Pak Prabowo dan saya pertama kali mengenal Bu Nanik menjelang Pemilu 2014, sekitar 13 tahun yang lalu. Waktu itu, di sebuah sore yang cerah, kami mampir ke kantor redaksi The Politics di kawasan Menteng. Bu Nanik adalah pemimpin redaksinya.
Perkenalan itu dimulai dengan beberapa cangkir kopi. Ada kopi yang disiapkan Bu Nanik. Ada juga kopi yang dibawa sendiri oleh Pak Prabowo dalam sebuah termos. Kopi yang sekarang dikenal banyak orang sebagai Kopi Hambalang.
Pertemuan yang tadinya dijadwalkan singkat menjadi berjam-jam. Bu Nanik punya semacam magis yang sulit dijelaskan. Entah bagaimana, ia selalu mampu mengeluarkan versi terbaik dari orang yang diajaknya berbicara.
Hari itu, yang keluar adalah versi terbaik Prabowo Subianto.
Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah wawancara on the record di DPP Gerindra yang sampai hari ini, menurut saya, masih menjadi salah satu wawancara terbaik Pak Prabowo.
Ketika saya menontonnya kembali pagi ini, saya merinding. Hampir semua yang dibahas dalam wawancara itu sekarang terbukti seiring perjalanan waktu. Banyak cita-cita yang saat itu terdengar jauh, hari ini telah menjadi kenyataan.
Namun kontribusi Bu Nanik di perjalanan Pak Prabowo jauh melampaui urusan media. Bu Nanik adalah seorang penggerak. Ia tidak bisa diam ketika berhadapan dengan ketidakadilan. Ia tidak bisa berpaling ketika melihat kesulitan.
Salah satu yang mengungkap kepada Pak Prabowo kasus Wilfrida Soik adalah Bu Nanik. Seorang pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur yang terancam hukuman mati di Malaysia. Setelah mendengar cerita itu, Pak Prabowo bergerak mencari dan membiayai tim pengacara terbaik untuk membela Wilfrida.
Bu Nanik juga yang mengusulkan perakitan dan pembagian becak listrik untuk para pengayuh becak lanjut usia. Ide sederhana, tetapi lahir dari empati yang mendalam: bagaimana orang-orang yang telah bekerja keras sepanjang hidupnya bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik dan hidup yang lebih bermartabat.
Ketika kemudian ia dipercaya oleh Presiden Prabowo jadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, karakter itu tidak berubah. Alih-alih duduk nyaman di belakang meja, Bu Nanik justru menggagas "Sidak BGN" ke dapur-dapur Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.
Karena bagi Bu Nanik, sebaik-baiknya gagasan adalah gagasan yang benar-benar terlaksana dengan baik. Karena angka di laporan bisa terlihat sempurna. Tetapi kualitas makanan anak-anak Indonesia hanya bisa dipastikan dengan melihat langsung ke lapangan.
Karena itulah ia datang sendiri. Memeriksa dapur. Mengecek kebersihan. Berbicara dengan petugas. Mendengar keluhan. Mencari solusi.
Lalu kembali berangkat ke tempat berikutnya.
Namun dari semua hal yang saya ingat tentang Bu Nanik, ada satu hal yang paling membekas dalam pikiran saya.
Bukan jabatannya. Bukan penghargaan yang diterimanya. Bukan pula kedekatannya dengan tokoh-tokoh besar bangsa.
Yang paling saya ingat adalah sepatu ketsnya. Sepatu kets sederhana yang selalu menemaninya bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Sepatu kets untuk turun ke dapur. Sepatu kets untuk meninjau sekolah. Sepatu kets untuk memastikan bahwa program yang dirancang dengan baik benar-benar sampai kepada rakyat dengan baik.
Dan mungkin, sepanjang yang saya tahu, Bu Nanik adalah salah satu sedikit orang di Republik ini yang pernah menerima penghargaan dari Presiden Republik Indonesia di Istana Negara sambil mengenakan sepatu kets.
Ceritanya sederhana
Beliau sedang bekerja di Solo ketika mendadak mendapat panggilan ke Jakarta untuk menerima penghargaan di Istana. "3 jam lagi sudah harus di Istana" sebut protokol.
Tidak ada persiapan. Batik dibeli terburu-buru di bandara. Sepatunya tidak sempat berganti. Sepatu kets yang sama. Sepatu kets yang sebelumnya dipakai untuk sidak. Sepatu kets yang dipakai berjalan dari dapur ke dapur. Sepatu kets yang dipakai memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan makanan yang bergizi, higienis, dan layak.
Di tengah ruangan megah Istana Negara, di bawah lampu kristal dan di hadapan para pejabat tinggi negara, sepatu kets itu tetap menempel di kakinya. Dan bagi saya, justru di situlah letak keistimewaannya.
Karena kadang-kadang, tanda kehormatan terbesar bukanlah medali yang disematkan di dada. Melainkan jejak langkah yang tertinggal di lapangan.
Selasa (2/6/2026) malam, saat Bu Nanik Deyang dipercaya menjadi Kepala Badan Gizi Nasional, saya teringat kembali sepatu kets itu. Sebuah pengingat bahwa jabatan boleh berubah. Ruang kerja boleh berpindah.
Tetapi Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin perempuan hebat yang bersedia turun ke lapangan, dan memastikan pekerjaan benar-benar selesai.
Dan jika suatu hari nanti Anda melihat Bu Nanik berjalan cepat dengan sepatu ketsnya, jangan heran. Karena besar kemungkinan beliau sedang melakukan apa yang selalu dilakukannya selama ini: Bekerja. Bekerja. Dan bekerja.
Untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapat masa depan yang lebih baik.
Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.
Tonton juga Video: Potret Jokowi Beli Sepatu Kets Corak Tenun di Bali
(eva/eva)











































