Mengapa dunia, dengan segala sumber daya dan kecerdasan para pemimpinnya, seolah tak mampu keluar dari lingkaran setan perang? Pertanyaan itu mengemuka setiap kali kita menyaksikan konflik yang berkecamuk di pelbagai kawasan. Dunia tidak baik-baik saja.
Di tengah suramnya kabar tersebut, Piala Dunia 2026 digelar 11 Juni hingga 19 Juli di AS, Meksiko, dan Kanada. Apa yang bisa diupayakan dalam momentum ini? Sejauh mana sepak bola bisa berdampak pada pembangunan perdamaian?
Diplomasi Olahraga
Dalam teori hubungan internasional, paham realisme memandang negara sebagai aktor rasional yang berusaha memaksimalkan kekuasaan di arena yang menerapkan sistem anarkis tanpa otoritas sentral bernama dunia. Morgenthau menyebutnya sebagai animus dominandi, kecenderungan kodrati negara sebagai sekumpulan manusia untuk berkuasa. Jika demikian, apa gunanya sepak bola?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acap terdengar optimisme bahwa olahraga bisa menjadi jembatan perdamaian. Memang ada momen indah dalam sejarah. Tentara Inggris dan Jerman konon meletakkan senjata untuk bermain bola di malam Natal tahun 1914 saat Perang Dunia I. Pemain Iran memberi bunga kepada pemain AS di Piala Dunia 1998. Momen-momen itu mengingatkan kita pada kemanusiaan bersama yang melampaui batas negara.
Akan tetapi, wajib dipahami bahwa euforia stadion tidak otomatis mengubah kebijakan luar negeri. Bom tetap meledak. Tank tetap bergerak. Anak-anak tetap mati, bahkan ketika di belahan dunia lain jutaan orang bersorak untuk gol semata wayang.
Dom Helder Camara, pernah mengingatkan dunia akan rumusan sederhana namun mengerikan bernama spiral kekerasan. Ia melihat sejarah selalu berulang. Kekerasan lingkar pertama berupa ketidakadilan struktural dari negara kaya terhadap negara miskin, melahirkan kekerasan lingkar kedua, yaitu perlawanan spontan dari yang tertindas. Itulah yang memicu represi brutal negara, kadang dibungkus jargon 'perang melawan teror' sebagai kekerasan lingkar ketiga, dan berulang lagi secara spiral memicu lingkar kekerasan lainnya.
Pemimpin Agama dan Panggung Global
Sehari setelah terpilih kembali sebagai Presiden Real Madrid, Florentino Perez menerima Paus Leo XIV di Stadion Santiago Bernabeu. Paus yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost, sempat melontarkan candaan ringan, "Paus mendukung semua tim, tapi Prevost mendukung Real Madrid."
Di luar sorak-sorai itu, ada pesan lebih dalam. Paus menyerukan perlunya rekonsiliasi dan kolaborasi di tengah meningkatnya polarisasi global. Ia mengingatkan umat jangan tergoda untuk meraih popularitas dengan mengorbankan martabat manusia. Sebelumnya, dalam perjalanan menuju Spanyol, Paus juga memperbarui seruannya untuk perdamaian di Ukraina dan menyatakan keprihatinan terhadap situasi di Lebanon.
Pertanyaan yang segera muncul di benak penulis, bagaimana dengan pemimpin agama dari tradisi lain. Di tengah konflik yang melibatkan Timur Tengah, suara Grand Syekh Al-Azhar sebagai otoritas, yang pada taraf tertentu bisa dikatakan tertinggi, mayoritas umat Islam sangat dibutuhkan. Mesir, negara asal beliau, juga menjadi salah satu peserta Piala Dunia 2026.
Para pemimpin agama memiliki otoritas moral yang tidak dimiliki politisi. Dalam teori resolusi konflik, Johan Galtung membedakan antara perdamaian negatif, situasi sekadar ketiadaan perang, dan perdamaian positif, kehidupan berkeadilan sosial tanpa adanya kekerasan struktural dan kultural. Pemimpin agama bisa menyuarakan perdamaian positif yang menyentuh akar kemanusiaan, membuka ruang rekonsiliasi, dan menegaskan bahwa umat manusia harus bersatu menghentikan perang.
Sebagai praktisi rekonsiliasi, penulis telah menyaksikan bagaimana pertemuan interaktif pihak-pihak yang pernah bertikai dalam konflik, termasuk korban dan mantan pelaku kekerasan, mampu menciptakan perubahan kesadaran kolektif, bahkan di tengah luka terdalam sekalipun. Di tingkat global, potensi itu masih sangat minim direplikasi dan dimanfaatkan. Piala Dunia 2026 bisa menjadi arena untuk mengubahnya.
Menimbang Harapan
Naif bila dikatakan Piala Dunia atau sepak bola secara umum bisa menghentikan perang. Namun kita tidak boleh menyerah pada sinisme total. Momentum Piala Dunia 2026 bisa dimanfaatkan secara cerdas untuk membangun jembatan kecil kemanusiaan, saat jembatan besar perdamaian sulit didirikan.
Pertama, sebagai ruang diplomasi mikro, di mana para pemimpin agama dari berbagai tradisi dapat bertemu dan bersuara bersama di hadapan jutaan pasang mata. Pesan perdamaian mereka, tak bisa dibantah, menjadi pernyataan teologis-politik yang sangat kuat.
Kedua, sebagai pengingat akan kemanusiaan bersama. Di stadion, untuk sementara waktu, perbedaan paspor dan ideologi menjadi kabur. Yang tersisa hanyalah kegembiraan, kekecewaan, harapan, semuanya dalam bahasa tubuh yang sama. Momen itu, meski hanya 90 menit, berharga karena ia membuka ruang yang selama ini tertutup oleh retorika kebencian.
Ketiga, sebagai kesempatan belajar. Di Kolombia, UEFA Foundation mempertemukan 615 anak mantan kombatan FARC dengan anak warga setempat melalui sepak bola, dengan target 70% masyarakat menerima reintegrasi mantan pemberontak. Studi di Kenya menegaskan bahwa program olahraga efektif jika menjadi bagian dari strategi rekonsiliasi yang lebih luas, bukan berdiri sendiri. Di negeri kita, temuan Aliansi Indonesia Damai menunjukkan aktivitas fisik bersama antara penyintas dan mantan pelaku terorisme secara signifikan menguatkan jalinan rekonsiliasi yang telah terbangun pondasinya.
Karena pada akhirnya, perdamaian tidak lahir dari dentuman bom. Ia lahir dari keberanian untuk berinteraksi bersama, saling mendengar, dan mengakui bahwa di sisi lain rivalitas, ada manusia seperti kita. Piala Dunia 2026, dengan segala keterbatasannya, menyediakan panggung untuk keberanian itu.
Muhammad Laila Maghfurrodhi. Peneliti di Aliansi Indonesia Damai (AIDA).











































