Kurban: Ketika Kehendak Tuhan Didahulukan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Kurban: Ketika Kehendak Tuhan Didahulukan

Rabu, 27 Mei 2026 14:20 WIB
Wahyuddin Luthfi Abdullah
Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi Idul Adha 2026
Foto: Ilustrasi hewan kurban (Moaz Tobok/Pexels)
Jakarta -

Di tengah dunia yang semakin menempatkan manusia sebagai ukuran segala sesuatu, Iduladha menghadirkan pesan yang berbeda. Melalui ibadah kurban, Islam mengajarkan bahwa tidak semua hal harus tunduk pada keinginan manusia. Ada nilai-nilai yang justru menuntut manusia untuk tunduk kepada Tuhannya.

Karena itu, kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan dan pembagian daging. Di baliknya tersimpan pelajaran tentang totalitas dalam beribadah, ketundukan kepada perintah Allah, rasa syukur atas nikmat-Nya, serta kepedulian terhadap sesama. Pelajaran-pelajaran tersebut telah diwariskan sejak awal sejarah para nabi.

Kisah pertama dapat ditemukan pada dua putra Nabi Adam. Al-Qur'an mengisahkan bahwa keduanya sama-sama mempersembahkan kurban kepada Allah, tetapi hanya satu yang diterima. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa salah seorang mempersembahkan hasil terbaik yang dimilikinya, sedangkan yang lain hanya memberikan apa yang tidak bernilai di matanya. Ia berkurban sekadar memenuhi tuntutan lahiriah, bukan sebagai bentuk penghambaan yang sungguh-sungguh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari kisah ini tampak bahwa kurban menuntut kesungguhan dan totalitas. Apa yang dipersembahkan kepada Allah seharusnya merupakan sesuatu yang bernilai dan dicintai oleh pemiliknya, bukan sekadar sisa yang tidak lagi diinginkan.

Karena itu, ketika Al-Qur'an menegaskan bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa (QS Al-Ma'idah: 27), ketakwaan tersebut tercermin dalam kesediaan seorang hamba memberikan yang terbaik dan mengutamakan ridha Allah di atas kepentingan dirinya sendiri.

Pelajaran berikutnya tampak lebih dahsyat dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Di sinilah kurban mencapai makna tertingginya: pengorbanan terhadap sesuatu yang paling dicintai.

Yang diuji dari Ibrahim bukan sekadar keberanian menyembelih, melainkan kemampuan menempatkan cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Dan yang lebih luar biasa, Ismail pun menunjukkan ketundukan yang sama. Tidak ada penolakan, tidak ada tawar-menawar, dan tidak ada upaya mencari jalan tengah atas perintah Allah.

Di sinilah letak salah satu pesan terbesar dari ibadah kurban. Ketaatan sejati tidak diuji ketika perintah Allah sejalan dengan keinginan manusia, melainkan ketika seorang hamba harus memilih antara kehendak dirinya dan kehendak Tuhannya. Ketundukan yang sesungguhnya adalah tetap taat meskipun harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai.

Pelajaran ini terasa relevan di tengah kehidupan modern. Tidak jarang agama dipahami sejauh ia sejalan dengan preferensi pribadi. Ketika sebuah ajaran terasa nyaman, ia diterima. Namun ketika menuntut pengorbanan atau meganggu kepentingan, sering kali muncul keinginan untuk menyesuaikannya dengan selera zaman. Kurban mengingatkan bahwa tidak semua nilai harus tunduk pada kehendak manusia.

Ada saat ketika manusialah yang dituntut untuk tunduk kepada kehendak yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Makna kurban kemudian mencapai bentuk yang paling utuh dalam syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad īˇē. Jika kisah dua putra Adam mengajarkan totalitas persembahan dan kisah Ibrahim mengajarkan ketundukan serta pengorbanan, maka syariat kurban dalam Islam menghimpun seluruh nilai tersebut sekaligus menghubungkannya dengan rasa syukur dan kepedulian sosial.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah menundukkan hewan-hewan ternak untuk kemaslahatan manusia dan memerintahkan manusia menyebut nama-Nya atas rezeki yang telah diberikan kepada mereka (QS Al-Hajj: 34). Dengan demikian, kurban merupakan bentuk pengakuan bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.

Hewan yang dikurbankan, harta yang digunakan untuk membelinya, bahkan kemampuan untuk beribadah, semuanya merupakan karunia yang diberikan oleh-Nya.

Karena itu, kurban pada hakikatnya adalah ekspresi syukur. Melalui ibadah ini, seorang muslim mengakui bahwa dirinya hanyalah penerima nikmat, sementara Allah adalah Pemilik dan Pemberi segala karunia. Kesadaran inilah yang tercermin dalam doa yang dibaca Nabi īˇē ketika menyembelih hewan kurban, "Allahumma hadza minka wa laka" (Ya Allah, ini berasal dari-Mu dan untuk-Mu). Hewan yang dikurbankan berasal dari Allah, rezeki untuk membelinya berasal dari Allah, dan ibadah itu pun dilakukan demi mengharap ridha Allah.

Namun syariat kurban tidak berhenti pada dimensi individual. Daging hewan yang disembelih dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan terutama mereka yang membutuhkan. Di sinilah tampak keindahan syariat kurban. Ketakwaan tidak berhenti sebagai pengalaman spiritual yang bersifat pribadi, tetapi menjelma menjadi kepedulian yang nyata. Kebahagiaan Iduladha tidak dimonopoli oleh mereka yang mampu berkurban, tetapi dirasakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.

Lebih dari itu, kurban mengajarkan bahwa harta bukanlah tujuan hidup, melainkan sarana untuk meraih ridha Allah. Ia menjadi latihan tahunan untuk membebaskan manusia dari keterikatan yang berlebihan terhadap materi dan menumbuhkan kepekaan terhadap sesama.

Pada akhirnya, yang paling sulit dari ibadah kurban bukan membeli hewannya atau melaksanakan penyembelihannya. Yang paling sulit adalah menyembelih ego dalam diri: ego yang enggan memberikan yang terbaik, ego yang hanya mau taat ketika syariat sesuai dengan keinginannya, dan ego yang berat berbagi nikmat dengan orang lain.

Karena itu tidak mengherankan jika Al-Qur'an menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan orang yang melaksanakannya (QS Al-Hajj: 37). Dagingnya boleh habis dibagikan dan disantap, tetapi nilai penghambaan, rasa syukur, dan kepedulian sosial yang lahir dari ibadah itu seharusnya tetap hidup jauh setelah hari raya berakhir.

Wahyuddin Luthfi Abdullah. Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.

Simak juga Video 'Saat Warga Foto Bareng Sapi Kurban Prabowo-Gibran':

(rdp/imk)


Berita Terkait