Lima Abad Jakarta Jadi Momentum Ubah Cara Memandang Kota
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Lima Abad Jakarta Jadi Momentum Ubah Cara Memandang Kota

Senin, 22 Jun 2026 16:55 WIB
Assoc.Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS
Peneliti Klinik Digital dan Folks Strategic
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Selamat Datang Monument (Selamat Datang is Indonesian for Welcome), also known as the Monumen Bundaran HI or Monumen Bunderan HI ( for Hotel Indonesia roundabout). Jakarta, Indonesia.
Foto ilustrasi Kota Jakarta: (Getty Images/Faris Fitrianto)
Jakarta -

Jakarta akan segera memasuki usia 500 tahun. Lima abad.

Tidak banyak kota di dunia yang memiliki perjalanan sejarah sepanjang itu sekaligus masih menjadi pusat politik, ekonomi, budaya, dan kini transformasi digital sebuah negara.

Namun justru di usia yang istimewa ini, saya ingin mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menentukan masa depan Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah kita sedang membangun kota? Atau sedang membangun manusia?

Karena sejarah membuktikan, sebuah kota bisa dipenuhi gedung pencakar langit, jalan tol bertingkat, jaringan internet tercepat, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), tetapi pada saat yang sama justru kehilangan sesuatu yang paling mendasar yaitu rasa saling percaya, rasa memiliki, dan harapan.

Paradoks inilah yang sedang dihadapi hampir semua kota besar di dunia, tidak terkecuali Jakarta.

Kota Modern Sedang Mengalami Krisis yang Tidak Terlihat

Selama puluhan tahun kita terbiasa mengukur keberhasilan kota melalui angka. Berapa kilometer jalan dibangun. Berapa investasi masuk. Berapa persen pertumbuhan ekonomi. Berapa banyak gedung bertingkat berdiri.

Semua itu memang penting. Tetapi penelitian internasional menunjukkan bahwa indikator-indikator tersebut tidak lagi cukup menjelaskan kualitas hidup masyarakat.

Semakin modern sebuah kota, belum tentu semakin bahagia penduduknya.

Penelitian lintas lebih dari 70 negara menggunakan World Values Survey menemukan pola yang konsisten yaitu penduduk kota-kota besar sering kali tidak lebih bahagia dibanding mereka yang tinggal di kota kecil atau wilayah pedesaan. Bahkan muncul fenomena yang disebut urban happiness paradox, ketika kemajuan ekonomi tidak otomatis diikuti oleh peningkatan kesejahteraan psikologis.

Mengapa? Karena manusia tidak hanya membutuhkan pendapatan. Manusia juga membutuhkan hubungan, kepercayaan, makna, hingga komunitas.

Ancaman Jakarta Bukan Hanya Banjir

Jika saya diminta menyebut ancaman terbesar Jakarta lima puluh tahun mendatang, jawaban saya mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, bukan banjir, kemacetan, bahkan bukan soal perubahan iklim. Melainkan krisis keterhubungan manusia.

WHO telah menempatkan kesepian (loneliness) sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat global. Ironisnya, fenomena ini justru paling banyak muncul di kota-kota besar.

Orang tinggal berdampingan dalam apartemen yang sama, naik MRT yang sama, bekerja di gedung yang sama, tetapi sayangnya tidak saling mengenal.

Media sosial memperlihatkan ribuan teman. Namun ketika seseorang mengalami krisis, belum tentu ada satu orang yang benar-benar datang mengetuk pintunya. Kota yang padat belum tentu menghadirkan kedekatan.

Jakarta Sedang Memasuki Era Baru

Lima ratus tahun pertama Jakarta dibentuk oleh pelabuhan, perdagangan, kolonialisme, kemerdekaan, industrialisasi, dan urbanisasi. Lima ratus tahun berikutnya akan dibentuk oleh sesuatu yang sama sekali berbeda.

Artificial Intelligence. Fenomena kecepatan teknologi yang pertama kalinya dalam sejarah manusia, dimana sebuah kota harus belajar hidup berdampingan dengan algoritma.

AI akan membantu memprediksi banjir, mengatur lalu lintas, mengelola layanan kesehatan, menyusun kebijakan berbasis data. Tetapi AI juga membawa risiko baru yaitu disinformasi, polarisasi, bias algoritma, kesenjangan digital.

Karena itu, cita-cita Jakarta tidak boleh berhenti pada Smart City. Semua kota besar ingin menjadi Smart City, maka yang akan membedakan Jakarta adalah kemampuannya menjadi Wise City

Kota yang menggunakan teknologi untuk memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya.

Jangan hanya bangun Jalan, Bangun Kepercayaan

Robert Putnam, salah satu ilmuwan sosial paling berpengaruh di dunia, memperkenalkan konsep social capital. Kesimpulannya sederhana tetapi sangat kuat. Negara dan kota yang memiliki tingkat kepercayaan sosial tinggi cenderung lebih aman, lebih sehat, lebih produktif, bahkan lebih sejahtera.

Artinya, modal terbesar sebuah kota bukan hanya APBD. Bukan investasi, bukan juga gedung, tetapi kepercayaan antarwarganya.

Jalan raya menghubungkan tempat, namun Kepercayaanlah yang menghubungkan manusia. Sehingga kota tanpa kepercayaan, akan selalu membayar biaya sosial yang jauh lebih mahal.

Perubahan Iklim Adalah Krisis Keadilan

Jakarta memang berbicara tentang banjir, rob, penurunan muka tanah, dan kenaikan permukaan laut. Namun sesungguhnya perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan. Perubahan iklim adalah persoalan keadilan.

Berbagai kajian mengenai Jakarta menunjukkan bahwa masyarakat kampung dan kelompok berpenghasilan rendah sering kali menjadi pihak yang paling terdampak oleh banjir, penurunan tanah, dan kebijakan relokasi. Ironisnya, mereka bukanlah kelompok yang paling banyak berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.

Pada saat yang sama, komunitas-komunitas tersebut justru memperlihatkan solidaritas dan kemampuan beradaptasi yang luar biasa ketika menghadapi krisis.

Karena itu, ukuran kota yang berhasil bukan hanya berapa cepat banjir surut. Tetapi juga seberapa adil kota melindungi mereka yang paling rentan.

Belajar dari Kota-Kota Terbaik Dunia

Kota-kota yang hari ini menjadi rujukan dunia ternyata memiliki satu kesamaan. Mereka tidak lagi hanya membangun infrastruktur. Mereka membangun kehidupan.

Di kota seperti Kopenhagen, ruang publik dirancang agar orang lebih banyak berjalan kaki, bersepeda, dan berinteraksi.

Di Paris berkembang konsep 15-Minute City, yaitu kota di mana kebutuhan dasar warga dapat dijangkau dalam waktu lima belas menit.

Di Singapura, ruang hijau bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan bagian dari strategi kesehatan masyarakat.

Di Seoul, pemerintah membuka kembali Sungai Cheonggyecheon yang sebelumnya tertutup jalan layang. Dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih baik, tetapi juga meningkatnya aktivitas ekonomi, kualitas udara, dan interaksi sosial.

Pelajaran besarnya sederhana. Kota terbaik di dunia tidak hanya memikirkan kendaraan. Mereka memikirkan manusia.

Jakarta Memerlukan Ukuran Keberhasilan Baru

Sudah saatnya Jakarta memiliki indikator yang lebih berani daripada sekadar pertumbuhan ekonomi. *Saya membayangkan adanya Jakarta Flourishing Index*

Indikator yang mengukur bukan hanya PDRB atau investasi, tetapi juga:

* tingkat kepercayaan sosial;
* kesehatan mental warga;
* rasa aman perempuan dan anak;
* kualitas ruang hijau;
* partisipasi masyarakat;
* literasi digital;
* rasa memiliki terhadap kota;
* peluang generasi muda;
* kesiapan menghadapi AI;
* dan optimisme terhadap masa depan.

Karena apa yang kita ukur akan menentukan apa yang kita prioritaskan.

Kota yang Layak Huni Belum Tentu Layak Dicintai

Selama ini kita sering menggunakan istilah livable city. Kota layak huni. Saya ingin mengusulkan satu langkah lebih jauh. Jakarta harus menjadi kota yang layak dicintai.

Kota yang membuat anak muda memilih tetap berkarya. Kota yang membuat lansia merasa dihargai. Kota yang membuat perempuan merasa aman. Kota yang membuat penyandang disabilitas merasa setara. Kota yang membuat masyarakat tidak sekadar tinggal.

Tetapi merasa memiliki. Karena manusia akan menjaga sesuatu yang dicintainya. Bukan sesuatu yang sekadar ditempati.

Jakarta 500 Tahun Adalah Titik Awal

Lima Abad Jakarta Jadi Momentum Ubah Cara Memandang Kota sebagai Kehidupan

Perayaan lima abad Jakarta seharusnya tidak berhenti pada pesta kembang api, festival budaya, atau seremoni kenegaraan.

Momentum ini harus menjadi kesempatan untuk mengubah cara kita memandang kota, Dari kota sebagai kumpulan beton, Menjadi kota sebagai ekosistem kehidupan.

Dari mengejar pembangunan, menjadi membangun peradaban.

Dari mengejar kecerdasan buatan, menjadi memperkuat kecerdasan manusia.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak gedung yang berhasil kita bangun.

Sejarah akan mengingat apakah Jakarta berhasil melahirkan manusia yang lebih berempati, lebih berdaya, lebih beradab, dan lebih mampu hidup bersama dalam keberagaman.

Jika itu berhasil kita lakukan, maka ulang tahun ke-500 Jakarta bukan sekadar peringatan usia sebuah kota.

Namun, perayaan yang akan dikenang sebagai titik lahirnya sebuah peradaban urban baru, peradaban yang membuktikan bahwa kota masa depan tidak hanya harus cerdas, tetapi juga adil, tangguh, berkelanjutan, dan tetap manusiawi.

Simak juga Video Pramono: Banyak Orang Tanya kapan Jakut Dibangun, Padahal Sudah Banyak

(zap/imk)


Berita Terkait