Teach You A Lesson sebagai Cermin untuk Berbenah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Teach You A Lesson sebagai Cermin untuk Berbenah

Jumat, 26 Jun 2026 13:18 WIB
Sri Lestari Yuniarti
Widyaprada Ahli Muda Ditjen GTK Kemdikdasmen, PP APPAUDI.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Teach You a Lesson (2026).
Foto: Teach You a Lesson (2026) (Dok. Netflix)
Jakarta -

Drama Korea (drakor) 'Teach You A Lesson' viral. Bak juru bicara yang aspiratif, drama 10 episode itu seolah menyuarakan dengan gamblang semua permasalahan dan uneg-uneg di persekolahan. Kolusi sekolah dengan orang tua murid, perundungan dibiarkan terjadi hingga bereskalasi menjadi pemicu bunuh diri. Di sisi lain, orang tua menuntut anak berlebihan untuk berprestasi.

Bahkan, merongrong guru untuk menganak emaskan anaknya sendiri. Praktik lama yang terus berulang, namun mengupgrade sesuai dinamika zaman. Contohnya, sekolah menjadi lahan segar bisnis haram narkoba. Untuk mengurai carut marut persoalan itu, Kementerian Pendidikan Korea Selatan membentuk Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP). Sekolah-sekolah yang bermasalah serius itu, ditangani BPHP hingga tuntas.

Biro akan selesai bertugas di sekolah tertentu ketika murid telah kembali bersekolah dengan perasaan aman, guru mengajar dengan nyaman, dan orang tua sadar pada peran sejatinya. Kebajikan dan petuah para pemeran utamanya trending sebagai quotes.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sambil membandingkan dengan sistem persekolahan saat ini di Indonesia, tidak sedikit netizen yang memaki problem yang berserakan. Pertanyaan reflektifnya, apakah mungkin kita bisa membenahinya? Dari sekian banyak permasalahan, dari mana kita bisa mulai mengurai dan membenahinya?

Manajemen Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran

Sekolah merupakan mikrosistem pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan ini, kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran. Melalui peran tersebut, ia dapat mulai mengurai dan membenahi carut-marut masalah persekolahan. Selayaknya pemimpin, maka dialah yang pertama menerjemahkan visi sekolah menjadi misi yang selalu berpihak pada murid, menjawab kebutuhan belajar murid.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

Hal ini tekait dengan misi sekolah, founding father pendidikan nasional kita, Ki Hajar Dewantara menukil kearifan lokal yang dimiliki Indonesia, yakni sistem among.

"... bahwa kita bangsa Indonesia juga memiliki sejenis metode Montessori dan metode Froebel yaitu metode kodrat iradat (natur dan evolusi). Bisa juga dinamakan metode Kaki Among Nini Among, yaitu metode Among Siswa" (Wasita, 1928 dalam Arifin, 2023).

Sistem among adalah suatu sistem pembelajaran yang mengedepankan pembentukan manusia secara utuh. Suatu metode yang tidak menghendaki 'perintah-paksaan', melainkan memberi 'tuntunan' bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya.

Tidak saja di sekolah, hendaknya "among" juga terjadi di rumah. Keselarasan sekolah-rumah serta masyarakat inilah yang disebut Ki Hajar sebagai tri sentra pendidikan, yang bertanggung jawab dalam penumbuhan karakter dan pendidikan anak. Dalam 6 model pelibatan keluarga yang ditawarkan Eipstein (2009), parenting and kolaborasi dengan masyarakat menjadi pilihan strategi bagi terwujudnya harmoni pendidikan.

Salah satu kalimat yang trending dari Na Hwa Jin di drakor itu nampaknya relevan dengan pendidikan yang harmonis, "Jadilah guru selayaknya guru, jadilah dewasa selayaknya orang dewasa. Orang dewasa adalah pelindung anak anak".

Apakah Bisa Pendekatan Pembelajaran Mendalam Menjadi Solusi?

Pendekatan Pembelajaran Mendalam (deep learning) yang digaungkan sejak 2024 oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mengejawantahkan visi dan misi pendidikan sebagai wahana memuliakan manusia.

Pembelajaran Mendalam, bertumpu pada tiga prinsip utama: mindful (berkesadaran penuh), meaningful (kebermaknaan), dan joyful (kegembiraan). Ketiganya terdengar sederhana, bahkan mungkin klise bagi sebagian orang. Namun jika direnungkan, ketiga prinsip ini sebenarnya menyerang akar masalah pendidikan kita selama ini: pembelajaran yang kurang disertai kesadaran, makna dan kegembiraan.

Efektivitas belajar bukan terkait seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa dalam materi itu meresap dan mengubah cara berpikir murid. Inilah perbedaan mendasar antara mengajar dan menyadarkan murid serta membentuk pemahaman.

Prinsip mindful didesain guru untuk mengajak murid hadir secara utuh dalam proses belajar. Ini bertentangan dengan kebiasaan lama di mana murid duduk pasif, mencatat, lalu menghafal tanpa benar-benar memproses apa yang mereka pelajari. Ketika kesadaran penuh hadir, murid tidak lagi bertanya "apa yang harus saya hafal untuk ujian?" melainkan "apa yang sebenarnya sedang saya pahami?"

Tanpa kesadaran, metode pembelajaran secanggih apa pun, hanya akan menjadi kemasan baru dari kebiasaan lama: belajar demi nilai, bukan demi paham.

Di banyak negara maju, agar murid dapat lebih fokus dan berkesadaran dalam belajarnya, dilakukan dengan olah raga sebelum memulai aktivitas pembelajaran hari itu. Bekal makanan yang bergizi seimbang juga memengaruhi konsentrasi dan daya belajar murid. Sementara di dalam kelas, ketika pembelajaran akan dan tengah dilangsungkan, pertanyaan-pertanyaan pemantik serta dukungan bagi murid sangat penting untuk menjaga kesadaran dan pemahaman belajarnya.

Ingat petuah Jung Seon Yeong di salah satu episodenya? "Seorang guru wajib membimbing para murid ke arah yang benar", nampaknya petuah tersebut pas dengan prinsip mindful ini, yakni benar dalam belajar.

Prinsip kedua, meaningful (kebermaknaan), menjawab pertanyaan yang sering dilontarkan murid namun jarang dijawab tuntas oleh guru: "Untuk apa saya belajar materi ini?" Pembelajaran yang bermakna adalah belajar yang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata, konteks sosial, dan persoalan yang relevan dengan kehidupan murid.

Ketika murid memahami relevansi suatu konsep, misalnya bagaimana matematika hadir dalam pengelolaan keuangan pribadi, atau bagaimana sejarah membentuk cara kita memandang konflik sosial hari ini, maka pembelajaran berubah dari kewajiban menjadi kebutuhan. Pengetahuan yang bermakna jauh lebih sulit dilupakan dibanding pengetahuan yang dihafal tanpa konteks, sebab otak manusia secara alami menyimpan informasi yang terhubung dengan emosi dan pengalaman, bukan sekadar fakta yang berdiri sendiri.

Di episode menghadapi murid-murid yang terus cari "gara-gara" untuk tawuran, motivasi belajarnya sangat rendah, Na Hwa Jin mengingatkan guru agar mengajarkan materi dan keterampilan yang sungguh terkait dengan hidup murid. Maka mempraktikkan materi yang diajarkan bisa jadi opsi yang baik agar kebermaknaan belajar terwujud.

Prinsip ketiga, belajar yang menggembirakan (joyful) sering disalahpahami sebagai sekadar "belajar sambil bermain". Padahal kegembiraan dalam belajar lebih dari itu. Kegembiraan berkaitan dengan rasa aman secara psikologis, kebebasan untuk mencoba dan gagal, serta semangat ingin tahu yang tidak dipadamkan oleh rasa takut akan kesalahan.

Rasanya tepat nasihat Na Hwa Jin dalam konteks penerapan prinsip belajar yang menggembirakan, "Kesempatan itu bukan diberikan, tetapi akan datang jika kau menginginkannya". Karena dengan semangat ingin tahu dan terus belajar, maka sesungguhnya murid sedang membangun kesempatan belajarnya.

Mengapa Ketiganya Harus Berjalan Bersama?

Kekuatan sesungguhnya dari pendekatan ini terletak pada interaksi ketiganya. Guru yang menerapkannya tidak sekadar mengubah metode mengajar, tetapi mengubah relasi dengan murid, dari pemberi informasi menjadi fasilitator pemahaman yang hadir penuh, peka konteks, dan menghargai proses.

Kembali pada kepala sekolah, dialah dirigen yang mengorkestrasi agar guru-guru dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, serta selalu berpihak dan berpusat pada murid.

Dalam menjalankan pendekatan pembelajaran ini, sekali lagi, tentu sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Tri sentra pendidikan (Kemendikdasmen menambahkan menjadi empat sentra dengan media sosial) harus bergerak bersama mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah melatih pendekatan pembelajaran mendalam bagi kepala sekolah, guru/pendidik, pengawas dan penilik sekolah serta sejak awal tahun 2025. Sebanyak 145249 guru dan 57739 tenaga kependidikan yang telah dilatih ini, diharapkan dapat merawat ekosistem pendidikan di wilayahnya masing-masing, untuk terus belajar, berbagi dan saling menguatkan penerapan pembelajaran mendalam.

Dengan skema tersebut, harusnya, pendekatan pembelajaran mendalam bisa menjadi alternatif solusi dari persoalan-persoalan di persekolahan. Tentu tidak cepat, tapi satu persatu namun konsisten dan kontinyu.

Jika ekosistem ini tumbuh subur, maka ibarat di Teach You A Lesson, BPHP berkemas, kembali ke kantornya dan menyatakan tugasnya telah selesai.

Semoga sebagai cermin, Teach You A Lesson bisa membisikkan pesan pada siapapun insan pendidikan untuk mau berbenah, memoles diri, agar lebih gagah, cantik sebagaimana menjadi tujuan pendidikan nasional: mewujudkan potensi dirinya menjadi manusia yang cerdas dan berkarakter baik, menjadi generasi emas di 2045.

Sri Lestari Yuniarti. Widyaprada Ahli Muda Ditjen GTK Kemdikdasmen, PP APPAUDI.

Lihat juga Video 'Film Koo Kyo Hwan-Moon Ga Young Gulingkan 'Avatar' di Korsel':

(rdp/imk)


Berita Terkait