Gugurnya sosok Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 tidak hanya menandai berakhirnya satu era politik di Republik Islam Iran, tetapi juga membuka babak baru dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.
Prosesi pemakaman yang berlangsung selama berhari-hari di Teheran, Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad telah berubah menjadi arena demonstrasi politik berskala global. Pada saat yang sama, eskalasi di Selat Hormuz melalui serangan rudal terhadap kapal-kapal komersial menunjukkan bahwa Iran sedang mengirimkan pesan strategis yang jauh lebih luas daripada soal ritual penghormatan kepada seorang pemimpin revolusi.
Pemakaman Khamenei berlangsung di tengah situasi yang sangat kompleks. Gencatan senjata Iran-Amerika Serikat masih rapuh, negosiasi diplomatik berjalan tanpa kemajuan berarti, sementara ancaman militer terus dipertontonkan oleh Washington dan Tel Aviv. Dalam konteks ini, prosesi pemakaman tidak hanya dimaknai sebagai ruang duka nasional, melainkan juga sebagai instrumen politik untuk menunjukkan legitimasi rezim, solidaritas ideologis, dan kapasitas mobilisasi massa Republik Islam Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa Iran ingin memastikan dunia memahami satu hal penting-meski kehilangan figur sentral seperti Khamenei, kemampuan negara dalam mengendalikan geopolitik kawasan tidak lantas runtuh. Bahkan, melalui kombinasi simbol keagamaan, kekuatan militer, dan mobilisasi publik, Iran justru sedang membangun narasi baru mengenai kesinambungan revolusi pasca-Khamenei.
Misalnya, pernyataan dari pejabat tinggi Iran mengenai rencana penerapan tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz memperoleh makna politik yang jauh lebih besar ketimbang sekadar kebijakan ekonomi maritim. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari bahasa kekuasaan Iran kepada dunia, menunjukkan bahwa Teheran masih memiliki kapasitas menentukan arsitektur keamanan dan ekonomi kawasan Teluk Persia.
Bahkan, ketika Iran menyatakan akan memberikan "perlakuan khusus" kepada negara-negara sahabat, pesan yang muncul bukan hanya diplomasi ekonomi, melainkan juga pembentukan blok solidaritas baru di tengah perubahan geopolitik global.
Pemakaman Khamenei akhirnya menjadi momentum yang memperlihatkan tiga hal sekaligus: konsolidasi internal Republik Islam, diplomasi simbolik terhadap dunia Islam dan Global South, serta strategi baru Iran dalam memanfaatkan geopolitik energi sebagai instrumen negosiasi internasional.
Pemakaman Sebagai Demonstrasi Legitimasi Politik
Dalam sejarah politik modern Timur Tengah, pemakaman tokoh besar sering kali menjadi arena perebutan legitimasi. Pemakaman Gamal Abdel Nasser di Mesir pada 1970, Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989, hingga Qassem Soleimani pada 2020 menunjukkan bahwa kematian seorang pemimpin tidak pernah sepenuhnya bersifat personal, melainkan berubah menjadi momen mobilisasi massa, ritual ideologis, dan pertunjukan solidaritas nasional.
Begitu juga dalam sejarah Republik Islam Iran, ketika Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, jutaan orang turun ke jalan untuk menunjukkan loyalitas terhadap Revolusi Islam. Pemerintah Iran tampaknya berusaha mereplikasi momentum tersebut melalui pemakaman Khamenei.
Dalam memobilisasi jutaan pelayat di Teheran, pemerintah secara aktif menyediakan transportasi, makanan, penginapan, bahkan meliburkan aktivitas pemerintahan agar masyarakat dapat menghadiri prosesi pemakaman. Langkah ini menunjukkan bahwa rezim memahami pentingnya visual politik di tengah perang informasi global. Gambar lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan Teheran menjadi pesan simbolik kepada dunia internasional bahwa Republik Islam belum kehilangan basis sosialnya.
Imam salat Jumat di Qom, Ayatollah Mohammad Saidi, menyebut prosesi ini sebagai "referendum" bagi Republik Islam. Pernyataan tersebut sangat penting karena menegaskan bahwa kehadiran massa diposisikan sebagai ukuran legitimasi politik negara. Dalam situasi saat Iran menghadapi tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional dan ketidakpuasan domestik yang meningkat, negara membutuhkan simbol persatuan nasional yang dapat mengurangi persepsi mengenai keretakan internal.
Bagi pemerintah Iran, pemakaman Khamenei juga menjadi momentum untuk mengubah narasi dari "krisis rezim" menjadi "ketahanan revolusi". Serangan udara AS-Israel yang menewaskan Khamenei memang merupakan pukulan simbolik besar. Namun, melalui prosesi pemakaman berskala monumental, Iran berusaha memperlihatkan bahwa kematian seorang pemimpin tidak berarti kehancuran sistem.
Dalam tradisi politik revolusioner Iran, konsep syahid atau martir memiliki posisi sentral. Revolusi Iran 1979 tumbuh dari narasi pengorbanan Imam Husain di Karbala yang melawan tirani. Khamenei diposisikan bukan sekadar sebagai pemimpin negara, melainkan sebagai syahid Revolusi Islam. Karena itu, pemakamannya dibangun dalam narasi pengorbanan suci melawan agresi Barat dan Zionisme.
Penggunaan bendera merah, slogan anti-Amerika, serta seruan pembalasan dendam memperlihatkan bagaimana negara mengubah ruang duka menjadi ruang mobilisasi ideologis. Politik martir ini memiliki fungsi domestik sekaligus regional. Di dalam negeri, narasi ini memperkuat loyalitas terhadap negara dan IRGC sebagai pelindung Revolusi. Sementara itu, di tingkat kawasan, strategi ini mengonsolidasikan jaringan pro-Iran seperti Hizbullah, kelompok-kelompok Syiah Irak, hingga simpatisan Syiah di Pakistan dan Afghanistan.
Di tengah tekanan ekonomi, inflasi, sanksi internasional, dan gelombang protes yang sempat mengguncang Iran sebelum perang, rezim membutuhkan simbol persatuan nasional. Kematian Khamenei akibat serangan gabungan AS-Israel memberi peluang bagi negara untuk membingkai konflik sebagai ancaman terhadap martabat nasional Iran. Dengan demikian, pemerintah dapat memobilisasi sentimen patriotisme dan syahidisme Syiah secara bersamaan.
Simbol-simbol dalam prosesi pemakaman memperlihatkan hal itu dengan jelas. Bendera merah sebagai simbol balas dendam Syiah, poster anti-Amerika dan anti-Israel, hingga slogan kematian bagi Donald Trump dan Benjamin Netanyahu menunjukkan bahwa pemakaman ini memproduksi energi politik kolektif. Negara berusaha mengubah kematian Khamenei menjadi "memori revolusioner" baru bagi generasi Iran pascaperang.
Karena itu, pemakaman Khamenei tidak hanya digelar di Iran, melainkan juga diperluas hingga Najaf dan Karbala di Irak. Hal ini merupakan langkah simbolik untuk menegaskan bahwa kepemimpinan spiritual Iran melampaui batas negara-bangsa. Republik Islam ingin menunjukkan bahwa pengaruhnya tetap hidup di jantung dunia Syiah meskipun menghadapi tekanan militer besar dari AS dan Israel.
Dalam geopolitik Timur Tengah, simbol seperti ini sangat penting. Iran memahami bahwa kekuatan mereka tidak hanya berasal dari militer atau ekonomi, melainkan juga dari kemampuan membangun identitas transnasional berbasis ideologi dan agama. Dengan kata lain, pemakaman Khamenei menjadi bentuk soft power revolusioner yang memperkuat posisi Iran di tengah ketidakpastian kawasan.
Selat Hormuz dan Politik Demonstrasi Kekuatan
Jika pemakaman menjadi panggung legitimasi domestik, Selat Hormuz adalah panggung pesan geopolitik Iran kepada dunia internasional. Serangan terhadap kapal komersial di sekitar Selat Hormuz menunjukkan bahwa Iran ingin mengaitkan stabilitas energi global dengan keamanan nasionalnya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia dan sebagian besar pengiriman LNG global. Dengan kata lain, stabilitas ekonomi internasional sangat bergantung pada keamanan kawasan ini. Karena itu, setiap ketegangan di Hormuz segera memengaruhi harga energi, pasar keuangan, dan kalkulasi geopolitik negara-negara besar.
Iran memahami posisi strategis tersebut. Ancaman Garda Revolusi Iran kepada kapal-kapal komersial melalui radio maritim bukan sekadar intimidasi militer, melainkan bentuk diplomasi koersif. Pesannya menunjukkan bahwa tanpa pengakuan terhadap kepentingan Iran, keamanan pelayaran internasional tidak akan sepenuhnya terjamin.
Pernyataan Duta Besar Iran untuk China, Abdolreza Rahmani Fazli, mengenai rencana pengenaan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menunjukkan perubahan paradigma penting. Iran tidak lagi hanya menggunakan Hormuz sebagai alat tekanan militer, melainkan juga sebagai instrumen ekonomi-politik. Dengan dalih keamanan pelayaran dan pengawasan lingkungan, Iran sedang mencoba membangun legitimasi baru atas kontrol strategisnya terhadap jalur perdagangan global.
Pernyataan Fazli bahwa negara-negara sahabat akan mendapat perlakuan khusus memperlihatkan bahwa Iran sedang membangun logika baru hubungan internasional berbasis loyalitas geopolitik. Negara-negara yang mendukung Iran selama perang akan memperoleh keuntungan ekonomi dan keamanan. Sebaliknya, negara yang dianggap bermusuhan dapat menghadapi biaya lebih tinggi atau pengawasan lebih ketat.
Dunia internasional saat ini bergerak menuju multipolaritas, sebuah kondisi ketika dominasi tunggal Barat semakin dipertanyakan. Dalam situasi seperti ini, Iran berusaha membangun jaringan solidaritas dengan negara-negara yang dianggap tidak tunduk pada hegemoni AS. Kehadiran delegasi dari Pakistan, India, China, Afghanistan, hingga negara-negara Kaukasus dalam pemakaman Khamenei menunjukkan bahwa Iran masih memiliki ruang diplomatik yang luas. China khususnya menjadi mitra penting karena memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas jalur energi Timur Tengah.
Hubungan Iran-China kini tidak hanya bersifat ekonomi, melainkan juga strategis. Ketika Iran berbicara mengenai pengaturan baru Selat Hormuz bersama Oman, pesan yang muncul adalah bahwa keamanan kawasan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Barat. Iran ingin membangun arsitektur keamanan regional alternatif yang melibatkan kekuatan Asia.
Dalam konteks ini, pemakaman Khamenei juga dapat dibaca sebagai konsolidasi simbolik blok Global South. Banyak negara berkembang melihat Iran sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat, meskipun mereka tidak selalu setuju dengan seluruh kebijakan Teheran. Karena itu, dukungan terhadap Iran sering kali lahir bukan karena kesamaan ideologi, melainkan karena resistensi terhadap ketimpangan tatanan global.
Dalam perspektif geopolitik, langkah ini mencerminkan transformasi Iran dari sekadar negara Islam revolusioner menjadi negara keamanan regional. Republik Islam berupaya mengonsolidasikan posisi sebagai aktor yang mampu menentukan arsitektur keamanan Teluk Persia.
Dalam perspektif hubungan internasional, langkah ini mencerminkan praktik geo-economic statecraft, yakni penggunaan instrumen ekonomi dan logistik sebagai alat diplomasi strategis. Iran memahami bahwa kekuatan militer mereka mungkin mengalami tekanan akibat perang, tetapi posisi geografis tetap menjadi aset yang sulit digantikan.
Serangan terhadap kapal tanker juga mengirimkan pesan kepada Amerika Serikat bahwa Iran masih memiliki kapasitas asimetris meskipun mengalami kerusakan besar akibat perang. Ketika Donald Trump mengancam akan "menyelesaikan tugasnya", Iran merespons dengan demonstrasi kekuatan terbatas, tetapi sangat simbolik.
Strategi ini penting karena memungkinkan Iran menunjukkan kemampuan militernya tanpa harus memicu perang terbuka skala penuh. Dengan demikian, Selat Hormuz menjadi bargaining chip utama Iran dalam negosiasi dengan AS dan dunia internasional. Iran ingin menunjukkan bahwa stabilitas energi global tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan dan pengakuan terhadap kepentingan Teheran.
Pesan kepada Amerika Serikat dan Israel
Pemakaman Khamenei pada dasarnya juga merupakan pesan langsung kepada Amerika Serikat dan Israel. Ketika Menteri Pertahanan Israel menyatakan bahwa Khamenei "dilenyapkan oleh Israel", Iran merespons dengan mobilisasi massa dalam skala besar dan retorika balas dendam. Dalam politik Timur Tengah, simbol sering kali sama pentingnya dengan kekuatan militer.
Jutaan pelayat yang meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel menjadi bentuk komunikasi strategis bahwa perang belum sepenuhnya berakhir secara psikologis maupun ideologis. Pemerintah Iran ingin menunjukkan bahwa pembunuhan Pemimpin Tertinggi tidak menghasilkan kehancuran moral bangsa. Sebaliknya, kematian Khamenei justru dikonstruksi sebagai sumber legitimasi baru untuk melanjutkan perlawanan terhadap Barat.
Pernyataan Trump mengenai "air mata palsu" menunjukkan bahwa Washington sendiri tampak terkejut dengan besarnya mobilisasi massa di Iran. Selama ini, sebagian analis Barat meyakini bahwa Republik Islam kehilangan dukungan sosial akibat tekanan ekonomi dan represi politik. Namun, pemakaman Khamenei memperlihatkan bahwa identitas revolusioner Iran masih memiliki daya mobilisasi yang kuat, terutama ketika negara menghadapi ancaman eksternal.
Di sisi lain, Iran juga memahami bahwa perang total melawan AS dan Israel akan sangat berisiko. Karena itu, strategi yang digunakan lebih bersifat "demonstrasi terkendali". Iran mempertontonkan kekuatan militer di Hormuz, mengintensifkan retorika perlawanan, tetapi tetap membuka ruang negosiasi diplomatik.
Pendekatan ini memperlihatkan karakter khas politik luar negeri Iran: menggabungkan resistensi ideologis dengan pragmatisme strategis. Iran ingin menjaga citra sebagai kekuatan revolusioner anti-Barat, sekaligus menghindari keruntuhan ekonomi akibat konflik berkepanjangan.
Transformasi Republik Islam Pasca-Khamenei
Kematian Khamenei kemungkinan besar akan menjadi titik transformasi besar dalam sejarah Republik Islam Iran. Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei bukan hanya Pemimpin Tertinggi, melainkan juga simbol stabilitas sistem politik Iran. Kehilangannya menciptakan ruang ketidakpastian mengenai arah masa depan negara.
Namun, respons Iran sejauh ini menunjukkan upaya serius untuk mencegah munculnya kesan kekosongan kekuasaan. Pemakaman monumental, mobilisasi nasional, serta demonstrasi kekuatan di Selat Hormuz adalah bagian dari strategi konsolidasi pasca-suksesi.
Iran tampaknya sedang bergerak menuju model "negara keamanan revolusioner", yaitu negara yang menggabungkan ideologi revolusi dengan dominasi aparat keamanan dan militer. Dalam model ini, Garda Revolusi Iran memiliki posisi yang semakin sentral, bukan hanya dalam hal pertahanan, melainkan juga ekonomi dan politik luar negeri.
Selat Hormuz menjadi simbol penting transformasi tersebut. Jika sebelumnya Iran menggunakan retorika revolusi sebagai basis legitimasi utama, kini kontrol terhadap jalur perdagangan energi global menjadi instrumen baru kekuatan negara. Dengan kata lain, Iran tidak hanya ingin dikenal sebagai pusat Revolusi Islam, melainkan juga sebagai penentu keamanan energi dunia.
Pemakaman Khamenei memperlihatkan bahwa Republik Islam sedang berusaha mengubah tragedi menjadi momentum konsolidasi. Melalui perpaduan simbol keagamaan, nasionalisme, dan demonstrasi militer, Iran ingin mengirim pesan bahwa revolusi tidak berhenti bersama wafatnya seorang pemimpin.
Dengan demikian, dunia kini menyaksikan lebih dari sekadar prosesi pemakaman. Yang terjadi di Iran adalah pertarungan besar mengenai legitimasi, suksesi kekuasaan, dan masa depan tatanan geopolitik Timur Tengah.
Selat Hormuz yang memanas dan lautan manusia di Teheran sesungguhnya merupakan dua sisi dari pesan politik yang sama: Iran ingin menunjukkan bahwa mereka masih berdiri, masih melawan, dan masih memiliki kemampuan untuk memengaruhi arah politik global.
Aji Cahyono. Dosen Luar Biasa minat kajian Pancasila & Kewarganegaraan, Studi Islam Kawasan, Politik Luar Negeri Indonesia dan Isu Geopolitik Timur Tengah; Lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Founder Indonesian Coexistence.
Simak Video 'Iran Ancam Serangan Balasan Seusai AS Gempur Selat Hormuz Lagi':
(rdp/imk)










































