Piala Dunia: Panggung Diplomasi Pangan Global
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Piala Dunia: Panggung Diplomasi Pangan Global

Kamis, 02 Jul 2026 10:49 WIB
Boimin
Pemerhati Kebijakan Pangan, Menyelesaikan S3 Ilmu Pangan di University of Massachusetts Amherst.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Peserta membagikan makanan yang diolah dari bahan pangan lokal kepada warga saat Festival Pangan dan Cipta Menu Bergizi di Desa Sumerta Kelod, Denpasar, Bali, Kamis (14/8/2025). Festival yang digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 K
Foto: Ilustrasi pangan lokal (ANTARA FOTO/NYOMAN HENDRA WIBOWO)
Jakarta -

Ketika membicarakan Piala Dunia, perhatian publik hampir selalu tertuju pada pertandingan, strategi pelatih, atau persaingan para bintang sepak bola. Namun dibalik riuhnya sorak-sorai penonton, sebenarnya ada panggung lain yang bekerja tanpa sorotan dan tidak banyak disadari. Yaitu, diplomasi pangan.

Piala Dunia 2026 bukan sekedar kompetisi olahraga terbesar di dunia, tetapi juga salah satu ajang diplomasi pangan terbesar yang pernah ada.

Piala Dunia 2026-yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko-menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Turnamen empat tahunan ini, untuk pertama kalinya, diikuti 48 negara dan akan menyelenggarakan 104 pertandingan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Allianz Trade (2026), Piala Dunia 2026 diperkirakan akan menarik sekitar 6,5 juta penonton; dimana sekitar 2,6 juta penontonnya adalah wisatawan internasional. Itu menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai salah satu pergerakan manusia terbesar di dunia, yang dipicu oleh sebuah ajang olahraga.

Piala Dunia sebagai Pasar Pangan Global

Bisa dibayangkan besarnya kebutuhan pangan, yang diakibatkan oleh mobilitas manusia selama perhelatan Piala Dunia. Jika setiap wisatawan rata-rata menghabiskan enam hari; membeli tiga sampai lima makanan atau minuman setiap hari; maka selama turnamen, terjadi lebih dari 100 juta transaksi pangan.

Dengan asumsi pengeluaran pangan sekitar USD 70 per orang per hari; maka nilai konsumsi pangan (makanan dan minuman) selama Piala Dunia 2026, mencapai USD 1 miliar atau sekitar Rp 17, 9 triliun.

Angka di atas menunjukkan bahwa Piala Dunia merupakan pasar pangan global sementara terbesar di dunia; meskipun turnamen itu hanya berlangsung selama satu bulanan. Ribuan restoran, pedagang kaki lima, pasar tradisional, industri pengolahan pangan, petani, nelayan, hingga perusahaan logistik, menjadi bagian dari rantai pasok yang melayani jutaan tamu internasional.

Setiap hidangan yang disajikan, bukan sekadar memenuhi rasa lapar namun juga membawa cerita tersendiri-tentang identitas, budaya, dan kualitas suatu bangsa.

Pangan sebagai Instrumen Diplomasi

Selama ini diplomasi lebih sering dipahami sebagai perundingan antarnegara atau jamuan makan kenegaraan. Padahal jutaan interaksi sederhana antara wisatawan dan pangan lokal selama piala dunia memiliki kekuatan diplomatik yang tidak kalah besar.

Seorang suporter Piala Dunia, misalnya, sedang menikmati taco di Meksiko, lobster di Kanada, atau barbeku di Amerika Serikat; ia tidak hanya sedang membeli makanan; ia sedang mengenal tradisi dan budaya pangan, serta membangun persepsi terhadap negara yang dikunjunginya tersebut.

Pengalaman kuliner sering kali lebih membekas dan tahan lama, dibandingkan dengan hasil pertandingan bola yang disaksikan. Para wisatawan bola akan pulang dan membawa kenangan tentang cinta, keramahan, dan kelezatan atau keunikan kuliner tuan rumah Piala Dunia.

Tidak sedikit wisatawan bola yang kemudian mencari produk pangan yang sama atau serupa di negara asalnya, atau bahkan mereka kembali berkunjung karena pengalaman tak terlupakan itu. Dengan kata lain, pengalaman kuliner mampu mendorong wisata ulang, memperkuat citra negara, sekaligus membuka peluang ekspor pangan.

Karena itu, Piala Dunia bisa menjadi instrumen diplomasi pangan massal-yang berbeda dengan diplomasi konvensional. Diplomasi konvensional biasanya hanya melibatkan segelintir pejabat dalam acara-acara formal; sementara diplomasi pangan Piala Dunia dapat berlangsung jutaan kali melalui meja makan, restoran, pasar, hingga kawasan pendukung pertandingan. Setiap hidangan menjadi "duta" yang memperkenalkan sebuah negara kepada dunia.

Pelajaran bagi Indonesia

Banyak pelajaran dan perspektif yang bisa diambil Indonesia dari penyelenggaraan Piala Dunia. Terlebih, jika di masa mendatang Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Keberhasilan tuan rumah Piala Dunia tidak hanya diukur dari kemegahan stadion, kelancaran transportasi, atau jumlah wisatawan. Namun keberhasilan itu juga diukur dari keramahan dan kemampuan tuan rumah (Indonesia) menyediakan pangan-yang lezat, aman, dan berkualitas kepada masyarakat internasional. Termasuk di dalamnya, mempromosikan kuliner khas Nusantara.

Kekayaan kuliner Nusantara-seperti: rendang, rawon, kopi, kakao, rempah-rempah, buah tropis, hingga pangan fermentasi seperti tempe-merupakan modal besar bagi Indonesia untuk melakukan diplomasi pangan dan membangun citra positif Indonesia di mata internasional.

Diplomasi pangan tidak boleh berhenti pada promosi kuliner saja. Diplomasi pangan harus dapat memberdayakan petani, nelayan, UMKM, industri pangan dan industri pariwisata lokal; agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara lebih luas.

Kesimpulannya, sepak bola memang mampu menyatukan jutaan orang di stadion; tetapi pangan juga dapat menciptakan pengalaman tidak terlupakan untuk mereka bawa pulang. Sehingga, Piala Dunia seharusnya tidak hanya dipandang sebagai pesta olahraga namun juga sebagai panggung diplomasi pangan dunia. Dimana setiap hidangan pangan selama Piala Dunia, menjadi representasi sebuah bangsa; dan setiap meja makan menjadi ruang perjumpaan dunia.

Boimin. Pemerhati Kebijakan Pangan, Menyelesaikan S3 Ilmu Pangan di University of Massachusetts Amherst, Reseach Fellow PKSPL IPB Divisi Bioteknologi Kelautan-Pangan, Pengurus Perhimpunan Alumni Amerika Serikat Bidang Pendidikan dan Pengembangan Profesional (2026-2031).

Tonton juga video "Tundukkan Bosnia 2-0, AS Melaju ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026"

(rdp/imk)


Berita Terkait