Piala Dunia menjadi ajang bergengsi empat tahunan yang serentak dirayakan dan seolah menjadi "Lebaran Sepak Bola". Miliaran pasang mata dari setiap benua, bahasa, lapisan masyarakat, dan generasi, tertuju serempak pada satu turnamen.
Ini adalah sebuah ritual kolektif umat manusia dalam skala yang sangat masif. Namun di balik gemuruh sorak-sorai dan gemerlap kembang api itu, tersembunyi satu bayang-bayang yang jarang direnungkan dengan serius: warisan yang ditinggalkan Piala Dunia bagi planet ini, jauh setelah confetti terakhir jatuh ke rumput dan lampu sorot raksasa stadion perlahan dipadamkan satu demi satu.
Pertanyaan ini membawa kita kembali pada satu dokumen penting dalam sejarah pemikiran lingkungan global: Our Common Future yang disusun oleh World Commission on Environment and Development (1987), atau yang populer disebut Brundtland Report.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan itu memperkenalkan gagasan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Prinsip keadilan antargenerasi inilah yang seharusnya menjadi tolok ukur setiap kegiatan manusia berskala masif, termasuk pesta olahraga terbesar di dunia.
Sekarang kita telusuri jejak karbon di balik sorak-sorai Piala Dunia. Data yang tersedia menunjukkan pola yang konsisten: semakin besar skala Piala Dunia, semakin besar pula bebannya terhadap atmosfer. Piala Dunia Qatar 2022 diklaim FIFA sebagai turnamen "sepenuhnya netral karbon" pertama dalam sejarah.
Namun menurut investigasi Carbon Market Watch (2026) dan laporan Scientific American (2024), perhitungan resmi FIFA sendiri menaksir emisi turnamen itu mencapai 3,8 juta ton CO2 (lebih besar dari total emisi tahunan Islandia). Angka itu bahkan dinilai jauh di bawah kenyataan, dengan porsi terbesar (lebih dari separuh) berasal dari transportasi penonton dan ofisial.
Klaim netral karbon itu berujung pada pukulan telak bagi kredibilitas FIFA. Seperti diberitakan The Guardian (2023), regulator periklanan Swiss pada 2023 memutuskan bahwa klaim tersebut menyesatkan. FIFA dinilai tidak mampu membuktikan bahwa skema carbon offset yang digunakan bersifat nyata, tambahan (additional), dan benar-benar mampu menetralkan seluruh jejak turnamen.
Carbon Market Watch (2026) menyebut ini sebagai preseden regulasi pertama yang menjatuhkan sanksi terhadap badan olahraga dunia atas praktik yang oleh banyak pihak disebut sebagai greenwashing-yakni pencitraan lingkungan yang melebih-lebihkan pencapaian sambil menutupi dampak yang sesungguhnya.
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang tengah berlangsung saat tulisan ini dibuat, diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan melibatkan 48 tim dan lebih dari seratus pertandingan. Analisis Kara Anderson (2026) yang dipublikasikan oleh Greenly, sebuah lembaga akuntansi karbon independen, memperkirakan jejak karbonnya mencapai 7,8 juta ton CO2.
Angka ini lebih dari dua kali lipat total resmi Qatar 2022. Sementara itu, laporan Time (2026) mengutip kajian gabungan Scientists for Global Responsibility dan Environmental Defense Fund yang menaksirnya hingga 9 juta ton. Bahkan menurut Carbon Market Watch (2026), bila seluruh rantai nilai turnamen dihitung-termasuk pertandingan kualifikasi, siaran televisi, hingga merchandise-angkanya disebut bisa menembus 70 juta ton CO2.
Yang menarik untuk dicermati secara analitis adalah bahwa infrastruktur bukan lagi kontributor utama emisi. Karena sebagian besar stadion di Amerika Utara sudah berdiri sebelum turnamen, porsi emisi dari konstruksi turun drastis dibanding Qatar yang harus membangun tujuh stadion baru dari nol.
Sebaliknya, menurut Kara Anderson (2026), perjalanan penonton serta penerbangan lintas benua antarkota tuan rumah yang berjarak ribuan kilometer kini menyumbang hampir 88 persen dari total jejak karbon turnamen. Ini mengungkap pergeseran struktural bahwa skala geografis penyelenggaraan kini menjadi determinan utama dampak lingkungan mega-event, bukan lagi semata kemegahan arsitektur.
Temuan ini sejalan dengan literatur akademik yang lebih luas. Tinjauan sistematis Cerezo-Esteve dan kolega (2022) di jurnal Sustainability (MDPI) yang menelaah studi dampak lingkungan event olahraga besar periode 2000-2021, serta kajian Pourpakdel Fekr & Oboudi (2022) di Athens Journal of Sports, sama-sama menyimpulkan hal senada. Hingga kini belum ada konsensus ilmiah yang jelas mengenai apakah dampak neto mega-event terhadap lingkungan bersifat positif, negatif, atau tidak meyakinkan.
Namun, tren keprihatinan akademik terus meningkat seiring pembesaran skala acara. Kajian di jurnal Frontiers in Environmental Science oleh Huang & Lin (2025) bahkan menunjukkan bahwa fase persiapan pra-turnamen-mulai dari konstruksi, perluasan layanan, hingga logistik jangka panjang-sering meninggalkan jejak karbon yang lebih persisten dibanding hari pelaksanaan itu sendiri.
Huang dan Lin (2025) juga secara khusus mengungkap bahwa persiapan Olimpiade Musim Dingin Beijing menyumbang sekitar 118 juta ton emisi karbon tambahan selama periode 2015-2022, jauh melampaui emisi hari penyelenggaraan itu sendiri. Temuan ini sangat relevan bila dibandingkan dengan pola pergeseran emisi Piala Dunia dari sektor konstruksi (kasus Qatar) ke sektor mobilitas penonton (kasus Amerika Utara).
FIFA memang telah mengumumkan komitmen korporat untuk memangkas emisi sebesar 50 persen pada 2030 dan mencapai net-zero pada 2040, sejalan dengan UN Sports for Climate Action Framework yang dideklarasikan di COP26 (2021). Tetapi menurut evaluasi Carbon Market Watch (2026), komitmen ini hanya melekat pada FIFA sebagai organisasi, bukan pada penyelenggaraan turnamen itu sendiri. Dari belasan inisiatif konkret yang pernah dijanjikan, hanya sebagian kecil yang benar-benar terealisasi.
Di sinilah kerangka Our Common Future menjadi relevan secara analitis. Dokumen tersebut menekankan tiga pilar yang harus berjalan beriringan: pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. Piala Dunia unggul luar biasa pada dua pilar pertama.
Ajang ini menggerakkan miliaran dolar aktivitas ekonomi dan menyatukan manusia lintas bangsa dalam solidaritas emosional yang jarang tertandingi peristiwa lain. Namun pada pilar ketiga, rekam jejaknya justru menunjukkan tren yang berlawanan arah dengan tujuan keberlanjutan. Skala turnamen terus membesar, jarak tempuh penonton terus memanjang, dan janji netralitas karbon terbukti secara hukum tidak berdasar.
Ironi terbesarnya, gagasan keadilan antargenerasi dalam Our Common Future justru paling relevan bagi sepak bola itu sendiri. Sepak bola adalah olahraga yang paling dicintai anak-anak di seluruh dunia, dari kampung nelayan di Afrika hingga desa-desa pelosok di Indonesia Timur. Merekalah generasi yang akan mewarisi dunia dengan cuaca ekstrem, krisis air, dan gangguan iklim-yang sebagian di antaranya turut disumbang oleh perayaan yang mereka gemari sejak kecil.
Secara analitis, ada tiga langkah yang lebih realistis dibanding sekadar mengulang klaim "netral karbon" yang berulang kali gagal diverifikasi:
FIFA perlu mempublikasikan data emisi yang dapat diaudit pihak ketiga secara independen. Bukan angka yang disusun sendiri dan baru terbantahkan setelah ada investigasi dari lembaga pemantau eksternal.
Karena hampir 90 persen emisi turnamen besar berasal dari perjalanan, strategi paling berdampak bukanlah menanam pohon sebagai offset simbolis. Pengelolaan yang lebih realistis adalah memberikan insentif transportasi publik dan kereta api, serta membatasi ekspansi jumlah tim dan kota tuan rumah di masa depan.
Pengakuan Jujur atas Batas Kemampuan Mitigasi
Seperti disampaikan oleh pakar lingkungan Prof. Jonathan Casper yang dikutip dalam laporan College of Natural Resources, North Carolina State University (2026), sebuah turnamen sebesar ini tidak akan pernah benar-benar berdampak nol terhadap lingkungan. Hal yang bisa dilakukan penyelenggara adalah menekan sekuat mungkin dampak yang berada dalam kendalinya, mempermudah pilihan yang lebih ramah lingkungan bagi penonton, dan melaporkan secara jujur apa yang berhasil maupun yang gagal, alih-alih membungkus kegagalan dengan jargon pemasaran hijau.
Sebagai penutup, Our Common Future mengajarkan bahwa pembangunan sejati tidak pernah bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap masa depan bersama. Piala Dunia, sebagai salah satu ritual budaya terbesar umat manusia, punya kekuatan simbolik luar biasa untuk menjadi teladan transisi menuju penyelenggaraan acara besar yang lebih bertanggung jawab. Namun, kekuatan simbolik itu baru bermakna jika diikuti oleh data yang jujur dan tindakan yang terukur, bukan sekadar narasi kemenangan di atas kertas sponsor.
Sepak bola, pada akhirnya, adalah permainan tentang harapan bahwa dengan kerja sama, hal-hal besar bisa dicapai bersama. Prinsip yang sama itulah yang sesungguhnya dibutuhkan bumi hari ini. Bukan sekadar sorak-sorai empat tahunan, melainkan komitmen kolektif dan berkelanjutan, sebagaimana pesan inti Our Common Future yang ditulis hampir empat dekade lalu: bahwa masa depan adalah milik bersama, dan hanya bisa dijaga jika dikerjakan bersama pula.
Aldi Agus Setiawan. Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan dan Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia.
Simak juga Video Scaloni: Piala Dunia Kali Ini Berat Bagi Semua Tim











































