Penggunaan teknologi secara buruk-termasuk yang berbasis artificial intelligence (AI) seperti yang terkuak dalam International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Denmark pada 17-21 Mei 2026-bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia. Sebelumnya, pada 2023, Brian Buntz melalui tulisan "Data Integrity Scandals in Biomedical Research: Here's a Timeline" telah mengemukakan berbagai peristiwa serupa.
Tulisannya didahului oleh pengungkapan data yang menggemparkan berupa tingginya proporsi makalah palsu maupun hasil plagiarisme di bidang ilmu saraf dan kedokteran. Pada tahun 2020, angkanya bahkan mencapai 34% untuk ilmu saraf dan 24% untuk ilmu kedokteran.
Data di atas mengemuka berdasarkan identifikasi makalah palsu yang detektornya dikembangkan oleh ahli neuropsikologi Jerman, Bernhard Sabel. Persentase yang dikemukakan Sabel tersebut meningkat pesat dibanding satu dekade sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan studi tahun 2009, PLOS One melaporkan bahwa 2% ilmuwan mengakui telah memalsukan, mengubah, atau memodifikasi data maupun hasil penelitian. Hal ini setidaknya dilakukan satu kali dalam karier mereka sebagai peneliti. Temuan itu tentu mengkhawatirkan, sebab skandal integritas data dalam penelitian medis bisa berdampak sangat berbahaya ketika diterapkan secara nyata.
Bahaya di Balik Janji Kecepatan
Sebelum menutup tulisannya, Buntz menyoroti peran AI dalam berbagai skandal tersebut. Penggunaannya meningkat pesat dalam berbagai penelitian lantaran tawaran kecepatannya. Perangkat berbasis AI memang mampu mempercepat kerja penelitian, namun ada bahaya besar di balik janji kecepatan itu: tercemarnya integritas data serta kelemahan sistem yang belum terpecahkan.
Termasuk ketika AI "dipaksa" menghasilkan data berdasarkan pola-pola pembelajaran mesin (machine learning). Data yang diperoleh tanpa pengumpulan metodis ini merupakan pelanggaran berat terhadap integritas data. Akibatnya, penelitian bisa menjadi tidak berguna dan hasilnya tidak dapat diandalkan. Penggunaan AI dalam skandal yang terungkap ini justru menghancurkan kualitas penelitian itu sendiri.
Selain bidang penelitian, bidang-bidang lain juga diakselerasi lewat penggunaan teknologi. Secara struktural, perkembangan teknologi hari ini memediasi tuntutan kecepatan, yang pada gilirannya menjadikan kecepatan sebagai cara manusia berpikir, merasakan, dan bertindak. Ideologinya sederhana: cepat atau ditinggalkan. Di satu sisi, kecepatan dirayakan sebagai pencapaian efisiensi, tetapi di sisi lain, ia melahirkan keresahan.
Ketika Pendidikan dan Biologi Kehilangan Proses
Perayaan efisiensi itu misalnya terlihat dalam upaya memastikan keberhasilan investasi. Investasi menghendaki pertumbuhan, alih-alih kegagalan. Lalu, muncul tawaran instrumen yang dapat memastikan pencapaiannya dengan mengandalkan analisis berbasis big data maupun teknologi berbasis AI.
Demikian pula dengan kegiatan pendidikan yang prosesnya memerlukan ketekunan dan kesabaran. Seluruh proses tersebut bertujuan membangun kebiasaan berpikir sebagai habituasi yang tumbuh dari mental. Namun, bagi calon peserta didik, kini muncul tawaran pendidikan yang menjamin hasil. Kegagalan setidaknya dapat dicegah sejak dini jika terindikasi akan terjadi. Prosesnya didahului oleh analisis minat dan bakat yang disusun berdasarkan algoritma.
Data peserta dikumpulkan dan dipetakan, bahkan pelaksanaan pembelajarannya disusun berdasarkan kecenderungan penyerapan informasi pesertanya. Jika ada fleksibilitas proses-yang tidak terikat ruang dan waktu-itu hanyalah bonus. Pendidikan yang sejatinya memutlakkan kesabaran dalam membentuk kebiasaan, kini mulai dicampurtangani oleh teknologi.
Tak ketinggalan pada bidang yang mengandalkan proses alamiah biologis, seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, dan peternakan. Saat ini, sebagian prosesnya berlangsung dengan mengandalkan temuan di bidang bioteknologi. Akibatnya, beberapa proses biologis yang dianggap tidak signifikan akhirnya direduksi. Pelaksanaannya juga dapat dilakukan di luar ruang dan waktu konvensional.
Oleh karena itu, untuk apa menyelenggarakan perikanan dan peternakan jika bioteknologi mampu menghasilkan daging ikan maupun domba sintetis di laboratorium? Demikian pula, mengapa harus menumbuhkan padi di sawah-yang berisiko gagal akibat serangan hama maupun perubahan cuaca-jika seluruh prosesnya dapat dilakukan di laboratorium? Inilah yang disebut sebagai pertanian seluler (cellular agriculture) oleh canada.ca (2026).
Konsep di atas merupakan teknologi baru dalam produksi pangan yang bersumber dari hewan, seperti daging, makanan laut, telur, dan produk susu. Prosesnya menggunakan jaringan sel sebagai pengganti hewan hidup, sehingga hasilnya disebut "makanan yang ditumbuhkan di laboratorium", "makanan berbasis sel", "makanan hasil kultur sel", atau "makanan hasil budidaya sel".
Sementara itu, teknologi yang terlibat meliputi biologi molekuler, biologi sintetik, serta kultur jaringan yang merupakan inovasi di bidang penyediaan pangan. Penerapannya jelas menghemat kebutuhan lahan dan waktu yang panjang. Hal ini memenuhi kebutuhan populasi manusia yang terus bertambah, di tengah ruang dan waktu yang kian terbatas.
Kepunahan Narasi Kesabaran
Dengan penggunaan teknologi yang berideologi kecepatan, muncul perembesan pengaruh pada cara berpikir, merasa, maupun bertindak manusia. Harapan yang tumbuh pada investasi, ketekunan dalam menjalani pendidikan, serta kesediaan menanti tumbuhnya produk pertanian adalah narasi tentang kesabaran. Hari ini, seluruhnya terancam punah, tergerus oleh ketidaksabaran yang dihabituasi oleh penggunaan teknologi, termasuk yang berbasis AI.
Penggunaan teknologi yang selalu menyajikan hasil cepat ini mengikis proses-proses yang mengonsumsi waktu. Peradaban menyebut keadaan ini sebagai proses instan. Tampaknya, kesabaran telah menjadi musuh besar bagi proses instan tersebut.
Ilustrasi kepunahan narasi kesabaran salah satunya dapat dilacak lewat fenomena keterhubungan. Keterhubungan yang semula harus berlangsung dengan keterlibatan di ruang dan waktu analog, kini tidak lagi menjadi syarat. Ekosistem komputasi dan internet memfasilitasi keterhubungan yang tanpa batas. The space of flows dan timeless time-yang dikemukakan Manuel Castells pada 1996-memungkinkan keterhubungan kapan saja dan dari mana saja. Ruang tidak lagi menyatu dengan waktu karena dijembatani oleh aliran internet. Dalam waktu yang sama, seseorang bisa berada di beberapa ruang secara simultan untuk melangsungkan keterhubungan dan menyelesaikan banyak hal.
Sensasi kecepatan menjadi nyata ketika kualitas penyelesaian simultan tersebut tidak berbeda dengan hasil di ruang dan waktu analog. Budaya baru yang terbentuk-yang disebut real virtuality-mendorong manusia tidak perlu lagi membuang waktu untuk menanti dan mengalami keadaan analog dari aktivitasnya. Budaya baru ini menerima yang maya sebagai realitas, bahkan lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Dengan ketersediaan waktu yang sama dalam kondisi analog, lebih banyak hal yang dapat terselesaikan. Kecepatannya dialami sebagai sensasi yang menakjubkan.
Logika Waktu Pendek (Short-Termism)
Sensasi menakjubkan di atas mengalami penggandaan signifikan ketika sistem berbasis AI digunakan. Sistem ini tidak hanya menghasilkan pemecahan masalah berbasis keterhubungan, melainkan juga formulasi komputasional dan statistik dari big data yang tersedia. Dalam durasi yang sama dengan praktik budaya real virtuality, masalah yang diselesaikan jauh lebih banyak. Perangkat turunannya menghasilkan analisis, model penjelasan maupun peramalan, rekomendasi tindakan, hingga artefak berbasis teks, suara, gambar, maupun gabungannya.
Sejarah panjang penggunaan otot tubuh hewan dan manusia, kecerdasan pikiran, ketajaman perasaan, serta kerja sama komunitas mulai kehilangan relevansinya. Dengan AI, semuanya cepat terselesaikan, dibarengi dengan tidak adanya toleransi terhadap kelambatan-walaupun kelambatan itu merupakan proses yang alamiah. Inilah yang meresahkan.
Pengaruh sistem yang disebut modern oleh Richard Sennett-termasuk teknologi dan AI hari ini-terhadap cara berpikir, merasakan, dan bertindak manusia telah dikemukakannya dalam buku "The Corrosion of Character: The Personal Consequences of Work in the New Capitalism" yang ditulis pada tahun 1998. Sistem kapitalisme baru yang sangat kental dengan penggunaan teknologi ini memaksa individu berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, serta dari satu interaksi ke interaksi lain.
Tujuannya adalah agar para pekerja dapat fleksibel dan bertahan di lingkungan yang mudah berubah. Dalam konteks media sosial maupun kapitalisme jangka pendek, fenomena ini mendorong terbentuknya logika baru: short-termism atau logika waktu pendek. Wujudnya berupa paksaan untuk meninggalkan narasi jangka panjang-termasuk kesabaran-serta hubungan yang stabil.
Soal hubungan stabil yang terpaksa ditinggalkan demi fleksibilitas ini dibahas Sennett dalam bukunya yang ditulis pada tahun 1977, "The Fall of Public Man". Ia menyebutkan bahwa masyarakat kini lebih memfokuskan diri pada pengungkapan diri dan perasaan pribadi dengan menggunakan ruang publik sebagai panggung ekspresi. Akibatnya, ruang publik tidak lagi berfungsi untuk berinteraksi dan membangun kerja sama dengan orang asing.
Pandangan tersebut menjadi sangat relevan hari ini ketika kita membicarakan media sosial. Sebagai ruang publik, platform ini lebih sering digunakan untuk memamerkan kehidupan individual. Akibatnya, ruang bersama dan interaksi yang menciptakan hubungan stabil tidak tercapai. Keterhubungan yang sejatinya mempersyaratkan kesabaran dan investasi waktu akhirnya luntur oleh kapitalisme yang sarat teknologi.
Seluruh kondisi ini diperburuk oleh intensifnya penggunaan AI karena mengikuti logika jejaring: menginklusi orang lain jika cepat memberikan hasil, dan mengeksklusinya jika hasilnya lambat. Tidak heran jika narasi kesabaran pada berbagai hal kini menjadi sesuatu yang langka. Orientasi sepenuhnya ditujukan pada kecepatan hasil, yang mendorong kepunahan narasi kesabaran. Bukankah yang memang terasa sekarang, masyarakat kita kini kian tidak sabaran?
Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Pendiri LITEROS.org
Lihat juga Video: Ramadan sebagai Momentum Rekonsiliasi Sosial di Era AI











































