Merawat Harapan Ekonomi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Merawat Harapan Ekonomi

Selasa, 12 Mei 2026 09:55 WIB
Subhan Akbar Saidi
Dosen di Universitas Jakarta Fakultas Ilmu Adminstrasi Niaga.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Businesswoman use laptop and calculator analyzing company growth, future business growth arrow graph, development to achieve goals, business outlook, financial data for long term investment.
Foto: Ilustrasi ekonomi (Getty Images/Prae_Studio)
Jakarta -

Tiap cahaya (yang menyala redup sekalipun) tetap berkah saat gulita menyergap. Perasaan itulah yang paling tepat menggambarkan situasi ekonomi Indonesia hari ini. Di saat kecemasan global memenuhi ruang pikiran akibat perlambatan ekonomi dunia, perang geopolitik, krisis energi, hingga ketidakpastian pasar internasional, Indonesia justru menunjukkan performa yang melampaui banyak perkiraan lembaga ekonomi dunia.

Melalui rilis terbaru Badan Pusat Statistik (April 2026), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I tahun 2026 tercatat mencapai 5,61 persen. Angka ini bukan sekadar statistik rutin, melainkan penanda penting bahwa ekonomi nasional masih memiliki daya tahan di tengah badai global yang belum benar-benar reda.

Bahkan, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kelompok G20.

Jika dibandingkan dengan sejumlah negara besar lain, posisi Indonesia tampak semakin menonjol. Data Bank Indonesia (yoy) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang sebelumnya hanya 0,3 persen pada kuartal I 2025 memang naik menjadi 2,0 persen pada kuartal I 2026, namun masih bergerak lambat. China pun mengalami stagnasi, hanya naik tipis dari 1,2 persen menjadi 1,3 persen.

Korea Selatan bergerak dari nol persen menuju 1,7 persen, sementara Arab Saudi justru mengalami perlambatan dari 3,4 persen menjadi 2,8 persen. Singapura memang mencatat pertumbuhan yang cukup baik, tetapi masih berada di bawah capaian Indonesia.

Capaian 5,61 persen ini bahkan menjadi pertumbuhan tertinggi Indonesia sejak tahun 2022. Di tengah kondisi dunia yang rapuh, angka tersebut layak dibaca sebagai pantulan dari kerja keras, konsistensi kebijakan, serta kemampuan negara menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ketika banyak negara kesulitan mempertahankan momentum pertumbuhan, Indonesia justru mampu menjaga optimisme agar tetap menyala.

Namun demikian, optimisme ini tidak boleh berubah menjadi euforia yang berlebihan. Cahaya ekonomi Indonesia masih ibarat obor kecil yang menyala di tengah gelapnya ketidakpastian tetapi belum sepenuhnya terang.

Ancaman perlambatan perdagangan dunia, fluktuasi harga komoditas, tekanan geopolitik, hingga risiko fiskal masih terus mengintai. Sedikit saja kelengahan dalam mengelola kebijakan ekonomi, maka posisi yang saat ini terlihat kuat dapat dengan cepat mengalami pelemahan.

Karena itu, capaian ini seharusnya tidak hanya dirayakan sebagai keberhasilan statistik, tetapi juga dijadikan momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang bukan hanya tinggi di atas kertas, melainkan juga kuat, inklusif, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi bukan semata angka pertumbuhan, melainkan sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menghadirkan rasa aman, pekerjaan, dan harapan hidup yang lebih baik bagi rakyat.

Sumber Kekuatan

Jika dicermati lebih dalam, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia bukanlah peristiwa yang lahir secara kebetulan. Di balik angka 5,61 persen itu, terdapat fondasi-fondasi kekuatan yang perlahan sedang dibangun untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Sekurangnya, terdapat empat sumber utama yang menopang daya tahan ekonomi Indonesia hari ini: postur alokasi fiskal yang semakin solid, stabilitas harga yang relatif terjaga, rintisan kemandirian ekonomi melalui hilirisasi, serta arah pemerataan ekonomi yang mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan.

Dalam aspek fiskal, pemerintah sedang melakukan reposisi besar terhadap arah pembangunan nasional. Politik anggaran tidak lagi semata berorientasi pada pertumbuhan makro, tetapi mulai diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial, pangan, dan keamanan nasional.

Pergeseran ini tampak melalui konsentrasi anggaran pada sejumlah program prioritas strategis. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, menyerap ruang fiskal yang sangat besar mencapai Rp335 triliun. Besarnya alokasi tersebut menunjukkan adanya perubahan paradigma pembangunan yang lebih menekankan investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

Selain itu, pemerintah juga memperkuat sektor pertahanan dan keamanan dengan alokasi anggaran sebesar Rp185 triliun. Dalam situasi geopolitik global yang semakin tidak stabil, penguatan sektor ini menjadi penting untuk menjaga stabilitas nasional dan kepastian investasi. Pada saat yang sama, perlindungan sosial juga mengalami peningkatan signifikan.

Anggaran bansos yang sebelumnya sebesar Rp 468,1 triliun naik 8,6 persen menjadi Rp508,2 triliun. Sementara itu, sektor ketahanan pangan memperoleh alokasi sekitar Rp164,4 triliun atau meningkat 18 persen dibandingkan APBN tahun sebelumnya.

Di balik risiko perubahan fiskal tersebut, sesungguhnya sedang tumbuh mosaik baru kebijakan ekonomi Indonesia: negara berupaya hadir lebih aktif dalam menghadapi kerentanan sosial-ekonomi global. Anggaran tidak hanya diposisikan sebagai instrumen administrasi keuangan, tetapi juga sebagai alat untuk menjaga daya tahan masyarakat di tengah ancaman krisis pangan, energi, dan perlambatan ekonomi dunia.

Di sisi lain, stabilitas harga yang relatif terkendali turut menjadi penyangga penting ekonomi nasional. Inflasi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 2,42 persen (year-on-year), lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,48 persen.

Penurunan ini menunjukkan bahwa pemerintah masih mampu menjaga keseimbangan harga di tengah tekanan global yang fluktuatif. Meredanya inflasi juga dipengaruhi oleh berakhirnya dampak low base effect tarif listrik yang sebelumnya mendorong kenaikan harga pada awal tahun.

Walaupun demikian, pemerintah tetap perlu berhati-hati. Sebagian besar inflasi masih didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan tingkat inflasi mencapai 3,065 persen. Artinya, sektor kebutuhan dasar masyarakat masih sangat rentan terhadap gejolak distribusi, cuaca, maupun perubahan harga komoditas global. Stabilitas yang tercipta hari ini belum sepenuhnya permanen.

Sementara itu, upaya membangun kemandirian ekonomi nasional mulai menemukan bentuk yang lebih nyata melalui agenda hilirisasi industri. Pemerintah terus mendorong transformasi ekonomi dari model ekspor bahan mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.

Langkah terbaru terlihat melalui groundbreaking hilirisasi tahap II dengan nilai investasi mencapai Rp 116 triliun di berbagai sektor strategis. Agenda ini bukan hanya soal investasi, tetapi juga tentang membangun struktur ekonomi nasional yang lebih berdaulat dan tidak mudah terguncang oleh dinamika pasar global.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya memperbesar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut dapat dirasakan secara merata. Karena itu, penguatan collaborative working berbasis komunitas dan wilayah lokal menjadi penting agar pembangunan tidak terpusat pada kelompok atau daerah tertentu saja.

Pemerataan ekonomi harus diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pekerjaan, modal, pendidikan, dan peluang usaha.

Pada akhirnya, seluruh kebijakan tersebut bermuara pada satu tujuan besar: menghadirkan keadilan sosial yang nyata. Ketika kelompok rentan mulai memiliki daya bertahan, kelompok miskin perlahan naik kelas, dan investasi inklusif semakin berkembang, maka pertumbuhan ekonomi tidak lagi menjadi milik segelintir orang.

Di titik itulah kesejahteraan dapat benar-benar merangkul seluruh lapisan masyarakat, dan Indonesia tidak hanya tumbuh sebagai negara besar, tetapi juga sebagai bangsa yang kuat, adil, dan berdaulat secara ekonomi.

Menjaga Asa Ekonomi

Deskripsi di atas boleh bagus, Namun, kekuatan ekonomi Indonesia tidak boleh ya dibaca melalui angka-angka statistik semata. Pertumbuhan yang tinggi akan kehilangan makna apabila tidak mampu menciptakan rasa aman sosial bagi masyarakat.

Karena itu, tantangan terbesar Indonesia ke depan bukan sekadar mempertahankan laju pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut memiliki daya tahan, daya sebar, dan daya angkat terhadap kelompok masyarakat paling rentan. Dalam konteks inilah, negara dituntut tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga sebagai penggerak utama transformasi ekonomi nasional.

Di tengah fragmentasi ekonomi global, perang dagang, gejolak geopolitik, hingga ancaman krisis pangan dan energi, Indonesia relatif mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan ekspansi ekonomi. Situasi ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik mulai bergerak menuju struktur yang lebih resilien.

Konsumsi rumah tangga tetap terjaga, investasi mulai tumbuh lebih agresif, sementara sektor hilirisasi perlahan menciptakan rantai nilai tambah yang sebelumnya hilang akibat ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Meski demikian, ruang optimisme tersebut tetap harus dibarengi dengan kehati-hatian. Ketimpangan pembangunan antarwilayah, ketergantungan terhadap komoditas tertentu, serta ancaman perlambatan ekonomi global dapat sewaktu-waktu menggerus momentum pertumbuhan.

Oleh sebab itu, penguatan kapasitas industri nasional, pembangunan sumber daya manusia, dan konsistensi reformasi birokrasi menjadi syarat penting agar Indonesia tidak hanya tumbuh dalam jangka pendek, tetapi juga mampu melompat menjadi negara dengan ekonomi yang berdaulat dan berkeadilan.

Lebih jauh, agenda pemerataan harus dipahami bukan sekadar distribusi bantuan sosial, melainkan proses memperluas akses masyarakat terhadap pendidikan, pekerjaan layak, teknologi, dan modal usaha.

Ketika akses tersebut terbuka secara merata, maka pertumbuhan ekonomi tidak lagi terkonsentrasi pada kelompok tertentu, melainkan menjadi energi kolektif yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat. Di titik itulah, pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga menghadirkan martabat sosial dan harapan baru bagi rakyat.

Subhan Akbar Saidi. Dosen di Universitas Jakarta Fakultas Ilmu Adminstrasi Niaga. Ia juga penulis beberapa buku ekonomi yang telah terbit.

Tonton juga video "Pramono: Kontribusi Jakarta untuk GDP 16,67%"
(rdp/imk)


Berita Terkait