Perang terjadi di medan pertempuran, tetapi kemenangan dan kekalahan ditentukan di benak publik. Konfrontasi yang terjadi antara Iran dan AS menunjukkan bahwa keunggulan militer tidak secara otomatis berarti dominasi narasi.
Meskipun AS memiliki kemampuan militer yang luar biasa, Iran tampaknya berhasil mengungguli Washington dalam hal komunikasi strategis. Alasannya terletak pada prinsip yang sering diabaikan oleh para pembuat kebijakan, yaitu bahwa elemen terpenting dari komunikasi strategis bukanlah pesan, jangkauan media, atau kecanggihan teknologi, melainkan kredibilitas.
Narasi yang Rapi
Komunikasi strategis berhasil ketika kata-kata, gambar, simbol, dan tindakan saling memperkuat. Sepanjang konflik, Iran menunjukkan disiplin naratif yang cukup rapi. Kepemimpinan politik, komandan militer, diplomat, dan media pemerintah secara konsisten membingkai konflik melalui lensa kedaulatan, perlawanan, ketahanan, dan pertahanan nasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peluncuran rudal yang disertai dengan citra yang dirancang dengan cermat, pernyataan resmi, serta pesan diplomatik semuanya mengarah ke arah yang sama. Apakah seseorang setuju dengan narasi Teheran atau tidak, hal itu hampir tidak menjadi masalah. Pesannya tetap koheren; kata-kata sesuai dengan gambar, dan gambar sesuai dengan tindakan.
Salah satu contoh yang paling mencolok adalah misi simbolis Minab 168, pesawat diplomatik Iran yang terbang ke Islamabad pada April 2026 untuk pembicaraan perdamaian tidak langsung dengan AS.
Penamaan pesawat tersebut membawa makna simbolis, merujuk pada kematian anak-anak sekolah yang dilaporkan selama operasi militer AS-Israel. Gambar pesawat tersebut, yang beredar luas di platform media tradisional dan media sosial, menghasilkan efek emosional dan kognitif yang kuat.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Tim Nasional Iran di Piala Dunia 2026. Ketika pertama kali mendarat di Tijuana, Meksiko, Mehdi Taremi dkk. mengenakan jas hitam dengan pin emas bertuliskan 168 di bagian dada mereka.
Komunikasi strategis pada akhirnya adalah soal membentuk persepsi. Dalam kasus ini, simbolisme terbukti lebih berpengaruh daripada upaya untuk membantah atau menafsirkan kembali narasi tersebut. Begitu sebuah gambar beresonansi dengan audiens, sering kali gambar tersebut meninggalkan kesan yang lebih kuat daripada penolakan atau klarifikasi resmi.
Kelemahan Washington
Sebaliknya, Washington sering kali tampak terjebak dalam siklus pesan yang kontradiktif. Presiden AS Donald Trump sering kali beralih antara deklarasi keberhasilan yang luar biasa, ancaman eskalasi, dan janji terobosan diplomatik. Dalam beberapa kesempatan, narasi yang berbeda muncul dari pemerintahan yang sama hanya dalam hitungan jam. Komunikasi strategis membutuhkan sinkronisasi antarlembaga, namun AS justru memproyeksikan citra fragmentasi internal.
Berbagai lembaga tampaknya membenarkan tindakan militer melalui berbagai alasan, sementara retorika politik berfluktuasi antara pencegahan, hukuman, negosiasi, dan tekanan rezim. Hasilnya bukanlah ambiguitas strategis, melainkan kebingungan strategis.
Terlebih lagi, tidak ada yang menggambarkan masalah kredibilitas ini dengan lebih jelas selain Operasi Midnight Hammer. Ketika operasi diluncurkan pada Juni 2025, operasi tersebut dipresentasikan sebagai serangan menentukan yang secara efektif menetralkan infrastruktur nuklir Iran. Para pejabat Amerika menggambarkan operasi tersebut sebagai keberhasilan strategis yang besar, dengan beberapa narasi yang menunjukkan bahwa ambisi nuklir Iran telah dilumpuhkan, bahkan dihilangkan secara efektif.
Namun, kurang dari setahun kemudian, AS mendapati dirinya sekali lagi berkonfrontasi dengan Iran atas banyak masalah keamanan yang sama. Hal ini menciptakan dilema kredibilitas yang tak terhindarkan. Jika kemampuan Iran benar-benar telah dinetralkan, mengapa konfrontasi besar lainnya diperlukan hanya beberapa bulan kemudian? Jika tindakan militer lebih lanjut diperlukan, audiens berhak mempertanyakan klaim-klaim besar yang menyertai Operasi Midnight Hammer. Dalam komunikasi strategis, kredibilitas tidak dihancurkan oleh kegagalan, melainkan dihancurkan oleh kontradiksi.
AS juga kesulitan mendapatkan kepercayaan publik domestik sebelum memulai perang dengan Iran bersama Israel. Beberapa survei memperingatkan bahwa publik AS tidak puas dengan keputusan tersebut dan sering merujuk pada lobi Israel yang kuat di AS, yang telah meyakinkan pemerintahan Trump untuk mengambil keputusan yang tidak populer ini. Contohnya adalah jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang mengklaim bahwa 48% responden menilai AS terlalu mendukung Israel. Selain itu, 60% pemilih AS-termasuk 93% Demokrat dan 75% Republik-menyatakan bahwa pertarungan ini tidak "layak dilakukan".
Lebih jauh lagi, tantangan bagi Washington diperparah oleh krisis konsistensi narasi yang lebih luas. Selama beberapa dekade, AS telah menggambarkan dirinya sebagai pembela utama nilai-nilai liberal, hukum internasional, dan tatanan internasional berbasis aturan. Namun, kontroversi seputar kebijakan koersif terhadap pemerintah asing, perlakuan terhadap tokoh politik negara lain, dan tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan semakin memberi lawan kesempatan untuk menantang klaim-klaim ini.
Sama merugikannya adalah persepsi bahwa kebijakan Amerika menimbulkan gesekan tidak hanya dengan lawan, tetapi juga dengan mitra dan sekutu. Kritik Trump terhadap sekutu NATO dan perselisihan publik yang berulang-dengan menyebut mereka "pengecut"-mempersulit upaya Washington untuk menampilkan dirinya sebagai jangkar tatanan internasional yang stabil.
Komunikasi Strategis
Di sisi lain, Iran menyadari kerentanan ini dan memanfaatkannya secara efektif. Teheran memahami bahwa komunikasi strategis pada akhirnya lebih soal persepsi daripada persuasi. Mereka tidak perlu meyakinkan dunia bahwa mereka benar. Mereka hanya perlu meyakinkan khalayak bahwa AS tidak konsisten. Setiap pernyataan yang kontradiktif dari Washington, setiap perubahan tujuan yang dinyatakan, dan setiap perbedaan antara retorika dan tindakan memperkuat narasi Iran bahwa kebijakan Amerika kurang koheren dan kredibel.
Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para pembuat kebijakan di mana pun. Di era informasi, komunikasi strategis bukan lagi komponen pendukung operasi militer, melainkan ranah persaingan tersendiri. Negara dapat memiliki kekuatan militer yang tak tertandingi dan tetap kalah dalam pertempuran persepsi jika narasi mereka tidak konsisten. Audiens saat ini tidak hanya dibujuk oleh pernyataan resmi. Mereka membandingkan klaim dengan tindakan yang dapat diamati dan menilai kredibilitasnya berdasarkan hal tersebut.
Oleh karena itu, konflik baru-baru ini mengungkapkan realitas yang tidak nyaman bagi Washington. AS mungkin memiliki daya tembak yang lebih besar, sumber daya yang lebih melimpah, dan jangkauan global yang lebih luas, tetapi Iran menunjukkan pemahaman yang lebih jelas tentang aturan pertama komunikasi strategis: Kredibilitas adalah fondasi tempat semua narasi bertumpu.
Begitu kredibilitas mulai terkikis, bahkan pesan yang paling kuat pun kehilangan kekuatannya. Dalam perebutan persepsi, keunggulan terbesar Iran bukanlah rudal atau aparatur medianya, melainkan ketidakmampuan Washington untuk secara konsisten menyelaraskan kata-kata, gambar, simbol, dan tindakannya. Dalam peperangan modern, hal demikian mungkin merupakan kemenangan strategis yang paling penting.
Ahmad Munji. Pemerhati Timur Tengah, doktor alumnus Universitas Marmara, Istanbul, Turki.
Lihat Video 'AS Kerahkan Pesawat, Kapal hingga Drone untuk Serang Iran':
(rdp/imk)










































