, wacana publik tentang judi online berputar di dua kutub. Kutub pertama adalah klaim keberhasilan pemerintah. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mencatat, setelah terus meningkat sejak 2017 hingga menyentuh Rp359,81 triliun pada 2024, nilai perputaran dana judi online akhirnya turun 20 persen pada 2025 menjadi Rp286,84 triliun. Kutub kedua adalah narasi korban. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut hampir 200 ribu anak Indonesia telah terpapar judi online, dengan sekitar 80 ribu di antaranya berusia di bawah 10 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara dua kutub itu, ada satu mekanisme yang jarang dibahas secara terbuka. Algoritma media sosial, yang dirancang untuk memaksimalkan interaksi pengguna, justru menjadi kanal yang tanpa sengaja menguntungkan penyebaran promosi judi online.
Logika Engagement yang Netral tetapi Berisiko
Algoritma rekomendasi pada platform media sosial pada dasarnya punya satu tujuan utama, yaitu mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Salah satu sinyal yang paling umum dipakai untuk menilai kelayakan sebuah unggahan direkomendasikan lebih luas adalah jumlah interaksi yang diterimanya, termasuk jumlah komentar. Logika ini sebenarnya netral. Algoritma tidak membedakan apakah komentar itu berasal dari diskusi organik atau dari jaringan bot yang sengaja membanjiri kolom komentar dengan tautan menuju situs perjudian.
Bayangkan sebuah unggahan siaran ulang pertandingan sepak bola dibanjiri komentar dalam jumlah besar. Sistem algoritma akan membaca fenomena itu sebagai indikasi bahwa konten tersebut sedang diminati. Konten itu pun berpotensi didorong untuk muncul lebih luas di linimasa pengguna lain.
Di titik inilah spam judi online memperoleh keuntungan struktural yang tidak direncanakan oleh siapa pun, termasuk oleh perusahaan platform itu sendiri. Algoritma tidak berpihak secara sadar, tetapi hasil akhirnya tetap menguntungkan pihak yang menyebarkan konten ilegal. Di sinilah engagement menjadi sekutu tak sengaja.
Modus yang Adaptif dan Kesenjangan Kapasitas Regulator
Celah algoritma ini semakin sulit ditutup karena pelaku judi online terus mengasah cara mereka mengelabui sistem. Perusahaan Meta mengungkapkan bahwa jaringan judi online terus mengembangkan cara baru untuk menghindari sistem deteksi otomatis. Selain memakai kata-kata berkode untuk mengganti istilah baku seperti judi atau slot, pelaku juga memanfaatkan kolom komentar sebagai kanal untuk mengarahkan pengguna menuju situs perjudian. Cara ini secara teknis mengakali sistem moderasi konten yang masih banyak bergantung pada pencocokan kata kunci. Selama basis data kata terlarang tidak diperbarui secara dinamis, kata berkode semacam ini akan terus lolos.
Pola serupa juga tampak di sisi lain dari ekosistem judi online, yaitu pada aliran dananya. Otoritas keuangan mencatat transaksi kini bergeser ke pola yang lebih tersebar dan bernominal lebih kecil, sehingga lebih sulit dilacak. Ini menunjukkan kesamaan strategi antara pelaku penyebar konten dan pelaku pengelola dana, yaitu sama-sama menyesuaikan diri agar tetap lolos dari sistem deteksi yang ada, baik deteksi berbasis kata kunci di media sosial maupun deteksi berbasis pola transaksi di sektor keuangan.
Adaptasi yang serba cepat inilah yang kemudian membuka kesenjangan kapasitas antara regulator dan sistem otomatis. Di satu sisi, pendekatan regulasi masih bersifat manual dan reaktif, seperti menghapus konten satu per satu atau memblokir rekening setelah laporan masuk. Di sisi lain, sistem penyebaran spam sudah beroperasi pada skala otomatisasi penuh. Bot dapat memproduksi ribuan komentar dalam hitungan menit, sekaligus memanfaatkan celah algoritma yang sebenarnya dirancang untuk tujuan yang sama sekali berbeda.
Kondisi ini menuntut perluasan kerangka tanggung jawab, bukan hanya pada penegak hukum dan otoritas keuangan, tetapi juga pada penyelenggara platform digital.
Tanggung jawab ini bukan berarti menuduh platform sengaja memfasilitasi judi online, melainkan mendorong transparansi dan akuntabilitas atas cara kerja sistem rekomendasi, khususnya pada momen dengan lonjakan traffic tinggi yang sesungguhnya dapat diprediksi sebelumnya, seperti penyelenggaraan turnamen olahraga besar.
Pergeseran Isu
Lonjakan spam sebesar 128 persen semestinya tidak dibaca semata sebagai angka statistik. Angka itu adalah indikator bahwa persoalan judi online di Indonesia telah bergeser, dari sekadar isu penegakan hukum dan literasi digital, menuju persoalan arsitektur teknologi itu sendiri. Selama sistem algoritma masih menilai keramaian interaksi sebagai ukuran tunggal kualitas konten, tanpa mempertimbangkan asal-usul interaksi tersebut, ruang digital akan terus menyediakan celah bagi pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan ilegal.
Algoritma tidak peduli apakah komentar itu lahir dari diskusi yang tulus atau dari bot judi online yang diprogram membanjiri kolom; sistem hanya peduli siapa yang paling ramai. Selama hal itu yang terus dihitung, judi online akan selalu punya sekutu yang bahkan tidak pernah sadar sedang membantunya.
Ade Novia Maulana. Dosen Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.










































